Sering Terjaga Tengah Malam? Ternyata Ada Alasannya

- Jurnalis

Sabtu, 27 September 2025 - 11:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

lustrasi tidur. (sumber: Freepik)

lustrasi tidur. (sumber: Freepik)

1TULAH.COM – Banyak orang ketika mendengar istilah insomnia langsung memahaminya sebagai kesulitan tidur atau sering terbangun di tengah malam.

Padahal, ada jenis gangguan tidur lain yang tak kalah mengganggu, yakni late insomnia atau yang dikenal dengan early morning awakening.

Kondisi ini dijelaskan oleh Dr. Angela Holliday-Bell, seorang dokter sekaligus spesialis tidur, sebagai keadaan ketika seseorang terbangun jauh lebih pagi dari waktu yang diharapkan dan tidak mampu kembali tidur meskipun tubuh masih membutuhkan istirahat.

Mengutip dari Healthshots, gangguan ini dapat dialami siapa saja, meski lebih sering terjadi pada orang yang semakin menua.

Walaupun belum dikategorikan sebagai diagnosis medis resmi, para ahli tidur menggambarkannya sebagai kondisi saat seseorang bangun 1,5 hingga 2 jam lebih awal dari jadwal yang direncanakan, dan berlangsung sekurang-kurangnya tiga kali seminggu selama tiga bulan berturut-turut.

Ada sejumlah faktor yang membuat kondisi ini lebih sering terjadi pada usia lanjut. Salah satunya adalah perubahan ritme sirkadian yang menyebabkan tubuh lebih cepat mengantuk di malam hari dan secara otomatis bangun lebih pagi.

Seiring bertambahnya usia, waktu tidur nyenyak juga semakin berkurang, sehingga seseorang lebih sering berada pada fase tidur ringan yang mudah terganggu.

Selain itu, penurunan produksi hormon melatonin dan meningkatnya kemungkinan mengalami sleep apnea turut memperburuk masalah tidur ini.

Perubahan hormon juga menjadi penyebab lain, terutama pada wanita yang memasuki masa perimenopause dan menopause.

Penurunan kadar estrogen dan progesteron berpengaruh terhadap pusat tidur di otak dan ritme sirkadian, yang akhirnya membuat tidur lebih singkat, mudah terpecah-pecah, serta terganggu oleh gejala seperti keringat malam dan hot flashes yang membuat mereka terbangun dini hari.

Gangguan psikologis seperti depresi dan kecemasan juga erat kaitannya dengan late insomnia.

Depresi dapat mengubah ritme tidur sekaligus meningkatkan kadar kortisol di pagi hari, yang kemudian memicu seseorang terbangun lebih cepat.

Sementara rasa cemas dan stres membuat otak tetap dalam kondisi waspada, sehingga sulit untuk kembali tertidur setelah terbangun.

Selain itu, alkohol sering dianggap membantu tidur lebih cepat, tetapi faktanya justru mengurangi kualitas tidur, terutama pada fase REM yang terjadi di paruh kedua malam. Akibatnya, orang yang mengonsumsinya lebih rentan terbangun pada dini hari.

Untuk mengatasi late insomnia, hal terpenting adalah menemukan penyebab utamanya. Jika gangguan dipicu oleh konsumsi alkohol, hentikan kebiasaan tersebut selama beberapa minggu untuk melihat perbedaan.

Bila masalah muncul akibat keringat malam, langkah sederhana seperti menggunakan sprei yang lebih sejuk atau menurunkan suhu ruangan bisa membantu.

Apabila penyebab pastinya tidak diketahui, perbaikan pola tidur bisa menjadi solusi, misalnya dengan menjaga konsistensi jam tidur dan bangun setiap hari, membuat rutinitas malam yang menenangkan, serta menghindari kafein, alkohol, dan paparan layar sebelum tidur.

Apabila gangguan ini berkaitan dengan masalah mental seperti depresi atau kecemasan, disarankan untuk berkonsultasi dengan terapis atau dokter.

Bantuan dari spesialis tidur juga dapat membantu menemukan faktor yang mendasari gangguan serta memberikan solusi yang sesuai agar kualitas tidur bisa kembali terjaga dengan baik.

Penulis : Laili R

Berita Terkait

Viral! Foto Gunakan Tabung Oksigen di Palangka Raya, Menkes Budi Gunadi Sadikin Klarifikasi: Murni untuk Edukasi Warga
9 Cara Mengatasi Flek Hitam Menahun di Pipi Usia 45 Tahun ke Atas akibat Sinar Matahari
Orang Tua Wajib Tahu: Mengapa Asap Kebakaran Hutan Sangat Berbahaya Bagi Balita?
Harumkan Nama Indonesia, Widya Esthetic Clinic Banjarmasin Raih Penghargaan Bergengsi Asia Pasifik 2026
Awas! Salah Pakai Krim Pencerah Bisa Bikin Flek Hitam Makin Kebiruan
Ketika Cinta Dibungkus Kontrol: Mengurai Toxic Masculinity dan Dampak Buruk Patriarki
Mengupas Mitos MSG: Benarkah Penyedap Rasa Ini Berbahaya bagi Kesehatan?
Tren “One Outfit, Multiple Activity”: Rahasia Tampil Stylish Saat Olahraga dan Hangout
Tag :

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Viral! Foto Gunakan Tabung Oksigen di Palangka Raya, Menkes Budi Gunadi Sadikin Klarifikasi: Murni untuk Edukasi Warga

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 15:10 WIB

9 Cara Mengatasi Flek Hitam Menahun di Pipi Usia 45 Tahun ke Atas akibat Sinar Matahari

Senin, 19 Oktober 2026 - 14:02 WIB

Orang Tua Wajib Tahu: Mengapa Asap Kebakaran Hutan Sangat Berbahaya Bagi Balita?

Senin, 28 September 2026 - 04:30 WIB

Harumkan Nama Indonesia, Widya Esthetic Clinic Banjarmasin Raih Penghargaan Bergengsi Asia Pasifik 2026

Rabu, 9 September 2026 - 14:37 WIB

Awas! Salah Pakai Krim Pencerah Bisa Bikin Flek Hitam Makin Kebiruan

Minggu, 6 September 2026 - 16:03 WIB

Ketika Cinta Dibungkus Kontrol: Mengurai Toxic Masculinity dan Dampak Buruk Patriarki

Sabtu, 4 Juli 2026 - 19:34 WIB

Mengupas Mitos MSG: Benarkah Penyedap Rasa Ini Berbahaya bagi Kesehatan?

Rabu, 13 Mei 2026 - 07:24 WIB

Tren “One Outfit, Multiple Activity”: Rahasia Tampil Stylish Saat Olahraga dan Hangout

Berita Terbaru