1TULAH.COM-Tanggal 10 November 2025, Hari Pahlawan kembali menjadi momentum krusial, bukan hanya untuk mengenang jasa para pejuang, tetapi juga untuk menanti pengumuman nama-nama baru yang akan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Di tengah pusaran pembahasan Istana Negara yang memperkirakan sepuluh nama akan diumumkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, termasuk sosok kontroversial seperti Presiden ke-2 RI Soeharto dan Presiden ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), muncul kembali kisah-kisah penantian panjang yang membuktikan bahwa perjuangan meraih pengakuan nasional seringkali lebih berliku dari medan perang itu sendiri.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, telah mengonfirmasi bahwa seluruh 40 nama calon—yang diseleksi ketat oleh Dewan Gelar Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) yang diketuai Menteri Kebudayaan Fadli Zon—telah melalui kajian berlapis. Namun, di luar daftar 40 nama yang telah diusulkan ke pusat, ada suara-suara daerah yang meredup dalam proses hierarkis ini.
🇮🇩 Kapten Mudita dan Asa yang Tak Kunjung Padam di Bali
Dari Pulau Dewata, khususnya Kabupaten Bangli, penantian panjang kembali menemui jalan buntu. Nama Anak Agung Gede Anom Mudita atau yang dikenal sebagai Kapten Mudita, sekali lagi tidak terdaftar dalam 40 tokoh yang diusulkan tahun ini. Padahal, Pemerintah Kabupaten Bangli telah memperjuangkan usulan ini sejak tahun 2020.
Kisah Kapten Mudita adalah simbol heroisme di Bali Timur. Ia memimpin perang gerilya melawan tentara NICA pasca-kemerdekaan. Puncak perjuangannya terjadi saat ia gugur di Desa Penglipuran pada 20 November 1947, setahun setelah Puputan Margarana. Pekik “Merdeka 100 Persen” adalah seruan terakhirnya.
Kepala Dinas Sosial Bangli, I Wayan Jimat, menyatakan bahwa seluruh persyaratan administrasi sudah lengkap dan telah dikirimkan ke pusat. Namun, ketidakpastian status usulan membuat harapan itu terasa mengambang.
Meskipun pengakuan nasional belum tiba, masyarakat Bangli tidak pernah melupakan jasanya. Mereka tetap akan menggelar apel penghormatan di Taman Makam Pahlawan Penglipuran setiap tanggal 20 November, menunjukkan bahwa semangat pahlawan sejati hidup abadi di hati rakyatnya.
⛰️ Panglima Batur: Pejuang Barito yang Terlupakan
Kisah penantian serupa, bahkan mungkin lebih lama, datang dari pedalaman Kalimantan, tepatnya dari Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Tokoh legendaris Panglima Batur, seorang panglima Dayak yang beragama Islam dan setia kepada Sultan Muhammad Seman (penerus Pangeran Antasari) dalam Perang Banjar dan Barito, juga belum ditetapkan dalam daftar Pahlawan Nasional.
Panglima Batur (nama asli Batur bin Barui, lahir tahun 1852 di Buntok Baru) dikenal sebagai pejuang yang gigih dan licin, meneruskan perlawanan di wilayah Barito setelah gugurnya Sultan Seman. Ia adalah tulang punggung perjuangan di Barito, memimpin pasukannya dari Benteng Manawing melawan pasukan Belanda.
Tragisnya, Panglima Batur akhirnya tertangkap pada 24 Agustus 1905 setelah dijebak oleh Belanda yang memanfaatkan kasih sayangnya kepada keluarga. Ia dihukum gantung pada 15 September 1905 di Banjarmasin. Warisan perjuangannya begitu besar, hingga namanya diabadikan sebagai nama jalan dan patung di berbagai kota di Kalimantan.
Penantian Pengakuan dari Barito Utara
Meskipun Panglima Batur adalah pahlawan rakyat Barito Utara, usulan agar beliau diakui secara resmi sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah pusat melalui pemerintah daerah telah berulang kali diupayakan.
Proses pengusulan Panglima Batur telah melewati serangkaian prosedur hierarkis yang panjang, termasuk pengumpulan data dan penyelenggaraan seminar-seminar nasional di Palangka Raya sejak tahun 2011 dan 2016 untuk menguji kelayakan dan melengkapi bahan yang diminta oleh Kementerian Sosial (Kemensos).
