Perak Meroket 40% dalam Sebulan, Sentuh Level US$ 101 di Awal Tahun 2026

- Jurnalis

Senin, 26 Januari 2026 - 08:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi logam perak [Unsplash]

Ilustrasi logam perak [Unsplash]

1TULAH.COM-Pasar komoditas global kembali mencatatkan sejarah baru. Logam perak, yang sering dijuluki sebagai “emas orang miskin”, membuktikan taringnya dengan performa yang melampaui ekspektasi banyak pihak.

Pada perdagangan Jumat (23/1/2026), harga perak di pasar spot melesat tajam lebih dari 5%, hingga menembus angka psikologis US$ 101 per troy ons.

Lonjakan ini bukanlah fenomena sesaat, melainkan kelanjutan dari reli fantastis yang telah terbentuk sejak tahun 2025. Hanya dalam waktu kurang dari satu bulan di tahun 2026, harga perak sudah terbang sebesar 40%.

Jika menilik ke belakang, sepanjang tahun 2025 perak meroket 147%—sebuah pertumbuhan tahunan paling masif sejak pencatatan data LSEG tahun 1983.

Mengapa Harga Perak Melonjak Begitu Drastis?

Kombinasi antara fungsi industri dan daya tarik investasi menjadi bahan bakar utama kenaikan ini. Tidak seperti emas yang mayoritas menjadi aset penyimpan kekayaan, perak adalah komponen vital dalam teknologi masa depan, mulai dari perhiasan, perangkat elektronik, hingga panel surya.

Rhona O’Connell, analis senior dari StoneX, menggambarkan situasi ini sebagai “kegilaan yang bergerak sendiri”. Faktor harga satuan yang jauh lebih murah dibanding emas—yang kini bertengger di level US$ 4.988 per ons—membuat investor ritel berbondong-bondong memburu perak.

Baca Juga :  Siap Diterapkan 2027, Kebijakan Tidak Naik Kelas Kembali Diberlakukan

Namun, Rhona juga menyisipkan pesan waspada. “Semua orang ingin terlibat, tapi ini juga menyalakan lampu kuning. Ketika retakan mulai muncul, itu bisa menjadi jurang yang dalam. Bersiaplah,” ungkapnya melalui laporan Reuters.

Rasio Emas dan Perak: Angka Terketat dalam 14 Tahun

Para pelaku pasar kini menyoroti Gold-to-Silver Ratio. Indikator ini menunjukkan bahwa saat ini hanya dibutuhkan 50 ons perak untuk mendapatkan satu ons emas. Ini adalah posisi terketat dalam 14 tahun terakhir.

Sebagai perbandingan, pada April tahun lalu, rasionya masih berada di angka 105 ons perak berbanding satu ons emas. Penurunan rasio yang drastis ini mengonfirmasi bahwa performa perak saat ini jauh melampaui emas. Namun, secara teknikal, penguatan yang terlalu cepat sering kali menjadi sinyal akan datangnya koreksi besar.

3 Tantangan Besar di Pasar Fisik Perak

Meski harga di layar perdagangan terbang tinggi, kondisi pasar fisik justru sedang tertekan hebat:

  1. Defisit Struktural: Pasar perak telah mengalami kekurangan pasokan selama lima tahun berturut-turut, dan diprediksi tetap defisit di tahun 2026.

  2. Keterbatasan Pemurnian: Meskipun harga yang mahal mendorong orang melakukan daur ulang, kapasitas kilang pemurnian global saat ini terbatas, sehingga pasokan baru sulit masuk ke pasar dengan cepat.

  3. Stok Gudang Menipis: Cadangan perak di gudang London (LBMA) menyentuh rekor terendah di angka 136 juta ons pada September lalu akibat tingginya permintaan koin fisik dan ETF.

Baca Juga :  Peluang Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI Capai Di Atas 50 Persen, BEI Makin Optimistis

Proyeksi 2026: Waspadai Sinyal “Jenuh Beli”

Para pakar mulai menyarankan sikap konservatif di tengah euforia ini. Michael Widmer, ahli strategi dari Bank of America (BofA), menilai bahwa harga “wajar” perak secara fundamental seharusnya berada di kisaran US$ 60. Ia memperingatkan bahwa permintaan dari industri panel surya mungkin telah mencapai titik jenuhnya.

Senada dengan hal tersebut, David Wilson dari BNP Paribas memprediksi aksi ambil untung (profit taking) akan segera terjadi. Setelah reli panjang sejak akhir November, pasar diprediksi akan melakukan penyesuaian harga dalam waktu dekat.

DISCLAIMER: Investasi pada logam mulia seperti perak dan emas memiliki risiko fluktuasi harga yang sangat tinggi. Harga dapat berubah drastis mengikuti sentimen geopolitik dan ekonomi global.

Artikel ini bukan merupakan rekomendasi beli atau jual. Harap lakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Soal Putusan MA Batalkan Suket SMA Gibran, Gerindra: Hormati Proses Hukum dan Minta Kemenkeu/Kementerian Terkait Beri Penjelasan
Peluang Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI Capai Di Atas 50 Persen, BEI Makin Optimistis
Pemkab Barito Selatan Salurkan Bansos dan Cadangan Pangan untuk Tiga Desa di Dusun Selatan
Pemkab Mura Dukung Peningkatan Kinerja Jamkrida
Kukuhkan ABPEDNAS Mura, Heriyus Harapkan Desa Semakin Kuat dan Mandiri
Kalteng Mulai Hujan, Relawan Karhutla Palangka Raya Tetap Waswas Sisa Titik Api
Pajak Pembalut 11 Persen Tuai Kritik: Dinilai Bebani Kebutuhan Dasar Perempuan
Suket Ijazah Wapres Gibran Tak Sah, PDIP Mulai Jajaki Hak Angket Lintas Fraksi
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 08:19 WIB

Soal Putusan MA Batalkan Suket SMA Gibran, Gerindra: Hormati Proses Hukum dan Minta Kemenkeu/Kementerian Terkait Beri Penjelasan

Minggu, 1 November 2026 - 07:28 WIB

Peluang Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI Capai Di Atas 50 Persen, BEI Makin Optimistis

Minggu, 1 November 2026 - 02:02 WIB

Pemkab Barito Selatan Salurkan Bansos dan Cadangan Pangan untuk Tiga Desa di Dusun Selatan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:32 WIB

Pemkab Mura Dukung Peningkatan Kinerja Jamkrida

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:49 WIB

Kalteng Mulai Hujan, Relawan Karhutla Palangka Raya Tetap Waswas Sisa Titik Api

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:18 WIB

Pajak Pembalut 11 Persen Tuai Kritik: Dinilai Bebani Kebutuhan Dasar Perempuan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:11 WIB

Suket Ijazah Wapres Gibran Tak Sah, PDIP Mulai Jajaki Hak Angket Lintas Fraksi

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 06:07 WIB

Desakan Sanksi Terberat untuk Korporasi Penyebab Karhutla

Berita Terbaru

Sekda Mura, Lynda Kristiane, saat mengikuti Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) PT Jamkrida Kalimantan Tengah Tahun 2026 secara daring melalui Zoom dari Aula A Kantor Bupati Mura, Jumat (30/10/2026).

Berita

Pemkab Mura Dukung Peningkatan Kinerja Jamkrida

Sabtu, 31 Okt 2026 - 22:32 WIB