Mengenal Motif Tato Dayak: Simbol Identitas dan Status Sosial Masyarakat Kalimantan

- Jurnalis

Selasa, 14 April 2026 - 06:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi tato pada Suku Dayak Bahau, Telingan Aaru. [Ist]

Ilustrasi tato pada Suku Dayak Bahau, Telingan Aaru. [Ist]

1TULAH.COM-Bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan, tato bukanlah sekadar tren estetika atau hiasan tubuh semata. Setiap guratan tinta di kulit adalah simbol identitas, rekam jejak kehidupan, dan panduan spiritual yang mendalam.

Dalam tradisi Dayak, tato—atau yang dikenal dengan istilah Tedak—adalah narasi visual yang menceritakan siapa pemakainya, dari mana mereka berasal, dan apa yang telah mereka lalui.

Tato sebagai Penanda Identitas dan Status Sosial

Dalam struktur sosial masyarakat Dayak, tato berfungsi sebagai kartu identitas yang permanen. Tato tidak bisa dibuat secara sembarangan atau hanya karena keinginan pribadi. Pemberian motif tertentu sangat bergantung pada:

  • Asal Suku: Membedakan sub-suku Dayak satu dengan lainnya (seperti Dayak Iban, Kayan, atau Kenyah).

  • Kedudukan Sosial: Menunjukkan strata seseorang dalam komunitasnya.

  • Pencapaian Hidup: Seseorang yang telah melakukan perjalanan jauh (merantau) atau berjasa besar bagi desanya berhak mendapatkan motif khusus.

Semakin kompleks dan banyak tato yang dimiliki seseorang, biasanya semakin tinggi pula status sosial atau pengalaman hidup yang telah ia tempuh.

Makna Spiritual: Cahaya Penuntun di Alam Baka

Yang membedakan tato Dayak dengan seni rajah modern adalah nilai spiritualitasnya yang kental. Dalam kepercayaan tradisional, tato dianggap sebagai “bekal” untuk kehidupan setelah kematian.

Masyarakat Dayak percaya bahwa setelah meninggal dunia, roh manusia akan menempuh perjalanan panjang menuju alam baka. Di sinilah tato menjalankan peran krusialnya: tato dipercaya akan berubah menjadi cahaya penuntun. Tanpa “obor” dari guratan tinta tersebut, perjalanan roh diyakini akan menjadi gelap, sulit, dan tersesat.

Baca Juga :  Dua Hari Membara! Karhutla di Kotawaringin Barat Capai 10 Hektare, Pemadaman Terhalang Angin Kencang

Membaca Biografi Lewat Motif Tato Dayak

Setiap motif dalam seni tato Dayak memiliki filosofi yang berdiri sendiri. Jika Anda bisa membaca motifnya, Anda seolah sedang membaca buku biografi hidup orang tersebut. Berikut adalah beberapa motif yang paling ikonik:

1. Motif Bunga Terung

Ini adalah motif yang paling umum ditemukan. Biasanya diletakkan di pundak sebagai simbol dimulainya perjalanan hidup. Bunga terung adalah tanda bahwa seorang pemuda telah siap untuk merantau dan mencari pengalaman di luar tanah kelahirannya.

2. Motif Burung Enggang

Burung Enggang adalah hewan suci bagi suku Dayak. Motif ini melambangkan kehormatan, kepemimpinan, dan koneksi dengan dunia atas (kedewataan).

3. Motif Naga atau Aso (Anjing Naga)

Motif ini berfungsi sebagai pelindung. Melambangkan kekuatan dan diyakini dapat menjaga pemiliknya dari gangguan roh jahat.

4. Motif Garis dan Lengkungan

Menggambarkan dinamika perjalanan hidup manusia yang tidak selalu lurus, penuh dengan tantangan, namun tetap memiliki harmoni.

Ritual Pembuatan: Antara Ketahanan Mental dan Izin Leluhur

Proses pembuatan tato tradisional Dayak dilakukan dengan alat sederhana—jarum dan pewarna alami dari jelaga atau tumbuhan. Namun, aspek yang paling istimewa adalah ritualnya.

Baca Juga :  Gelombang Sanksi Nakes Hina Pasien BPJS di Threads: Dari Pemecatan Hingga Pengunduran Diri

“Tato Dayak bukan sekadar menyuntikkan tinta, melainkan sebuah upacara adat.”