Namun, terlepas dari lengkapnya dukungan administrasi dan seminar yang telah dilakukan Pemkab Barito Utara dan Pemprov Kalimantan Tengah, hingga kini nama Panglima Batur belum juga masuk dalam daftar prioritas atau pun diumumkan sebagai penerima gelar Pahlawan Nasional. Penantian ini menjadi cerminan bahwa perjuangan meraih pengakuan resmi di tingkat nasional membutuhkan konsistensi dan dorongan politik yang kuat agar nama-nama pahlawan daerah yang berjuang jauh dari pusat kekuasaan dapat memperoleh tempat yang layak dalam sejarah bangsa.
⚖️ Tantangan di Balik Penetapan Gelar Pahlawan Nasional
Kisah Kapten Mudita dan Panglima Batur menunjukkan tantangan dalam proses penetapan Pahlawan Nasional. Proses seleksi oleh Dewan GTK dikenal sangat ketat, membutuhkan kajian berlapis, data sejarah yang valid, dan memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Undang-Undang.
Di satu sisi, sorotan publik dan kekuatan politik terfokus pada nama-nama besar seperti Soeharto (yang sudah diusulkan tiga kali) dan Gus Dur. Di sisi lain, pahlawan-pahlawan daerah seperti Kapten Mudita dari Bangli dan Panglima Batur dari Muara Teweh, meskipun memiliki rekam jejak heroik yang tak terbantahkan di wilayah masing-masing, harus berjuang lebih keras untuk menarik perhatian pusat.
Peristiwa Hari Pahlawan 10 November 2025 nanti bukan hanya menjadi momen pengumuman, tetapi juga pengingat tentang utang sejarah yang belum terbayar kepada para pejuang sejati dari pelosok negeri. Pengakuan Pahlawan Nasional seharusnya menjadi kehormatan bagi seluruh tumpah darah Indonesia, tidak hanya bagi mereka yang berada dalam lingkaran sorotan ibu kota.
Daftar 40 Calon Penerima Gelar Pahlawan Nasional yang Diusulkan:
- H.M. Soeharto – Jawa Tengah
- K.H. Abdurrahman Wahid – Jawa Timur
- Marsinah – Jawa Timur
- Jenderal TNI (Purn) M. Jusuf – Sulawesi Selatan
- Drs. Franciscus Xaverius Seda – Nusa Tenggara Timur
- Andi Makkasau Parenrengi Lawawo – Sulawesi Selatan
- Tuan Rondahaim Saragih – Sumatera Utara
- Marsekal TNI (Purn) R. Suryadi Suryadarma – Jawa
- K.H. Wasyid – Banten
- Mayjen TNI (Purn) dr. Roebiono Kertopati – Jawa Tengah
- KH. Muhammad Yusuf Hasyim – Jawa Timur
- Demmatande – Sulawesi Barat
- KH. Abbas Abdul Jamil – Jawa Barat
- Hajjah Rahmah El Yunusiyyah – Sumatera Barat
- Abdoel Moethalib Sangadji – Maluku
- Jenderal TNI (Purn) Ali Sadikin – DKI Jakarta
- Letnan Kolonel (Anumerta) Charles Choesj Taulu – Sulawesi Utara
- Mr. Gele Harun – Lampung
- Letkol Moch. Sroedji – Jawa Timur
- Prof. Dr. Aloei Saboe – Gorontalo
- Letjen TNI (Purn) Bambang Sugeng – Jawa Tengah
- Mahmud Marzuki – Riau
- Letkol TNI (Purn) Teuku Abdul Hamid Azwar – Aceh
- K.H. Sholeh Iskandar – Jawa Barat
- Syekh Sulaiman Ar-Rasuli – Sumatera Barat
- Zainal Abidin Syah – Maluku Utara
- Prof. Dr. Gerrit Augustinus Siwabessy – Maluku
- Chatib Sulaiman – Sumatera Barat
- Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri – Sulawesi
- K.H. Bisri Syansuri – Jawa
- Sultan Muhammad Salahuddin – Nusa Tenggara Barat
- H.B. Jassin – Gorontalo
- Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja – Jawa Barat
- M. Ali Sastroamidjojo – Jawa Timur
- dr. Kariadi – Jawa Tengah
- R.M. Bambang Soeprapto Dipokoesoemo – Jawa Tengah
- Basoeki Probowinoto – Jawa Tengah
- Raden Soeprapto – Jawa Tengah
- Mochamad Moeffreni Moe’min – DKI Jakarta
- Syaikhona Muhammad Kholil – Jawa Timur. (Sumber:Suara.com)










![Logo Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. [WBALTV]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2025/12/dunia2026-225x129.jpg)

![Logo Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. [WBALTV]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2025/12/dunia2026-360x200.jpg)







