Miris! Guru Madrasah Ngadu ke DPR Soal Gaji Rp300 Ribu per Bulan

- Jurnalis

Rabu, 11 Februari 2026 - 18:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peserta aksi demo Guru Madrasah di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (11/2/2026). (Suara.com/Dinda)

Peserta aksi demo Guru Madrasah di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (11/2/2026). (Suara.com/Dinda)

1TULAH.COM-Gelombang massa berbaju batik guru memadati pintu utama Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, pada Rabu (11/2/2026). Ribuan tenaga pendidik yang tergabung dalam Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) Indonesia ini datang bukan tanpa alasan.

Di bawah terik matahari, mereka menyuarakan jeritan hati atas ketimpangan kesejahteraan yang selama ini dianggap “menganaktirikan” guru madrasah swasta.

Aksi ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor pendidikan agama sedang tidak baik-baik saja. Para guru menuntut keadilan nyata, bukan sekadar janji manis di atas kertas.

3 Tuntutan Utama: Hapus Dikotomi Guru Madrasah

Koordinator lapangan aksi, Hasbullah, menegaskan bahwa pemerintah harus segera menghapus diskriminasi antara guru di bawah naungan Kemendikdasmen dengan guru madrasah di bawah Kementerian Agama (Kemenag).

Berikut adalah tiga poin utama yang dibawa dalam aksi tersebut:

  1. Penyetaraan Status: Menuntut kesetaraan antara guru madrasah dengan guru sekolah umum agar tidak ada lagi dikotomi dalam kebijakan pendidikan.

  2. Kepastian Status ASN: Mendesak pengangkatan guru PPPK bagi guru madrasah swasta dan kelancaran pencairan tunjangan bulanan yang sering tersendat.

  3. Revisi Regulasi: Meminta perubahan pada UU Sisdiknas dan UU ASN untuk memberikan payung hukum yang pasti bagi eksistensi guru madrasah.

Baca Juga :  Pinkan Mambo Tetap Ngamen di Jalan Meski Dibantu Ivan Gunawan, Netizen: Bunda Maia Benar!

Fakta Pahit: Gaji Rp300 Ribu dan Kerja Sampingan

Salah satu isu paling memilukan yang mencuat dalam aksi ini adalah rendahnya upah guru honorer di daerah. Hasbullah mengungkapkan masih banyak guru madrasah swasta yang menerima gaji jauh di bawah standar kelayakan.

“Kami miris sekali, ada yang digaji Rp300.000 per bulan, apalagi yang belum sertifikasi dan inpassing. Ini sangat tidak sejahtera,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Mat Amin, seorang guru dari Aceh Tamiang, rela terbang ke Jakarta untuk bersuara. Ia mengaku harus mengambil pekerjaan sampingan demi menyambung hidup. “Kami di madrasah swasta seperti dianaktirikan. Padahal tujuan kami sama: mencerdaskan anak bangsa,” ungkap Mat Amin dengan nada getir.

Perbandingan Kondisi Guru Madrasah

Pengabdian Puluhan Tahun: “Menagih Janji Presiden Prabowo”

Kisah haru datang dari Ahmad Maulana Jamaluddin, guru senior asal Bandung Barat yang telah mengabdi sejak 1986. Meski hampir pensiun, ia tetap ikut berdemo demi masa depan rekan-rekan mudanya. Ia mengenang masa sulit saat pertama kali mengajar dengan honor hanya Rp15.000 per bulan.

Kini, Jamaluddin dan ribuan guru lainnya menaruh harapan besar pada pundak Presiden Prabowo Subianto. Mereka menagih komitmen kampanye yang menjanjikan kesejahteraan bagi tenaga pendidik.

“Saya berharap kepada Bapak Prabowo, Presiden pilihan saya. Beliau berjanji ingin menyejahterakan guru dan ingin dekat dengan guru-guru,” tutur Jamaluddin.

Membangun Negara dari Nol

Peran madrasah swasta, terutama di daerah terpencil seperti Cidaun, Cianjur, dinilai sangat krusial. Asep Rahmat Hidayatuloh, peserta aksi lainnya, menyebut madrasah swasta adalah pondasi bangsa yang membangun karakter dari titik nol.

Massa berharap pemerintah segera mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) sebagai solusi cepat untuk menghadirkan keadilan. Tanpa guru madrasah yang sejahtera, cita-cita Indonesia Emas mungkin hanya akan menjadi angan-angan. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

GOW Murung Raya Gelar Lomba Kebaya, Puluhan Lansia Unjuk Kebolehan
Tertunda, Karyawan PT AKT Desak Pembayaran Gaji dan Hak BPJS
BMKG Imbau Warga Waspada Pasca Gempa Magnitudo 6,0 di Timor Tengah Utara
Polisi Tangkap Mahasiswa jadi Operator Judi Online Slot di Jakarta Pusat
Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis per April 2026: Cek Daftar Mobil yang Terdampak
Bantah Intimidasi, Istri Eks Wamenaker Noel Akan Laporkan Irvian Bobby ke Polisi
Klasemen BRI Super League 2025/2026: Borneo FC Tempel Ketat Persib, Selisih Kini Hanya 2 Poin!
Harga BBM & LPG Nonsubsidi Naik: Strategi Efisiensi Pengusaha hingga Fenomena Porsi Makan yang ‘Menciut’
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 19:04 WIB

GOW Murung Raya Gelar Lomba Kebaya, Puluhan Lansia Unjuk Kebolehan

Selasa, 21 April 2026 - 18:35 WIB

Tertunda, Karyawan PT AKT Desak Pembayaran Gaji dan Hak BPJS

Selasa, 21 April 2026 - 13:55 WIB

BMKG Imbau Warga Waspada Pasca Gempa Magnitudo 6,0 di Timor Tengah Utara

Selasa, 21 April 2026 - 13:40 WIB

Polisi Tangkap Mahasiswa jadi Operator Judi Online Slot di Jakarta Pusat

Selasa, 21 April 2026 - 12:49 WIB

Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis per April 2026: Cek Daftar Mobil yang Terdampak

Selasa, 21 April 2026 - 09:41 WIB

Bantah Intimidasi, Istri Eks Wamenaker Noel Akan Laporkan Irvian Bobby ke Polisi

Selasa, 21 April 2026 - 05:57 WIB

Klasemen BRI Super League 2025/2026: Borneo FC Tempel Ketat Persib, Selisih Kini Hanya 2 Poin!

Selasa, 21 April 2026 - 05:47 WIB

Harga BBM & LPG Nonsubsidi Naik: Strategi Efisiensi Pengusaha hingga Fenomena Porsi Makan yang ‘Menciut’

Berita Terbaru

Perwakilan karyawan PT AKT usai audiensi dengan Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kabupaten Murung Raya di Puruk Cahu, Senin (20/4/2026).

Berita

Tertunda, Karyawan PT AKT Desak Pembayaran Gaji dan Hak BPJS

Selasa, 21 Apr 2026 - 18:35 WIB