1TULAH.COM-Film Rangga & Cinta yang tayang serentak di bioskop pada 2 Oktober 2025 menunjukkan tren positif yang sesuai dengan istilah ‘perlahan tapi pasti’. Meskipun bersaing ketat dengan dua film Indonesia lainnya, Tukar Takdir dan Rest Area, Rangga & Cinta berhasil membuktikan daya tariknya di mata penonton.
Di hari pertama penayangan, Rangga & Cinta memperoleh 44 ribu penonton, tertinggal dari Tukar Takdir yang mencapai 57 ribu. Namun, seminggu kemudian, keadaan berbalik. Rangga & Cinta sukses menyalip dengan total 283 ribu penonton, mengungguli Tukar Takdir dengan 232 ribu penonton.
Persaingan ini semakin menarik karena kedua film ini kerap dibanding-bandingkan, terutama karena Nicholas Saputra yang ikonik sebagai Rangga di Ada Apa dengan Cinta? (AADC) kini membintangi Tukar Takdir. Sementara itu, peran Rangga diperankan oleh El Putra Sarira dan Cinta oleh Leya Princy, menggantikan Dian Sastrowardoyo.
Apa saja faktor yang membuat film Rangga & Cinta perlahan mulai banyak ditonton dan menarik perhatian publik? Simak ulasannya berikut ini.
1. Relevansi Kisah: Perlukah Menonton Ada Apa dengan Cinta? (AADC)? 🤔
Film Rangga & Cinta sejak awal diposisikan sebagai The Rebirth of Ada Apa dengan Cinta? yang melegenda di tahun 2002.
Kisah intinya hampir 100 persen mirip dengan AADC, berpusat pada kehidupan Cinta sebagai siswi SMA, persahabatannya, dan awal pertemuannya dengan Rangga. Hubungan mereka bermula saat Rangga mengalahkan Cinta dalam kompetisi puisi sekolah, yang memaksa Cinta mewawancarainya untuk mading sekolah.
Walau awalnya Rangga menolak, keakraban tumbuh karena kesamaan minat pada buku “Aku” karya Sjuman Djaya (tentang Chairil Anwar). Hubungan ini sayangnya sempat mengancam persahabatan Cinta dengan geng madingnya (Alya, Maura, Milly, Karmen).
Untuk memahami Rangga & Cinta, penonton sebenarnya tak perlu rewatch AADC (yang bisa ditonton di Vidio). Namun, menonton AADC setelah menyaksikan Rangga & Cinta di bioskop akan memberikan sensasi komparasi tersendiri. Perbedaan paling mencolok, meski alur ceritanya sama, adalah format penyajian: Rangga & Cinta dibuat dalam format musikal.
2. Daya Tarik Format: Film Musikal yang Bikin Merinding 🎶
Salah satu faktor pembeda dan daya tarik utama Rangga & Cinta adalah format musikal yang masih jarang di sinema Indonesia. Film musikal Indonesia terakhir yang serupa adalah Petualangan Sherina 2 (2023), yang juga diproduksi oleh Miles Films.
Format musikal ini masih relatif asing bagi sebagian penonton, terlihat dari adanya celetukan, “Ini film kok dikit-dikit nyanyi?”. Namun, Rangga & Cinta berhasil membukanya dengan nyanyian dan tarian yang terasa megah, didukung oleh sound bioskop yang berkualitas, menciptakan sensasi merinding bagi penonton.
Walaupun mungkin akan menuai kritik karena formatnya yang belum umum, keberanian Rangga & Cinta menghadirkan karya musikal di layar lebar patut diapresiasi, menambah keragaman tontonan film Indonesia.
3. Nostalgia & Relevansi Remaja: Kisah Cinta Jadul yang Menyentuh ❤️
Rangga & Cinta berhasil menghadirkan nuansa nostalgia yang kuat, terutama bagi Generasi 90-an. Film ini membawa penonton mengenang masa-masa mengurus mading sekolah dan kisah cinta anak SMA ala ‘jadul’.
Perbedaan cara berkencan dan berkomunikasi di masa lalu menjadi sorotan yang menyentuh. Di era film ini, jatuh cinta tidak semudah sekarang; komunikasi mengandalkan telepon rumah, yang berarti jika orang yang dituju tidak ada di tempat, komunikasi akan terputus.
Nuansa ini berhasil ditangkap dengan baik, membuat penonton dewasa mengenang masa lalu, sekaligus memberikan pemahaman kepada remaja zaman now betapa mudahnya komunikasi saat ini—yang terkadang justru mengurangi sensasi deg-degan saat jatuh cinta.
Selain itu, akting para pemain, yang mayoritas adalah wajah baru, dinilai cukup keren. Penampilan Jasmine Nadya (sebagai Alya) dan El Putra Sarira (sebagai Rangga) menarik perhatian dan diharapkan dapat terus berkarya di dunia akting. Bagi remaja saat ini, kisah ini terasa relate; sementara bagi orang dewasa, mungkin akan menyajikan perspektif tentang kisah cinta remaja yang labil—sesuai dengan fase perkembangan usia mereka.
4. Tantangan Komparasi: Konsep Nostalgia yang Serba Nanggung 🤏
Meskipun banyak faktor positif, Rangga & Cinta tidak luput dari kendala, terutama karena statusnya sebagai The Rebirth dari AADC. Salah satu poin yang dirasakan kurang maksimal adalah nuansa nostalgia yang serba nanggung.
Beberapa elemen yang seharusnya membawa penonton ke era 2000-an terasa kurang totalitas. Ingatan akan setting waktu lampau seringkali hanya didukung oleh keberadaan telepon rumah dan taksi jadul. Sebaliknya, penokohan geng mading terasa lebih merepresentasikan remaja zaman now.
Contoh paling terasa adalah kamar Cinta, yang berbeda drastis dengan kamar di AADC, dan hilangnya detail krusial seperti rol rambut Cinta saat akan berkencan dengan Rangga di AADC—sebuah elemen visual yang kuat menggambarkan tahun 2000-an.
Sulit bagi penonton untuk tidak membandingkan, apalagi ceritanya dibuat sama persis. Setelah rewatch AADC, ditemukan beberapa adegan yang hilang atau diganti, dan adegan yang hilang tersebut dinilai cukup krusial dan menghilangkan ‘nyawa’ cerita aslinya.
Hal ini menimbulkan angan-angan: bagaimana jika Rangga & Cinta dibuat dengan setting masa kini yang gen-z abis? Sebab, jika nuansa nostalgianya tanggung, mungkin konsep modern akan terasa lebih cocok.
Masa Depan Film Musikal Indonesia ✨
Terlepas dari perbandingan yang tak terhindarkan dengan AADC, film Rangga & Cinta sukses menyuguhkan tontonan yang segar melalui format musikal yang menyenangkan. Peningkatan jumlah penonton secara perlahan tapi pasti membuktikan bahwa film ini mampu menarik perhatian publik berkat formatnya yang unik dan kisah remajanya yang relate.
Diharapkan Rangga & Cinta menjadi pemicu bagi semakin banyaknya film Indonesia berformat musikal di masa depan. Namun, untuk menghindari perbandingan yang berlebihan, akan lebih baik jika proyek musikal mendatang menyuguhkan cerita yang baru, bukan lagi remake atau rebirth. (Sumber:Suara.com)






















![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)

