Kritik Keras Pengamat UGM: Kebijakan Bahlil Lahadalia Dinilai Melemahkan Komitmen Energi Terbarukan Prabowo

- Jurnalis

Kamis, 5 Juni 2025 - 08:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi PLTU. (Suara.com/Yandi Sofyan)

Ilustrasi PLTU. (Suara.com/Yandi Sofyan)

1TULAH.COM-Komitmen Presiden Terpilih Prabowo Subianto dalam mewujudkan kemandirian energi berbasis sumber daya terbarukan kini dipertanyakan.

Hal ini menyusul kritik tajam dari Fahmy Radhi, seorang pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yang menyoroti langkah Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Fahmy menilai, pernyataan dan kebijakan Bahlil soal program pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) secara langsung bertentangan dengan visi energi berkelanjutan yang selama ini digaungkan oleh Prabowo.

Visi Prabowo vs. Realita Kebijakan Bahlil

Menurut Fahmy, jika mencermati komitmen Prabowo untuk mencapai swasembada energi dengan mengembangkan sumber daya yang dimiliki, arahnya jelas mengarah pada pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Dalam konteks ini, PT PLN (Persero) bahkan sudah menyusun Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang mencakup rencana pensiun dini PLTU secara bertahap.

“Namun, menurut Fahmy, kebijakan tersebut justru dilemahkan oleh langkah-langkah Menteri Bahlil, yang dalam beberapa kesempatan menyampaikan keberatannya atas program pensiun PLTU dan lebih mengedepankan kelanjutan investasi batu bara,” seperti dilansir dari Suara.com, Rabu (4/6/2024).

Fahmy tak main-main dalam kritiknya. Ia mengaku sudah berulang kali menyampaikan kekhawatirannya langsung kepada Menteri Bahlil. “Tindakan beliau justru melemahkan upaya PLN dan dalam konteks ini bisa saya katakan bertentangan dengan komitmen energi terbarukan dari Prabowo sendiri,” tegas Fahmy.

Baca Juga :  Innalillahi, Ulama Kharismatik KH Syukron Ma’mun "Singa Podium" Meninggal Dunia

Jebakan Batu Bara dan Argumen yang Keliru

Kekhawatiran Fahmy semakin besar mengingat pernyataan Bahlil yang mengaitkan kebijakan pensiun dini PLTU dengan dukungan pembiayaan, yang berpotensi mempertahankan ketergantungan Indonesia pada energi fosil. Ia membandingkan situasi ini dengan negara-negara Eropa Barat yang sebenarnya sangat berkomitmen terhadap EBT. Namun, karena invasi Rusia dan sanksi dari Amerika yang mengganggu pasokan gas, mereka terpaksa kembali menggunakan batu bara untuk sementara agar tidak mengalami pemadaman listrik.

“Sesaat pasokan energi stabil, negara-negara Eropa akan kembali ke sumber energi bersih,” jelas Fahmy. Ia juga menyoroti kasus Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump, yang secara terbuka keluar dari Paris Agreement dan mendukung penggunaan batu bara semata-mata untuk alasan bisnis pragmatis.

“Trump itu pragmatis, dia cari yang paling murah. Tapi kita tidak bisa ikut-ikutan begitu. Ketika Bahlil atau Hashim mengatakan bahwa Amerika saja masih menggunakan batu bara, kenapa kita tidak boleh? Itu logika yang keliru,” katanya tegas. Fahmy mengingatkan bahwa bertahan dengan energi kotor seperti batu bara akan memperparah dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Baca Juga :  Prabowo dan Presiden Mesir Sepakati Penguatan Pendidikan: Beasiswa, Riset, hingga Exchange Dosen

Roadmap PLN Adalah Solusi Terbaik

Dalam pandangan Fahmy, solusi terbaik adalah tetap menjalankan roadmap PLN seperti yang tertuang dalam RUPTL. Program pensiun PLTU sudah dirancang secara bertahap berdasarkan umur ekonomis pembangkit.

“Kalau sesuai dengan rencana dari PLN, sebenarnya tidak masalah. Pensiun dilakukan ketika umur ekonominya habis, dan statusnya sudah ada penggantinya berupa pembangkit energi terbarukan. Itu sudah direncanakan dengan baik,” jelas Fahmy.

Ia menegaskan, intervensi atau pembatalan program tersebut justru akan mengacaukan peta jalan transisi energi nasional dan menunjukkan ketidakkonsistenan antara visi pemerintah dan pelaksana kebijakan investasi.

“Jadi jangan salah pahami, langkah Bahlil ini justru melemahkan komitmen energi bersih dari Prabowo. Kita harus dukung program transisi ini, bukan justru menghambatnya dengan alasan-alasan jangka pendek,” pungkas Fahmy. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

MUI dan Publik Desak Hukuman Mati Kasus Korupsi Bencana BNPB, Begini Respon Resmi KPK
Innalillahi, Ulama Kharismatik KH Syukron Ma’mun “Singa Podium” Meninggal Dunia
Penanganan Karhutla Butuh Sinergi Lintas Sektor: WALHI Tegaskan Perusahaan Konsesi Tak Boleh Lepas Tangan
HUT ke-75 Presiden Prabowo Subianto: Ucapan Berkelas Istri Gubernur Kaltim & Kalteng Disorot, Unggahan Setkab Banjir Sindiran
KPK Jerat Kepala BPK Jateng dan Bupati Klaten dalam Skandal Pengondisian Laporan Keuangan
Mengapa Langit Palangka Raya Berubah Kuning Kecokelatan? Ini Bahaya Asap Karhutla & Dampaknya bagi Paru-Paru
Polisi Tangkap Tersangka Begal Ojol di Tanjung Priok, Satu Pelaku Masih Buron
Dinsos Barsel Alokasikan Bansos Sembako dan Kursi Roda pada APBD Perubahan 2026
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:02 WIB

MUI dan Publik Desak Hukuman Mati Kasus Korupsi Bencana BNPB, Begini Respon Resmi KPK

Minggu, 18 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Innalillahi, Ulama Kharismatik KH Syukron Ma’mun “Singa Podium” Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 - 08:55 WIB

Penanganan Karhutla Butuh Sinergi Lintas Sektor: WALHI Tegaskan Perusahaan Konsesi Tak Boleh Lepas Tangan

Minggu, 18 Oktober 2026 - 08:46 WIB

HUT ke-75 Presiden Prabowo Subianto: Ucapan Berkelas Istri Gubernur Kaltim & Kalteng Disorot, Unggahan Setkab Banjir Sindiran

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:16 WIB

KPK Jerat Kepala BPK Jateng dan Bupati Klaten dalam Skandal Pengondisian Laporan Keuangan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 19:59 WIB

Polisi Tangkap Tersangka Begal Ojol di Tanjung Priok, Satu Pelaku Masih Buron

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:18 WIB

Dinsos Barsel Alokasikan Bansos Sembako dan Kursi Roda pada APBD Perubahan 2026

Jumat, 16 Oktober 2026 - 05:31 WIB

Dua Emiten Haji Isam Jaminkan Saham Rp73 T ke Bank Mandiri, Ini Penjelasan Manajemen

Berita Terbaru