Potensi PAD Bocor? DPRD Kalteng Minta Bapenda Lakukan ‘Silang Data’ dengan BPH Migas

- Jurnalis

Jumat, 7 Agustus 2026 - 10:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Tengah (Kalteng), Ampera A.Y. Mebas.Foto:Dok/1tulah.com

Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Tengah (Kalteng), Ampera A.Y. Mebas.Foto:Dok/1tulah.com

1TULAH.COM-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Tengah (Kalteng) mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng untuk bergerak lebih agresif dalam mengoptimalkan penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Salah satu langkah strategis yang dinilai mendesak adalah melakukan sinkronisasi data secara langsung dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

Langkah integrasi data ini dianggap sangat krusial untuk memaksimalkan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus menutup celah potensi kebocoran penerimaan pajak sektor energi di wilayah Kalteng.

Jangan Hanya Bergantung pada Data Pertamina

Anggota DPRD Kalteng, Ampera AY Mebas, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh pasif dan hanya mengandalkan data tunggal dari PT Pertamina (Persero) dalam menetapkan serta menghitung potensi penerimaan pajak BBM.

“Terkait pajak BBM, Pemprov Kalteng harus punya strategi agar hasilnya benar-benar maksimal. Artinya, jangan hanya mengandalkan data tunggal dari Pertamina, tetapi juga melakukan silang data dengan BPH Migas,” tegas Ampera kepada awak media pada Rabu (5/8/2026).

Baca Juga :  Heriyus: Pencegahan Karhutla Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Politisi dari Fraksi PDI-Perjuangan ini menjelaskan bahwa rantai pasok dan penyaluran bahan bakar di lapangan saat ini sangat dinamis. Kebutuhan BBM—baik untuk konsumsi masyarakat umum maupun sektor industri besar seperti perkebunan dan pertambangan di Kalteng—tidak lagi didominasi oleh satu BUMN saja.

Banyak perusahaan swasta (badan usaha pemegang izin usaha niaga umum) yang turut memasok BBM dalam jumlah besar. Oleh karena itu, pengawasan serta verifikasi kuota harus dilakukan secara menyeluruh dan komprehensif.

“Semua kuota dan penyaluran itu pasti ada datanya. Karena sumber BBM ini beragam, pajak dari sektor BBM dan gas harus digarap secara maksimal agar tidak ada yang bocor,” lanjutnya.

Validasi Data Jadi Fondasi Kemandirian Fiskal Daerah

Mantan Bupati Barito Timur (Bartim) tersebut menilai penguatan basis data (data cross-checking) merupakan fondasi utama bagi Pemprov Kalteng untuk memperkuat kemandirian fiskal daerah. Tanpa basis data yang akurat dan independen, potensi penerimaan daerah berisiko tinggi terlewat atau terhitung di bawah angka riil (underreported).

Baca Juga :  Diisukan Gantikan Gibran di Tengah Sidang MK, Begini Respons Puan Maharani

Selain fokus pada optimasi Pajak BBM, Ampera juga mengingatkan Pemprov Kalteng untuk mengeksplorasi dan memperketat pengawasan pada sektor-sektor pendapatan potensial lainnya, seperti:

  • Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama.

  • Pajak Alat Berat (PAB) di kawasan operasional industri.

  • Dividen BUMD dari hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.

  • Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat agar terdistribusi optimal.

Bapenda Dituntut Progresif, DPRD Siap Perketat Pengawasan

Guna mengeksekusi langkah-langkah optimasi tersebut, Ampera secara khusus mendorong Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Kalteng untuk mengubah pola kerja konvensional menjadi lebih progresif, proaktif, dan inovatif dalam menggali pundi-pundi kas daerah.

DPRD Kalteng juga berkomitmen untuk terus mengawal proses evaluasi pendapatan daerah melalui fungsi legislasi dan pengawasan anggaran secara berkala.\

“Nanti, melalui fungsi pengawasan di dewan, kami akan terus mengarahkan sekaligus mengevaluasi bagaimana supaya pundi-pundi pendapatan daerah itu bisa dioptimalkan,” pungkas Ampera. (Ingkit)

Berita Terkait

Benarkah “Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi”? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia
Kerusakan Ekologis dan Ancaman Kesehatan: Mengapa Karhutla di Sumatra dan Kalimantan Tak Kunjung Usai?
Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal
Pemkab Mura Harapkan KNPI Jadi Mitra Strategis Pembangunan Daerah
Rencana Pembayaran Gaji PNS Lewat Koperasi: Peluang, Risiko, dan Tantangan Realisasinya
Atasi Kabut Asap Karhutla hingga Singapura, Pemerintah Indonesia Dampingi Aksi Lapangan dengan Diplomasi
Heriyus Tegaskan Pelantikan Sekda Murung Raya Mengacu pada Regulasi ASN
Heriyus Tekankan Loyalitas dan Tanggung Jawab dalam Kepemimpinan Sekda Baru
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 18:54 WIB

Benarkah “Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi”? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 16:03 WIB

Kerusakan Ekologis dan Ancaman Kesehatan: Mengapa Karhutla di Sumatra dan Kalimantan Tak Kunjung Usai?

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:56 WIB

Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:30 WIB

Pemkab Mura Harapkan KNPI Jadi Mitra Strategis Pembangunan Daerah

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 06:45 WIB

Rencana Pembayaran Gaji PNS Lewat Koperasi: Peluang, Risiko, dan Tantangan Realisasinya

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:20 WIB

Heriyus Tegaskan Pelantikan Sekda Murung Raya Mengacu pada Regulasi ASN

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:00 WIB

Heriyus Tekankan Loyalitas dan Tanggung Jawab dalam Kepemimpinan Sekda Baru

Jumat, 9 Oktober 2026 - 15:18 WIB

Lynda Kristiane Dilantik Jadi Sekda, Heriyus Tekankan Peran Strategis Sekretaris Daerah

Berita Terbaru