BUMN Disorot! BPK Ungkap Pemborosan dan Kerugian Negara Rp63,57 Triliun

- Jurnalis

Kamis, 11 Desember 2025 - 11:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. BPK merilis laporan mengejutkan mengenai besarnya pemborosan yang dilakukan perusahaan BUMN. Foto Antara.

Ilustrasi. BPK merilis laporan mengejutkan mengenai besarnya pemborosan yang dilakukan perusahaan BUMN. Foto Antara.

1TULAH.COM-Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali menjadi topik hangat setelah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merilis laporan mengejutkan mengenai besarnya pemborosan dan ketidakpatuhan yang terjadi di lingkungan perusahaan pelat merah. Angka kerugian yang terungkap mencapai puluhan triliun rupiah, memicu alarm serius mengenai tata kelola dan efisiensi perusahaan negara.

💰 IHPS I 2025: Total Pemborosan BUMN Tembus Rp63,57 Triliun

Dalam Laporan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I Tahun 2025 yang dikutip hari ini, Kamis (11/12/2025), BPK mencatat total nilai pemborosan, inefisiensi, dan ketidakpatuhan pada BUMN dan Badan Negara lainnya mencapai angka fantastis: Rp63,57 triliun.

Angka jumbo ini terungkap dari 353 temuan yang memuat 572 permasalahan pada 41 objek pemeriksaan BUMN dan Badan Lainnya. Temuan ini menegaskan adanya masalah mendasar dalam pengelolaan aset dan anggaran perusahaan-perusahaan milik negara.

Perincian Sumber Kerugian Negara di BUMN

BPK membagi permasalahan senilai Rp63,57 triliun tersebut menjadi dua sumber kerugian utama yang wajib menjadi fokus perbaikan manajemen BUMN:

  1. Permasalahan 3E (Ketidakhematan, Ketidakefisienan, Ketidakefektifan):

    • Nilai pemborosan ini mendominasi dengan total Rp43,35 triliun.

    • Permasalahan ini didominasi oleh ketidakhematan senilai Rp40,6 triliun dan ketidakefektifan senilai Rp2,69 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa BUMN cenderung menghabiskan dana lebih besar dari yang seharusnya atau tidak mencapai tujuan yang efektif.

  2. Ketidakpatuhan & Kerugian Negara:

    • Masalah ketidakpatuhan terhadap undang-undang yang berujung pada kerugian, potensi kerugian, dan kekurangan penerimaan, tercatat senilai Rp20,22 triliun.

Baca Juga :  Rekor OTT 2026! Bupati Tulungagung Jadi Kepala Daerah Ke-10 yang Terjaring KPK

Kepala BPK, Isma Yatun, sebelumnya telah menyoroti masalah 3E di BUMN. “Permasalahan ketidakhematan, ketidakefisienan, dan ketidakefektifan terutama pada BUMN dan badan lainnya dengan nilai sebesar Rp43,35 triliun,” ungkap Isma Yatun saat menyampaikan laporan IHPS I 2025 di Gedung Parlemen (18/11/2025).

🚨 Belum Termasuk Kasus Korupsi dan Minimnya Pengembalian Aset

Ironisnya, nilai pemborosan Rp63,57 triliun yang diungkap BPK ini belum termasuk hasil Penghitungan Kerugian Negara (PKN) terkait kasus tindak pidana korupsi yang sedang ditangani penegak hukum.

Dalam rangka penanganan kasus korupsi yang diminta oleh instansi penegak hukum, total nilai kerugian negara yang berhasil dihitung BPK mencapai Rp70,96 triliun pada Semester I 2025. BPK juga aktif memberikan keterangan ahli dalam 19 kasus korupsi di lingkungan BUMN selama periode yang sama.

Baca Juga :  Respons Aksi "Reformasi Militer", DPRD Kalteng Gelar Koordinasi Intensif Bersama TNI dan Polri

Pengembalian Aset yang Sangat Kecil

Meskipun nilai ketidakpatuhan mencapai Rp20,22 triliun, BPK mencatat entitas yang diperiksa baru mengembalikan aset atau menyetor ke kas negara/perusahaan sebesar Rp4,52 miliar selama proses pemeriksaan berlangsung.

Angka pengembalian yang sangat minim ini, yaitu kurang dari 0,02% dari total kerugian, menggarisbawahi perlunya pengawasan dan penegakan yang lebih keras oleh pemerintah dan aparat hukum.

⚠️ Alarm Besar bagi Pemerintah dan Manajemen BUMN

Secara keseluruhan, BPK mengklaim telah berkontribusi dalam upaya penyelamatan keuangan negara senilai Rp69,21 triliun selama Semester I 2025. Angka ini merupakan gabungan dari pengungkapan kerugian dan masalah 3E.

Namun, terungkapnya kasus pemborosan jumbo di BUMN ini jelas menjadi alarm besar bagi pemerintah dan manajemen perusahaan negara. Laporan ini mendesak adanya perbaikan tata kelola, peningkatan efisiensi, dan langkah tegas untuk mencegah kerugian negara terus berulang.

Pemerintah dituntut untuk segera merespons temuan BPK ini dengan tindakan nyata guna memastikan uang rakyat dikelola secara hemat, efisien, dan efektif. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Jejak Karier Hery Susanto: Dari Aktivis KAHMI hingga Jadi Ketua Ombudsman yang Ditangkap Kejagung
Pinkan Mambo Tetap Ngamen di Jalan Meski Dibantu Ivan Gunawan, Netizen: Bunda Maia Benar!
Dolar AS Perkasa karena Data Pekerjaan Solid, Rupiah Tertekan ke Rp17.180
Pemkab Bartim Mediasi Sengketa Lahan Warga Desa Unsum dengan PT Bartim Coalindo dan PT MUTU
Polri Siap Berantas Oknum Haji Ilegal Melalui Satgas Haji
Kemenkes RI Soroti Maraknya Promosi Vape di Medsos
Respons Aksi “Reformasi Militer”, DPRD Kalteng Gelar Koordinasi Intensif Bersama TNI dan Polri
Skandal Chat Mesum FH UI: 16 Mahasiswa Terseret, Alarm Keras bagi Dunia Pendidikan
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 10:36 WIB

Jejak Karier Hery Susanto: Dari Aktivis KAHMI hingga Jadi Ketua Ombudsman yang Ditangkap Kejagung

Jumat, 17 April 2026 - 10:26 WIB

Pinkan Mambo Tetap Ngamen di Jalan Meski Dibantu Ivan Gunawan, Netizen: Bunda Maia Benar!

Jumat, 17 April 2026 - 10:12 WIB

Dolar AS Perkasa karena Data Pekerjaan Solid, Rupiah Tertekan ke Rp17.180

Kamis, 16 April 2026 - 19:42 WIB

Pemkab Bartim Mediasi Sengketa Lahan Warga Desa Unsum dengan PT Bartim Coalindo dan PT MUTU

Kamis, 16 April 2026 - 15:58 WIB

Polri Siap Berantas Oknum Haji Ilegal Melalui Satgas Haji

Kamis, 16 April 2026 - 15:04 WIB

Kemenkes RI Soroti Maraknya Promosi Vape di Medsos

Kamis, 16 April 2026 - 13:10 WIB

Respons Aksi “Reformasi Militer”, DPRD Kalteng Gelar Koordinasi Intensif Bersama TNI dan Polri

Kamis, 16 April 2026 - 10:25 WIB

Skandal Chat Mesum FH UI: 16 Mahasiswa Terseret, Alarm Keras bagi Dunia Pendidikan

Berita Terbaru