KPK Usut Penukaran Uang Asing Bupati Pekalongan Nonaktif Fadia Arafiq

- Jurnalis

Rabu, 6 Mei 2026 - 10:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi KPK. (KPK)

Ilustrasi KPK. (KPK)

1TULAH.COM – Komisi Pemberantasan Korupsi terus mendalami aliran aset milik Bupati Pekalongan nonaktif Fadia Arafiq dengan menelusuri aktivitas penukaran valuta asing. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari penyidikan kasus dugaan korupsi yang menjerat yang bersangkutan.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menyampaikan bahwa penelusuran dilakukan melalui pemeriksaan dua saksi pada Selasa, 5 Mei 2026.

Kedua saksi tersebut adalah LAA yang merupakan staf perusahaan keluarga Fadia, PT Raja Nusantara Berjaya, serta IS dari pihak swasta.

Menurut Budi, pemeriksaan difokuskan pada pelacakan aset, khususnya terkait transaksi penukaran mata uang asing yang diduga dilakukan oleh Fadia selama menjabat sebagai kepala daerah.

Baca Juga :  Pangdam XXII/Tambun Bungai Lantik Dandim 1020/Murung Raya dan Komandan Denzipur 16

KPK mencurigai bahwa dana yang ditukarkan tersebut memiliki keterkaitan dengan perkara korupsi yang tengah disidik.

Sebelumnya, pada 3 Maret 2026, KPK melakukan operasi tangkap tangan di wilayah Semarang dan Pekalongan. Dalam operasi tersebut, Fadia ditangkap bersama ajudan serta sejumlah orang kepercayaannya, sementara belasan pihak lainnya juga turut diamankan.

Penindakan itu merupakan operasi tangkap tangan ketujuh KPK sepanjang tahun 2026 dan berlangsung bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.

Sehari setelah penangkapan, KPK menetapkan Fadia sebagai tersangka tunggal dalam perkara dugaan korupsi pengadaan jasa outsourcing dan kegiatan lainnya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pekalongan untuk tahun anggaran 2023 hingga 2026.

Baca Juga :  9 Cara Mengatasi Flek Hitam Menahun di Pipi Usia 45 Tahun ke Atas akibat Sinar Matahari

Dalam penyidikan, KPK menduga terjadi konflik kepentingan karena perusahaan milik keluarga Fadia, PT Raja Nusantara Berjaya, diduga memenangkan sejumlah proyek pengadaan di pemerintah daerah tersebut. Dari hasil kegiatan tersebut, Fadia bersama keluarganya disebut menerima total sekitar Rp19 miliar.

Rinciannya, sekitar Rp13,7 miliar diduga dinikmati secara langsung oleh Fadia dan keluarganya, Rp2,3 miliar dialokasikan kepada Direktur PT RNB yang juga bekerja sebagai asisten rumah tangga bernama Rul Bayatun, serta Rp3 miliar lainnya berasal dari penarikan tunai yang belum didistribusikan.

Penulis : Laili R

Berita Terkait

Momen Hangat Hari Sumpah Pemuda: Presiden Prabowo Pimpin Pembacaan Ikrar Bersama Siswa SD Didampingi Titiek Soeharto
Ancaman Pemotongan Internet Singapura Dijawab Santai Menkomdigi Meutya Hafid: Siapa yang Sebenarnya Rugi?
Satu Korporasi Jadi Tersangka dalam Penanganan 30 Laporan Karhutla di Kalsel
Gantikan Dr. Ita Minarni, Muhammad Taufiq Resmi Jabat Plt Kadis PUPR Barito Selatan
Survei Voxpol Center: 90,1 Persen Masyarakat Indonesia Setuju Koruptor Dihukum Mati
Usulan Harta Pejabat Tak Terlapor LHKPN Dirampas Negara: Langkah Tegas atau Melanggar Hukum?
Mencetak generasi kritis di Era AI, PT AlamTri Gandeng Komunitas Pendidikan
Tekan Kekerasan dan Perundungan di Sekolah, Kemendikdasmen Rilis Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:11 WIB

Momen Hangat Hari Sumpah Pemuda: Presiden Prabowo Pimpin Pembacaan Ikrar Bersama Siswa SD Didampingi Titiek Soeharto

Kamis, 29 Oktober 2026 - 07:48 WIB

Ancaman Pemotongan Internet Singapura Dijawab Santai Menkomdigi Meutya Hafid: Siapa yang Sebenarnya Rugi?

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:14 WIB

Satu Korporasi Jadi Tersangka dalam Penanganan 30 Laporan Karhutla di Kalsel

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Gantikan Dr. Ita Minarni, Muhammad Taufiq Resmi Jabat Plt Kadis PUPR Barito Selatan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:39 WIB

Survei Voxpol Center: 90,1 Persen Masyarakat Indonesia Setuju Koruptor Dihukum Mati

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:26 WIB

Usulan Harta Pejabat Tak Terlapor LHKPN Dirampas Negara: Langkah Tegas atau Melanggar Hukum?

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:36 WIB

Mencetak generasi kritis di Era AI, PT AlamTri Gandeng Komunitas Pendidikan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 06:30 WIB

Tekan Kekerasan dan Perundungan di Sekolah, Kemendikdasmen Rilis Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026

Berita Terbaru