Makan Sambil Nonton Gadget Berisiko, Ini Dampaknya pada Anak Menurut Dokter

- Jurnalis

Minggu, 26 Januari 2025 - 18:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Anak Pintar Makan (Dok. Novell Pharmaceutical Laboratories)

Ilustrasi Anak Pintar Makan (Dok. Novell Pharmaceutical Laboratories)

1TULAH.COM – Masalah Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada anak seringkali menjadi tantangan besar bagi orang tua dan bisa berisiko mengganggu pemenuhan nutrisi yang diperlukan untuk tumbuh kembang anak.

Dr. Meta Herdiana Hanindita, SpA(K), yang merupakan anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa penyebab utama GTM sering kali berkaitan dengan kebiasaan pemberian makan yang tidak tepat.

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah memberikan gadget kepada anak saat makan.

Menurut Dr. Meta, hal ini dapat menciptakan distraksi yang mengganggu konsentrasi anak.

Padahal, waktu makan seharusnya menjadi waktu yang bebas gangguan agar anak dapat fokus pada makanannya.

Selain penggunaan gadget, orang tua juga sering kali memberi hiburan lainnya seperti mengajak anak bermain, menonton video, atau bahkan mengajak berjalan-jalan saat makan.

Baca Juga :  Waspada Hantavirus di Indonesia: 23 Kasus Terdeteksi, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya

Untuk mengatasi GTM, Dr. Meta memberikan beberapa pedoman penting yang perlu diterapkan oleh orang tua, antara lain:

1. Menetapkan jadwal makan yang konsisten setiap hari, agar anak tahu kapan waktunya makan.

2. Membatasi durasi makan maksimal 30 menit. Jika makanan tidak habis dalam waktu tersebut, maka waktu makan harus dihentikan.

Aturan-aturan ini bertujuan untuk membantu anak mengenali sinyal lapar dan kenyang.

Jika anak makan dengan gangguan, jadwal makan yang tidak teratur, atau durasi makan yang terlalu lama, kemampuan anak untuk mengenali rasa lapar dan kenyang dapat terganggu.

Baca Juga :  Waspada Hantavirus di Indonesia: 23 Kasus Terdeteksi, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya

Hal ini sering menyebabkan orang tua berasumsi bahwa anak tidak lapar, padahal masalahnya terletak pada kebiasaan makan yang kurang tepat.

Jika aturan makan sudah diterapkan namun GTM tetap terjadi, Dr. Meta menyarankan orang tua untuk berkonsultasi dengan dokter anak yang dapat dipercaya. GTM juga bisa disebabkan oleh kondisi medis lainnya, seperti:

– Tuberkulosis (TBC)

– Anemia defisiensi besi

– Penyakit medis lainnya

Dalam kasus seperti ini, evaluasi medis lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebab yang mendasari dan memastikan anak mendapatkan penanganan yang tepat.

Dengan pendekatan yang benar, baik dalam hal kebiasaan makan maupun penanganan medis, GTM pada anak bisa diatasi, sehingga kebutuhan nutrisi mereka tetap terpenuhi dengan baik.

Penulis : Laili R

Berita Terkait

Waspada Hantavirus di Indonesia: 23 Kasus Terdeteksi, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya
Waspada! 50% Anak Usia 3-14 Tahun Terpapar Risiko Diabetes Akibat Kebiasaan Ini
Jaga Stamina Jelang Haji, Ini Latihan Fisik yang Dianjurkan
Sering Pakai HP? Ini Risiko Sebenarnya yang Perlu Diketahui
BNN Usulkan Larangan Vape di Indonesia, Samakan Perangkatnya dengan ‘Bong’ Sabu
Waspada! Lonjakan Kasus Campak di Indonesia Awal 2026: 58 Wilayah Berstatus KLB
Ketahui Bahaya Konsumsi Teh Susu Berlebihan
Dugaan Malpraktik RSUD Doris Sylvanus: Suyuti Syamsul Sebut Tuduhan Mudah Dipatahkan
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 09:24 WIB

Waspada Hantavirus di Indonesia: 23 Kasus Terdeteksi, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya

Jumat, 24 April 2026 - 13:00 WIB

Waspada! 50% Anak Usia 3-14 Tahun Terpapar Risiko Diabetes Akibat Kebiasaan Ini

Selasa, 14 April 2026 - 12:55 WIB

Jaga Stamina Jelang Haji, Ini Latihan Fisik yang Dianjurkan

Senin, 13 April 2026 - 22:25 WIB

Sering Pakai HP? Ini Risiko Sebenarnya yang Perlu Diketahui

Selasa, 7 April 2026 - 18:58 WIB

BNN Usulkan Larangan Vape di Indonesia, Samakan Perangkatnya dengan ‘Bong’ Sabu

Senin, 6 April 2026 - 15:33 WIB

Waspada! Lonjakan Kasus Campak di Indonesia Awal 2026: 58 Wilayah Berstatus KLB

Minggu, 5 April 2026 - 20:10 WIB

Ketahui Bahaya Konsumsi Teh Susu Berlebihan

Selasa, 24 Maret 2026 - 17:42 WIB

Dugaan Malpraktik RSUD Doris Sylvanus: Suyuti Syamsul Sebut Tuduhan Mudah Dipatahkan

Berita Terbaru