Heboh Wacana Tarif Kapal Selat Malaka: Malaysia Protes Keras, Menlu Sugiono Beri Klarifikasi Tegas

- Jurnalis

Jumat, 24 April 2026 - 06:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan menegaskan bahwa tidak ada negara yang bisa mengambil keputusan sepihak terkait Selat Malaka. [Istimewa]

Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan menegaskan bahwa tidak ada negara yang bisa mengambil keputusan sepihak terkait Selat Malaka. [Istimewa]

1TULAH.COM-Dunia maritim internasional tengah dikejutkan dengan munculnya wacana penarikan tarif bagi kapal internasional yang melintasi Selat Malaka. Gagasan yang sebelumnya dilemparkan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, tersebut langsung memicu reaksi berantai dari negara-negara tetangga, terutama Malaysia dan Singapura.

Selat Malaka, sebagai salah satu urat nadi perdagangan dunia, kini menjadi pusat perhatian diplomatik menyusul kekhawatiran akan terganggunya prinsip kebebasan navigasi.

Malaysia: Tidak Bisa Ambil Keputusan Sepihak

Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, bereaksi keras terhadap wacana tersebut. Dalam forum di Kuala Lumpur, ia menegaskan bahwa status Selat Malaka dikelola secara bersama dan tidak tunduk pada kebijakan satu negara saja.

“Segala sesuatu yang dilakukan di Selat Malaka harus melibatkan empat negara: Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Tidak bisa dilakukan secara sepihak,” tegas Mohamad Hasan sebagaimana dikutip dari The Straits Times.

Keempat negara tersebut selama ini memiliki kesepahaman yang kuat untuk menjaga status jalur tersebut sebagai perairan internasional yang netral dan aman.

Baca Juga :  Tekan Kekerasan dan Perundungan di Sekolah, Kemendikdasmen Rilis Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026

Singapura Ingatkan Hak Navigasi Internasional

Senada dengan Malaysia, Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, turut menekankan pentingnya menjaga jalur pelayaran tetap terbuka tanpa hambatan finansial tambahan. Menurutnya, hak melintas di selat strategis tersebut adalah aturan baku dunia maritim.

“Ini bukan hak istimewa, melainkan hak semua kapal untuk melintas tanpa harus membayar tol,” ujar Vivian secara terpisah.

Menlu Sugiono Tegaskan Posisi Indonesia: Taat Hukum Laut PBB

Menanggapi ketegangan diplomatik yang mulai memanas, Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, langsung angkat bicara untuk mendinginkan situasi. Ia menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tetap berkomitmen pada hukum internasional, khususnya UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea).

Berikut adalah poin-poin penting yang ditegaskan Menlu Sugiono:

  • Bertentangan dengan UNCLOS: Kebijakan penarikan tarif dinilai tidak sejalan dengan Konvensi Hukum Laut PBB yang menjamin kebebasan navigasi tanpa hambatan.

  • Jaminan Lintas Bebas: Sebagai negara kepulauan, Indonesia tetap menjamin hak lintas bebas bagi setiap kapal internasional yang melintas secara damai.

  • Status Netral: Indonesia berharap jalur pelayaran tersibuk ini tetap terbuka, netral, dan saling mendukung demi stabilitas ekonomi global.

Baca Juga :  Gagalkan Penyelundupan 1,6 Ton Ketamin dari Malaysia, Sufmi Dasco Apresiasi Kerja Cepat Polri dan BNN

“Indonesia tidak berada dalam posisi untuk melakukan itu (menarik tarif),” pungkas Sugiono secara lugas.

Signifikansi Strategis Selat Malaka bagi Dunia

Kekhawatiran negara tetangga bukan tanpa alasan. Selat Malaka merupakan jalur pelayaran tersibuk di dunia dengan angka lalu lintas yang fantastis:

  1. Volume Kapal: Lebih dari 200 kapal melintas setiap hari.

  2. Statistik Tahunan: Mencapai lebih dari 90.000 kapal per tahun.

  3. Beban Perdagangan: Mengangkut sekitar 25% (seperempat) perdagangan global.

  4. Perbandingan: Jalur ini memiliki kepadatan dua kali lipat dibandingkan Selat Hormuz di Timur Tengah.

Penarikan tarif secara sepihak dianggap berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memicu kenaikan biaya logistik dunia, yang pada akhirnya dapat merugikan banyak negara. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

SE Mendagri Nomor 400.5/8545/SJ: Pemda Wajib Awasi Dapur Gizi di Daerah!
Momen Hangat Hari Sumpah Pemuda: Presiden Prabowo Pimpin Pembacaan Ikrar Bersama Siswa SD Didampingi Titiek Soeharto
Ancaman Pemotongan Internet Singapura Dijawab Santai Menkomdigi Meutya Hafid: Siapa yang Sebenarnya Rugi?
Kantor Bea Cukai Kudus Digeledah KPK, Puluhan Petugas Turun Langsung
Satu Korporasi Jadi Tersangka dalam Penanganan 30 Laporan Karhutla di Kalsel
Gantikan Dr. Ita Minarni, Muhammad Taufiq Resmi Jabat Plt Kadis PUPR Barito Selatan
Survei Voxpol Center: 90,1 Persen Masyarakat Indonesia Setuju Koruptor Dihukum Mati
Usulan Harta Pejabat Tak Terlapor LHKPN Dirampas Negara: Langkah Tegas atau Melanggar Hukum?
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:47 WIB

SE Mendagri Nomor 400.5/8545/SJ: Pemda Wajib Awasi Dapur Gizi di Daerah!

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:11 WIB

Momen Hangat Hari Sumpah Pemuda: Presiden Prabowo Pimpin Pembacaan Ikrar Bersama Siswa SD Didampingi Titiek Soeharto

Kamis, 29 Oktober 2026 - 07:48 WIB

Ancaman Pemotongan Internet Singapura Dijawab Santai Menkomdigi Meutya Hafid: Siapa yang Sebenarnya Rugi?

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:15 WIB

Kantor Bea Cukai Kudus Digeledah KPK, Puluhan Petugas Turun Langsung

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:14 WIB

Satu Korporasi Jadi Tersangka dalam Penanganan 30 Laporan Karhutla di Kalsel

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Gantikan Dr. Ita Minarni, Muhammad Taufiq Resmi Jabat Plt Kadis PUPR Barito Selatan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:39 WIB

Survei Voxpol Center: 90,1 Persen Masyarakat Indonesia Setuju Koruptor Dihukum Mati

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:26 WIB

Usulan Harta Pejabat Tak Terlapor LHKPN Dirampas Negara: Langkah Tegas atau Melanggar Hukum?

Berita Terbaru