Sebelum proses dimulai, biasanya dilakukan upacara permohonan izin kepada leluhur. Rasa sakit yang dirasakan selama proses pentatoan dianggap sebagai ujian mental dan tanda kedewasaan. Ketabahan seseorang dalam menahan sakit mencerminkan keberaniannya dalam menghadapi kerasnya kehidupan.

Relevansi Tato Dayak di Era Modern

Saat ini, motif tato Dayak telah mendunia dan menjadi inspirasi bagi banyak seniman tato internasional. Namun, popularitas ini membawa tantangan tersendiri: risiko hilangnya makna asli.

Bagi masyarakat Dayak, ada kekhawatiran jika motif-motif sakral tersebut hanya digunakan sebagai komoditas fashion tanpa memahami filosofinya. Sangat penting bagi siapa pun yang tertarik pada seni ini untuk:

  1. Menghargai asal-usulnya: Memahami bahwa setiap titik memiliki sejarah.

  2. Menghormati kesakralannya: Tidak sembarang menempatkan motif suci pada bagian tubuh yang dianggap tidak pantas.

  3. Melestarikan narasi: Memastikan cerita di balik motif tetap hidup, bukan sekadar gambar mati.

Tato Dayak adalah bukti nyata bahwa tubuh manusia bisa menjadi kanvas sejarah dan spiritualitas. Ia adalah perpaduan antara keberanian, hubungan dengan alam, dan penghormatan kepada leluhur.

Di era modern di mana segala sesuatu sering dianggap sekadar tren sesaat, tradisi tato Dayak mengingatkan kita bahwa setiap tanda yang kita tinggalkan di dunia ini seharusnya memiliki makna yang mendalam. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Digelar 8 Hari di Tamiang Layang, Bartim Expo 2026 Jadi Ajang Dorong Ekonomi Daerah
Upacara Hari Jadi ke-24 Kabupaten Barito Timur: Momentum Perkuat Sinergi Menuju Bartim SEGAH
Momentum HUT ke-14 IWO, PWI dan IWO Bartim Perkuat Kebersamaan Jurnalis
Komisi I DPRD Kalteng Minta Sinergi Tangani Karhutla di Konsesi PT Adaro, Walhi Catat Ratusan Hotspot!
Dua Hari Membara! Karhutla di Kotawaringin Barat Capai 10 Hektare, Pemadaman Terhalang Angin Kencang
Gelombang Sanksi Nakes Hina Pasien BPJS di Threads: Dari Pemecatan Hingga Pengunduran Diri
Heriyus: Festival Budaya Harus Jadi Ruang Edukasi dan Inspirasi Generasi Muda
Angka Kemiskinan Turun tapi Biaya Hidup Melonjak, Mengapa Ekonomi Terasa Makin Sulit?
Tag :

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 11:03 WIB

Digelar 8 Hari di Tamiang Layang, Bartim Expo 2026 Jadi Ajang Dorong Ekonomi Daerah

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:56 WIB

Upacara Hari Jadi ke-24 Kabupaten Barito Timur: Momentum Perkuat Sinergi Menuju Bartim SEGAH

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:50 WIB

Momentum HUT ke-14 IWO, PWI dan IWO Bartim Perkuat Kebersamaan Jurnalis

Minggu, 9 Agustus 2026 - 17:30 WIB

Dua Hari Membara! Karhutla di Kotawaringin Barat Capai 10 Hektare, Pemadaman Terhalang Angin Kencang

Minggu, 9 Agustus 2026 - 13:25 WIB

Gelombang Sanksi Nakes Hina Pasien BPJS di Threads: Dari Pemecatan Hingga Pengunduran Diri

Minggu, 9 Agustus 2026 - 12:22 WIB

Heriyus: Festival Budaya Harus Jadi Ruang Edukasi dan Inspirasi Generasi Muda

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:51 WIB

Angka Kemiskinan Turun tapi Biaya Hidup Melonjak, Mengapa Ekonomi Terasa Makin Sulit?

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:41 WIB

Raisa Komentar “Kue Putu” di Unggahan Mathis Molinie, Sinyal Kedekatan Makin Kuat?

Berita Terbaru