Putus Rantai Mahar Politik, KPK Usul Sediakan Batas Jabatan Ketua Umum Partai

- Jurnalis

Kamis, 23 April 2026 - 16:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi KPK. (KPK)

Ilustrasi KPK. (KPK)

1TULAH.COM-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Direktorat Monitoring resmi merilis kajian mendalam terkait tata kelola partai politik (parpol) di Indonesia. Salah satu poin paling krusial dalam rekomendasi tersebut adalah usulan pembatasan masa jabatan ketua umum parpol dengan batas maksimal dua periode kepengurusan.

Langkah ini dirancang sebagai solusi konkret untuk memperbaiki iklim demokrasi internal partai yang selama ini dianggap rentan terhadap penyimpangan dan dominasi kekuasaan absolut.

Melibatkan Internal Partai: Bukan Sekadar Usulan Sepihak

Dalam merumuskan draf ini, KPK menegaskan bahwa proses kajian tidak dilakukan secara tertutup. Lembaga antirasuah tersebut aktif menjalin dialog dan diskusi panjang dengan berbagai elemen, termasuk para pelaku politik dari internal partai itu sendiri.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menjelaskan bahwa keterlibatan parpol sangat penting untuk memastikan data yang dikumpulkan bersifat objektif dan relevan dengan realitas di lapangan.

“Dalam proses kajian ini, KPK sudah melibatkan partai politik untuk mendapatkan pandangan dan fakta secara objektif dari kawan-kawan di sana,” ujar Budi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Baca Juga :  BNPB: 17.942 Hektare Lahan Karhutla Belum Padam, Kalimantan Tengah Jadi Prioritas Utama

Aspirasi ini juga datang dari para kader partai yang menginginkan adanya perbaikan sistemik agar organisasi mereka menjadi lebih sehat dan kompetitif secara internal.

Memutus Rantai Korupsi dan Biaya Politik Tinggi

Berdasarkan data yang dihimpun, KPK menemukan korelasi kuat antara masa jabatan pemimpin yang tidak dibatasi dengan mandeknya regenerasi kepemimpinan. Kondisi ini menciptakan dampak domino yang merugikan sistem politik nasional:

  1. Hambatan Kaderisasi: Tanpa adanya sirkulasi kepemimpinan, kader potensial sulit untuk berkembang dan menduduki posisi strategis.

  2. Mahar Politik: Regenerasi yang mampet memicu munculnya “biaya masuk” atau mahar politik yang tinggi bagi individu yang ingin maju dalam kontestasi pemilu.

  3. Akar Tindak Pidana Korupsi: Biaya politik yang tidak wajar memaksa politisi mencari cara instan untuk mengembalikan modal, yang seringkali berujung pada praktik korupsi.

KPK memandang bahwa pembatasan dua periode adalah “kunci” untuk membuka sumbatan regenerasi tersebut. Dengan sirkulasi pimpinan yang rutin, partai diharapkan melahirkan pemimpin baru yang berintegritas tanpa terbebani biaya politik yang mencekik.

Baca Juga :  DPD PAN Mura ‘Serbu’ CFD Puruk Cahu, Warga Rebutan Masker dan Vitamin C Gratis

Dari Kajian Menjadi Tindakan Nyata

KPK tidak ingin hasil kajian ini hanya menjadi tumpukan dokumen di atas meja. Sebagai bagian dari fungsi monitoring, hasil evaluasi ini akan disampaikan secara resmi kepada seluruh pimpinan partai politik di Indonesia.

Budi Prasetyo menganalogikan hasil kajian ini sebagai “resep” medis yang harus segera ditebus dan dikonsumsi oleh pasien—dalam hal ini partai politik—agar pulih dari sistem yang korup.

“Tanggung jawab KPK adalah menyampaikan kajian ini kepada pemangku kepentingan. Kami ingin resep ini ditindaklanjuti agar kita bisa memitigasi serta melakukan pencegahan korupsi yang lebih konkret di masa mendatang,” tegasnya.

Partai politik adalah pilar utama demokrasi. Dengan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan sistem regenerasi yang sehat, parpol akan mampu menjalankan fungsinya sebagai pabrik pemimpin bangsa yang berkualitas. Usulan KPK ini menjadi ujian bagi partai politik di Indonesia: sejauh mana mereka berkomitmen pada reformasi internal demi kepentingan publik yang lebih luas? (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

SE Mendagri Nomor 400.5/8545/SJ: Pemda Wajib Awasi Dapur Gizi di Daerah!
Momen Hangat Hari Sumpah Pemuda: Presiden Prabowo Pimpin Pembacaan Ikrar Bersama Siswa SD Didampingi Titiek Soeharto
Ancaman Pemotongan Internet Singapura Dijawab Santai Menkomdigi Meutya Hafid: Siapa yang Sebenarnya Rugi?
Kantor Bea Cukai Kudus Digeledah KPK, Puluhan Petugas Turun Langsung
Satu Korporasi Jadi Tersangka dalam Penanganan 30 Laporan Karhutla di Kalsel
Gantikan Dr. Ita Minarni, Muhammad Taufiq Resmi Jabat Plt Kadis PUPR Barito Selatan
Survei Voxpol Center: 90,1 Persen Masyarakat Indonesia Setuju Koruptor Dihukum Mati
Usulan Harta Pejabat Tak Terlapor LHKPN Dirampas Negara: Langkah Tegas atau Melanggar Hukum?
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:47 WIB

SE Mendagri Nomor 400.5/8545/SJ: Pemda Wajib Awasi Dapur Gizi di Daerah!

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:11 WIB

Momen Hangat Hari Sumpah Pemuda: Presiden Prabowo Pimpin Pembacaan Ikrar Bersama Siswa SD Didampingi Titiek Soeharto

Kamis, 29 Oktober 2026 - 07:48 WIB

Ancaman Pemotongan Internet Singapura Dijawab Santai Menkomdigi Meutya Hafid: Siapa yang Sebenarnya Rugi?

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:15 WIB

Kantor Bea Cukai Kudus Digeledah KPK, Puluhan Petugas Turun Langsung

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:14 WIB

Satu Korporasi Jadi Tersangka dalam Penanganan 30 Laporan Karhutla di Kalsel

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Gantikan Dr. Ita Minarni, Muhammad Taufiq Resmi Jabat Plt Kadis PUPR Barito Selatan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:39 WIB

Survei Voxpol Center: 90,1 Persen Masyarakat Indonesia Setuju Koruptor Dihukum Mati

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:26 WIB

Usulan Harta Pejabat Tak Terlapor LHKPN Dirampas Negara: Langkah Tegas atau Melanggar Hukum?

Berita Terbaru