Suara Rakyat Terancam? Mengintip Skenario Besar di Balik Wacana Pilkada via DPRD

- Jurnalis

Sabtu, 10 Januari 2026 - 05:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi tarik menarik sistem Pilkada Langsung.(Suara.com)

Ilustrasi tarik menarik sistem Pilkada Langsung.(Suara.com)

1TULAH.COM-Isu pengembalian mekanisme Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ke tangan DPRD kini kembali menjadi bola panas di Senayan. Wacana yang sering dijuluki sebagai “hantu Reformasi” ini dihidupkan lagi oleh koalisi besar partai politik, memicu perdebatan sengit mengenai masa depan kedaulatan rakyat di Indonesia.

Di tengah tarik-menarik kepentingan, publik bertanya-tanya: Apakah ini langkah progresif demi penghematan anggaran, atau justru lonceng kematian bagi demokrasi lokal yang telah diperjuangkan sejak 1998?

Pilkada Langsung vs. Pilkada DPRD: Memahami Perbedaannya

Sebelum menelaah peta politik di DPR, penting bagi kita untuk memahami perbedaan mendasar antara kedua sistem ini:

  • Pilkada Langsung (Pasca-2005): Rakyat memiliki kedaulatan penuh untuk memilih Gubernur, Bupati, atau Wali Kota secara individu di bilik suara. Ini adalah buah manis Reformasi yang bertujuan memutus rantai oligarki daerah.

  • Pilkada via DPRD (Era Orde Baru): Rakyat hanya memilih anggota legislatif (DPRD). Selanjutnya, para elite partai di DPRD yang menentukan siapa kepala daerahnya. Dalam model ini, rakyat tidak memiliki suara langsung terhadap pemimpin eksekutif mereka.

Intisari: Pilkada langsung adalah perwujudan kedaulatan rakyat, sementara Pilkada via DPRD adalah bentuk demokrasi perwakilan yang sangat bergantung pada kesepakatan elite partai.

Peta Kekuatan di DPR: Siapa Pro dan Siapa Kontra?

Berdasarkan situasi politik terkini di awal Januari 2026, terjadi pergeseran kekuatan yang signifikan. Mayoritas fraksi di DPR RI cenderung merapat ke barisan yang menginginkan kembalinya peran DPRD.

Baca Juga :  Menolak Fast Fashion: Mengapa Gen Z Lebih Memilih Thrifting dan Pakaian Bekas?

1. Blok Pro-Pilkada via DPRD (Barisan Efisiensi)

Kelompok ini berargumen bahwa Pilkada langsung memicu polarisasi tajam, biaya politik yang mencekik calon, dan membebani APBN/APBD.

Partai Argumen Utama
Golkar Menekankan aspek efisiensi anggaran dan efektivitas birokrasi.
Gerindra Fokus pada pemangkasan ongkos politik yang memicu korupsi.
PKB Menyatakan ide ini sudah lama digagas untuk menekan biaya tinggi.
PAN & NasDem Menilai sistem ini konstitusional sesuai Pasal 18 ayat (4) UUD 1945.
Demokrat Bersikap pragmatis dan mengikuti arah kebijakan Presiden Prabowo.

Berita Terkait

Kebakaran Gedung Biro Kesra, Ketua DPRD Kalteng Minta Instalasi Listrik Bangunan Tua Segera Dievaluasi
Waspada Partikel PM2.5! Udara Tampak Jernih Tak Jamin Bebas Bahaya Karhutla
Fokus RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Dialokasikan untuk PIP hingga Sekolah Unggul
Puluhan PNS Mura Raih Penghargaan atas Pengabdian 10, 20 hingga 30 Tahun
Menolak Fast Fashion: Mengapa Gen Z Lebih Memilih Thrifting dan Pakaian Bekas?
Kondisi Terbaru Andrie Yunus: Alami Kecemasan Berat dan Jalani Rawat Jalan Pasca-Penyiraman Air Keras
KPK Sita 3 Koper dari Rumah ASN Dinas PUPR Kota Bengkulu
Presiden Prabowo Targetkan 100.000 Sekolah Bakal Diperbaiki pada 2027
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:14 WIB

Kebakaran Gedung Biro Kesra, Ketua DPRD Kalteng Minta Instalasi Listrik Bangunan Tua Segera Dievaluasi

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:09 WIB

Waspada Partikel PM2.5! Udara Tampak Jernih Tak Jamin Bebas Bahaya Karhutla

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:01 WIB

Fokus RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Dialokasikan untuk PIP hingga Sekolah Unggul

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:40 WIB

Puluhan PNS Mura Raih Penghargaan atas Pengabdian 10, 20 hingga 30 Tahun

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:27 WIB

Menolak Fast Fashion: Mengapa Gen Z Lebih Memilih Thrifting dan Pakaian Bekas?

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:44 WIB

KPK Sita 3 Koper dari Rumah ASN Dinas PUPR Kota Bengkulu

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:43 WIB

Presiden Prabowo Targetkan 100.000 Sekolah Bakal Diperbaiki pada 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:40 WIB

KPK Ungkap 27 Pihak dan 313 PIHK Terima Aliran Dana Kasus Kuota Haji

Berita Terbaru