Waspada! Belasan Bank Bangkrut di Awal 2026, Apakah Tabungan Anda Aman?

- Jurnalis

Jumat, 23 Januari 2026 - 08:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). [Suara.com/Hadi]

Ilustrasi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). [Suara.com/Hadi]

1TULAH.COM-Kabar kurang sedap kembali menerpa industri perbankan tanah air di awal tahun 2026.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan bahwa fenomena bank bangkrut masih terus berlanjut, khususnya pada sektor Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS).

Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution, mengungkapkan bahwa hingga 22 Januari 2026, terdapat belasan bank yang tengah dalam proses likuidasi.

“Sampai dengan hari ini, masih terdapat 18 BPR dan BPRS yang masih dalam proses likuidasi,” ujar Farid dalam konferensi pers di Kantor LPS, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Rekam Jejak Likuidasi Bank di Indonesia

Fenomena tumbangnya bank-bank skala kecil ini sebenarnya bukan hal baru. Berdasarkan data LPS sejak tahun 2005 hingga 31 Desember 2025, lembaga ini telah menangani likuidasi terhadap:

  • 1 Bank Umum

  • 130 BPR

  • 16 BPRS

Selain likuidasi, LPS juga sempat melakukan penempatan modal sementara pada satu bank umum dan melakukan konversi modal (bail-in) pada satu BPR untuk menjaga stabilitas sistem perbankan.

Nasib Dana Nasabah: Layak Bayar vs Tidak Layak Bayar

Total simpanan dari bank-bank yang dilikuidasi tersebut mencapai angka yang cukup fantastis, yakni Rp3,99 triliun milik 500.818 nasabah. Namun, tidak semua dana tersebut bisa dikembalikan oleh LPS.

Baca Juga :  Mencetak generasi kritis di Era AI, PT AlamTri Gandeng Komunitas Pendidikan

Berikut adalah rincian status simpanan nasabah:

  • Simpanan Layak Bayar (SLB): Rp3,4 triliun (85,17%). Dana ini akan diganti oleh LPS sesuai ketentuan yang berlaku.

  • Simpanan Tidak Layak Bayar (STLB): Rp592,14 miliar (14,83%). Dana ini tidak dapat diklaim atau hangus.

Mengapa Simpanan Bisa Tidak Layak Bayar?

Farid Azhar menjelaskan ada tiga faktor utama yang menyebabkan dana nasabah tidak bisa dicairkan saat bank bangkrut:

  1. Suku Bunga di Atas Tingkat Bunga Penjaminan (TBP): Kontribusi terbesar mencapai 64,95%. Nasabah tergiur bunga tinggi yang melebihi batas aman LPS.

  2. Penyebab Bank Tidak Sehat: Sebesar 29,02% disebabkan oleh tindakan nasabah (biasanya pemilik atau pihak terkait) yang membuat bank menjadi sakit.

  3. Simpanan Tidak Tercatat: Sebesar 6,02% karena aliran dana nasabah tidak masuk dalam pembukuan resmi bank.

Baca Juga :  Usulan Harta Pejabat Tak Terlapor LHKPN Dirampas Negara: Langkah Tegas atau Melanggar Hukum?

Kinerja Keuangan LPS Tetap Solid di 2025

Meski angka kebangkrutan bank meningkat, LPS memastikan kondisi keuangan mereka sangat kuat untuk melindungi nasabah. Sepanjang tahun 2025, LPS mencatatkan pertumbuhan aset yang signifikan.

  • Total Aset: Meningkat 13,6% (yoy) menjadi Rp276,2 triliun (unaudited).

  • Cadangan Penjaminan: Naik 13,3% menjadi Rp213,4 triliun.

  • Surplus Tahunan: LPS membukukan surplus sebesar Rp33,8 triliun pada 2025, naik 13,8% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Dengan perkembangan tersebut, LPS memiliki ketahanan yang kuat untuk menjalankan mandat perlindungan simpanan masyarakat,” tandas Farid.

Tips Aman Menyimpan Uang di Bank agar Dijamin LPS

Agar terhindar dari kerugian saat bank dilikuidasi, LPS terus mengimbau masyarakat untuk menerapkan prinsip 3T:

  1. Tercatat dalam pembukuan bank.

  2. Tingkat bunga simpanan tidak melebihi Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) LPS.

  3. Tidak melakukan tindakan yang merugikan bank (seperti kredit macet).

Apakah Anda sudah mengecek apakah bunga deposito Anda sesuai dengan ketentuan LPS? Jangan sampai dana masa depan Anda hilang hanya karena tergiur bunga tinggi sesaat. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Soal Putusan MA Batalkan Suket SMA Gibran, Gerindra: Hormati Proses Hukum dan Minta Kemenkeu/Kementerian Terkait Beri Penjelasan
Peluang Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI Capai Di Atas 50 Persen, BEI Makin Optimistis
Pemkab Barito Selatan Salurkan Bansos dan Cadangan Pangan untuk Tiga Desa di Dusun Selatan
Pemkab Mura Dukung Peningkatan Kinerja Jamkrida
Kukuhkan ABPEDNAS Mura, Heriyus Harapkan Desa Semakin Kuat dan Mandiri
Kalteng Mulai Hujan, Relawan Karhutla Palangka Raya Tetap Waswas Sisa Titik Api
Pajak Pembalut 11 Persen Tuai Kritik: Dinilai Bebani Kebutuhan Dasar Perempuan
Suket Ijazah Wapres Gibran Tak Sah, PDIP Mulai Jajaki Hak Angket Lintas Fraksi
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 08:19 WIB

Soal Putusan MA Batalkan Suket SMA Gibran, Gerindra: Hormati Proses Hukum dan Minta Kemenkeu/Kementerian Terkait Beri Penjelasan

Minggu, 1 November 2026 - 07:28 WIB

Peluang Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI Capai Di Atas 50 Persen, BEI Makin Optimistis

Minggu, 1 November 2026 - 02:02 WIB

Pemkab Barito Selatan Salurkan Bansos dan Cadangan Pangan untuk Tiga Desa di Dusun Selatan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:32 WIB

Pemkab Mura Dukung Peningkatan Kinerja Jamkrida

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:49 WIB

Kalteng Mulai Hujan, Relawan Karhutla Palangka Raya Tetap Waswas Sisa Titik Api

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:18 WIB

Pajak Pembalut 11 Persen Tuai Kritik: Dinilai Bebani Kebutuhan Dasar Perempuan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:11 WIB

Suket Ijazah Wapres Gibran Tak Sah, PDIP Mulai Jajaki Hak Angket Lintas Fraksi

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 06:07 WIB

Desakan Sanksi Terberat untuk Korporasi Penyebab Karhutla

Berita Terbaru

Sekda Mura, Lynda Kristiane, saat mengikuti Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) PT Jamkrida Kalimantan Tengah Tahun 2026 secara daring melalui Zoom dari Aula A Kantor Bupati Mura, Jumat (30/10/2026).

Berita

Pemkab Mura Dukung Peningkatan Kinerja Jamkrida

Sabtu, 31 Okt 2026 - 22:32 WIB