1TULAH.COM-Pertumbuhan kredit perbankan nasional masih menghadapi tantangan meski arah kebijakan moneter mulai melonggar.
Bank Indonesia (BI) baru-baru ini membeberkan sejumlah faktor yang menyebabkan transmisi penurunan suku bunga ke sektor riil belum berjalan maksimal. Salah satu sorotan utamanya adalah pemberian special rate atau bunga spesial bagi para deposan besar.
Suku Bunga Kredit Baru Sudah Turun 88 Bps
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa Bank Indonesia sebenarnya telah mengambil langkah proaktif dengan menurunkan suku bunga acuan sejak September 2024. Upaya ini mulai membuahkan hasil pada sisi bunga kredit baru (lending rate).
“Kita lihat memang lending rate belakangan untuk kredit baru sudah turun lumayan, sebesar 88 basis poin (bps). Ini artinya perbankan sebenarnya sudah mulai siap dan memiliki lending appetite yang tinggi,” ujar Destry dalam peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan No. 46, Minggu (1/3/2026).
Meskipun minat bank untuk menyalurkan kredit meningkat, penurunan suku bunga secara keseluruhan masih terganjal oleh struktur biaya dana (cost of fund) di internal perbankan sendiri.
Hambatan Utama: ‘Special Rate’ untuk Deposan Besar
BI mengidentifikasi bahwa salah satu penyebab utama suku bunga kredit sulit turun lebih dalam adalah kebijakan perbankan yang masih memberikan suku bunga tinggi atau special rate kepada nasabah kakap (deposan besar).
Kondisi ini menciptakan dilema; di satu sisi bank ingin menurunkan bunga kredit, namun di sisi lain mereka harus membayar bunga simpanan yang mahal untuk menjaga likuiditas dari nasabah besar. Destry meminta perbankan untuk segera menyesuaikan special rate tersebut agar transmisi kebijakan moneter dapat berjalan efektif ke masyarakat luas.
Strategi BI: Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM)
Untuk mempercepat penyaluran dana ke sektor riil, Bank Indonesia memperkuat kebijakan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Melalui instrumen ini, BI memberikan ‘hadiah’ bagi bank yang patuh.
Dua Jalur Insentif BI:
-
Lending Channel: Diberikan kepada bank-bank yang fokus menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas pemerintah.
-
Interest Rate Channel: Insentif berupa potongan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 1% bagi bank yang cepat menyesuaikan suku bunga kreditnya sejalan dengan kebijakan BI.
Hingga minggu pertama Februari 2026, realisasi insentif yang telah dinikmati perbankan mencapai angka yang fantastis, yakni Rp427,5 triliun.
Sinergi BI dan OJK untuk Dorong Ekonomi
Penurunan suku bunga tidak bisa dilakukan oleh satu lembaga saja. BI menekankan pentingnya sinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengawal perilaku perbankan di lapangan.
“Kami bersama-sama mendorong bank; ayo, mari kita turunkan dulu itu special rate untuk dana, supaya nanti di lending rate-nya juga bisa turun,” pungkas Destry.
Dengan suku bunga kredit yang lebih rendah, diharapkan roda perekonomian dapat bergerak lebih cepat, investasi meningkat, dan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global.
Ringkasan Poin Penting:
Apakah Anda berencana mengambil kredit dalam waktu dekat? Simak terus perkembangan suku bunga perbankan terkini untuk mendapatkan penawaran terbaik. (Sumber:Suara.com)

![Penyanyi Rossa melaporkan 78 akun medsos yang memfitnah dirinya oplas ke Bareskrim Polri, Jumat (17/4/2026). [Tiara Rosana/Suara.com]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/rossa-360x200.jpg)


![Twibbon Idul Fitri 1447 H. [kolase Twibbonize]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/03/tiwbbon-lebaran-360x200.jpg)
![Vidi Aldiano meninggal dunia, pidato Sheila Dara viral: suami saya selamanya. [Instagram]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/03/vidi-aldioano-istri-360x200.jpg)


















