Mengatasi Ketergantungan Impor Bahan Baku Pakan dengan Limbah Kelapa Sawit

- Jurnalis

Kamis, 15 Januari 2026 - 08:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

lustrasi kebun sawit dan peternakan. [Dok Suara.com/AI]

lustrasi kebun sawit dan peternakan. [Dok Suara.com/AI]

1TULAH.COM-Di tengah bayang-bayang tingginya harga daging dan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku pakan, solusi besar sebenarnya terbentang di bawah 15 juta hektare perkebunan kelapa sawit nasional. Namun, potensi ini dinilai belum dimanfaatkan secara optimal karena pola pikir industri yang masih berorientasi pada keuntungan jangka pendek.

Pakar peternakan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Bambang Suhartanto, menyoroti adanya ruang ekologis yang luas di bawah tegakan pohon sawit yang selama ini terabaikan.

Ruang Ekologis Sawit: Bukan Sekadar Gulma

Menurut Bambang, di antara barisan batang sawit dan kanopi daun yang rimbun, terdapat sumber hijauan pakan ternak yang melimpah. Sayangnya, banyak perusahaan sawit masih memandang area ini sebagai beban.

“Ruang itu selama ini lebih sering dipandang sebagai sekadar area gulma yang harus dibersihkan, alih-alih bagian dari sistem produksi pangan yang terintegrasi,” ungkap Bambang di Yogyakarta, Rabu (14/1/2026).

Ia menambahkan bahwa orientasi perusahaan yang hanya fokus pada hasil Tandan Buah Segar (TBS) membuat potensi integrasi antara perkebunan dan peternakan sering kali terabaikan. Padahal, integrasi ini adalah jawaban atas keterbatasan lahan hijauan yang menjadi persoalan struktural peternakan di Indonesia.

Baca Juga :  Mencetak generasi kritis di Era AI, PT AlamTri Gandeng Komunitas Pendidikan

Memutus Rantai Impor Melalui Efisiensi Pakan

Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam industri peternakan. Selama persoalan pakan tidak diselesaikan, Indonesia akan terus terjebak dalam tingginya harga daging dan susu serta ketergantungan pada impor.

Manfaat Integrasi Sawit-Ternak:

  • Pengendalian Gulma Alami: Sapi yang digembalakan di bawah sawit akan memakan gulma, sehingga perusahaan menghemat biaya penyiangan.

  • Pupuk Alami: Kotoran dan urine ternak menjadi nutrisi organik bagi tanah, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

  • Siklus Hara Terjaga: Mengembalikan bahan organik ke tanah membuat ekosistem perkebunan lebih resilien dan berkelanjutan (biodynamic).

“Jika diatur dengan baik, ini adalah simbiosis mutualisme. Perusahaan hemat biaya, peternak dapat pakan gratis, dan lingkungan tetap terjaga,” jelas Guru Besar Fakultas Peternakan UGM tersebut.

Rekayasa Tanaman Pakan: Kunci Kualitas Nutrisi

Selain kuantitas, persoalan kualitas nutrisi pakan juga menjadi tantangan. Nafiatul Umami, Guru Besar Fakultas Peternakan UGM lainnya, menekankan pentingnya pemuliaan tanaman pakan yang adaptif.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan rumput alami. Kita perlu tanaman pakan yang adaptif di lahan kering, di bawah naungan sawit, namun memiliki kualitas nutrisi yang tinggi,” ujar Nafiatul.

Baca Juga :  9 Cara Mengatasi Flek Hitam Menahun di Pipi Usia 45 Tahun ke Atas akibat Sinar Matahari

Inovasi Rumput “Gamma Umami”

Sebagai solusi konkret, UGM telah mengembangkan Rumput Gajah varietas “Gamma Umami”. Keunggulan varietas ini meliputi:

  • Kandungan gula lebih tinggi (disukai ternak).

  • Kemampuan tumbuh kembali yang cepat setelah dipotong.

  • Adaptif di berbagai kondisi lahan marginal.

Nafiatul menambahkan bahwa pemanfaatan limbah sawit seperti bungkil inti sawit sebagai pakan tambahan dapat secara signifikan menekan impor bahan baku seperti jagung atau bungkil kedelai.

Integrasi sebagai Strategi Ekonomi Nasional

Integrasi sawit-ternak bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk mencapai kemandirian pangan. Tekanan global terhadap isu lingkungan dan deforestasi menuntut perusahaan sawit untuk berpikir lebih jauh dengan menerapkan sistem pertanian terpadu.

“Kalau perusahaan sawit mau berpikir lebih jauh, integrasi ternak ini bisa menjadi bagian dari tanggung jawab lingkungan sekaligus strategi ekonomi. Hasilnya bukan hanya sawit, tapi juga daging, susu, dan sistem pangan yang lebih mandiri,” tandas Bambang. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Pajak Pembalut 11 Persen Tuai Kritik: Dinilai Bebani Kebutuhan Dasar Perempuan
Suket Ijazah Wapres Gibran Tak Sah, PDIP Mulai Jajaki Hak Angket Lintas Fraksi
Desakan Sanksi Terberat untuk Korporasi Penyebab Karhutla
DPRD Kalteng Gelar Paripurna Reses: Soroti Aspirasi Dapil dan Penanganan Karhutla Gambut
LBH Yogyakarta Terima 48 Aduan Pengangkapan Sewenang-wenang dan Massa Hilang Pasca-Ricuh Demo Malioboro
Viral Wartawan Wanita Dihalau Polisi di Bundaran HI, Polda Metro Akui Petugas Kurang Paham
Pemprov Kalteng Matangkan Ranperda RPPLH untuk Perkuat Perlindungan Lingkungan Berkelanjutan
SE Mendagri Nomor 400.5/8545/SJ: Pemda Wajib Awasi Dapur Gizi di Daerah!
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:18 WIB

Pajak Pembalut 11 Persen Tuai Kritik: Dinilai Bebani Kebutuhan Dasar Perempuan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:11 WIB

Suket Ijazah Wapres Gibran Tak Sah, PDIP Mulai Jajaki Hak Angket Lintas Fraksi

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 06:07 WIB

Desakan Sanksi Terberat untuk Korporasi Penyebab Karhutla

Jumat, 30 Oktober 2026 - 07:13 WIB

DPRD Kalteng Gelar Paripurna Reses: Soroti Aspirasi Dapil dan Penanganan Karhutla Gambut

Jumat, 30 Oktober 2026 - 07:05 WIB

LBH Yogyakarta Terima 48 Aduan Pengangkapan Sewenang-wenang dan Massa Hilang Pasca-Ricuh Demo Malioboro

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Viral Wartawan Wanita Dihalau Polisi di Bundaran HI, Polda Metro Akui Petugas Kurang Paham

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:46 WIB

Pemprov Kalteng Matangkan Ranperda RPPLH untuk Perkuat Perlindungan Lingkungan Berkelanjutan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:47 WIB

SE Mendagri Nomor 400.5/8545/SJ: Pemda Wajib Awasi Dapur Gizi di Daerah!

Berita Terbaru

Ilustrasi Karhutla Kalimantan (unsplash.com/Matt Howard)

Berita

Desakan Sanksi Terberat untuk Korporasi Penyebab Karhutla

Sabtu, 31 Okt 2026 - 06:07 WIB