1TULAH.COM-Harga komoditas batu bara global menunjukkan tren penguatan yang signifikan pada perdagangan Kamis, 15 Januari 2026.
Kenaikan ini menjadi sorotan pelaku pasar energi karena terjadi di tengah transisi energi hijau yang sedang gencar dilakukan di berbagai belahan dunia.
Lonjakan harga ini dipicu oleh langkah strategis China yang berencana menambah lebih dari 100 unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru berbasis batu bara. Langkah ini diambil Negeri Tirai Bambu untuk menjamin stabilitas energi nasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang terus berekspansi tahun ini.
Analisis Harga: Mendekati Level Tertinggi Bulanan
Berdasarkan data terbaru dari Tradingview, harga batu bara saat ini bergerak stabil dan mendekati level tertinggi dalam satu bulan terakhir. Komoditas ini diperdagangkan di kisaran US$ 110 per ton.
Meskipun China merupakan pemimpin global dalam sektor energi terbarukan, ketergantungan mereka terhadap bahan bakar fosil tetap tinggi sebagai “jangkar” keamanan energi nasional ketika fluktuasi pasokan energi bersih terjadi.
Pergerakan Harga di Bursa Newcastle dan Rotterdam
Dinamika pasar terlihat jelas di dua bursa utama dunia, yaitu Newcastle (Australia) dan Rotterdam (Eropa). Berikut rincian pergerakan kontrak berjangka untuk kuartal pertama tahun 2026:
1. Bursa Newcastle (Kontrak Berjangka 2026)
Pasar Australia menunjukkan optimisme pada kontrak bulan-bulan mendatang:
-
Januari 2026: Terkoreksi tipis 0,6% ke angka US$ 100,4 per ton.
-
Februari 2026: Melonjak signifikan US$ 0,7 menjadi **US$ 110,7 per ton**.
-
Maret 2026: Terangkat US$ 0,65 ke posisi **US$ 110,85 per ton**.
2. Bursa Rotterdam (Kontrak Berjangka 2026)
Di pasar Eropa, harga bergerak lebih moderat namun tetap menunjukkan tren penguatan:
-
Januari 2026: Terkoreksi tipis US$ 0,1 ke level US$ 97,35.
-
Februari 2026: Naik US$ 0,2 menjadi **US$ 95,35**.
-
Maret 2026: Menguat US$ 0,25 ke posisi **US$ 94,25**.
Kontradiksi Pasar: Antara Konsumsi dan Penurunan Impor
Ada fenomena menarik di balik menguatnya harga batu bara saat ini. Data menunjukkan bahwa impor batu bara China sebenarnya menyusut sebesar 9,6% sepanjang tahun lalu, dengan total volume sekitar 490 juta ton.
Penurunan impor ini bukan disebabkan oleh melemahnya permintaan, melainkan karena dua faktor utama:
-
Produksi Domestik: China berhasil meningkatkan kapasitas produksi batu bara di dalam negeri secara masif.
-
Efisiensi Termal: Peningkatan teknologi pada pembangkit listrik termal membuat penggunaan bahan bakar menjadi lebih efisien.
Catatan Historis: Laporan independen mencatat peristiwa langka pada tahun 2025, di mana pembangkitan listrik tenaga batu bara di China dan India turun secara bersamaan untuk pertama kalinya dalam 50 tahun terakhir akibat rekor penambahan kapasitas energi bersih (EBT).
Outlook Pasar 2026
Penguatan harga pada Januari 2026 ini membuktikan bahwa batu bara masih menjadi komoditas vital dalam peta energi global, terutama di kawasan Asia. Rencana China membangun 100 PLTU baru memberikan sinyal kepada investor bahwa permintaan fisik batu bara akan tetap terjaga dalam jangka pendek hingga menengah. (Sumber:Suara.com)

![Penyanyi Rossa melaporkan 78 akun medsos yang memfitnah dirinya oplas ke Bareskrim Polri, Jumat (17/4/2026). [Tiara Rosana/Suara.com]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/rossa-360x200.jpg)


![Twibbon Idul Fitri 1447 H. [kolase Twibbonize]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/03/tiwbbon-lebaran-360x200.jpg)
![Vidi Aldiano meninggal dunia, pidato Sheila Dara viral: suami saya selamanya. [Instagram]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/03/vidi-aldioano-istri-360x200.jpg)


















