Dukungan Intervensi Asing & Israel: Sisi Gelap Maria Corina Machado Peraih Nobel Perdamaian

- Jurnalis

Senin, 13 Oktober 2025 - 03:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nobel Perdamaian dalam video unggahan Donald Trump. (Twitter/@realDonaldTrump)

Nobel Perdamaian dalam video unggahan Donald Trump. (Twitter/@realDonaldTrump)

1TULAH.COM-Dunia baru saja menyambut peraih Nobel Perdamaian 2025, pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, atas perjuangannya memulihkan demokrasi. Komite Nobel memberikan pujian setinggi langit, menjulukinya sebagai “pejuang perdamaian” dan “tokoh pemersatu utama” yang telah “menjaga nyala demokrasi tetap hidup di Venezuela di tengah kegelapan yang kian pekat.”

Penghargaan ini dipandang sebagai penegasan terhadap perlawanan Machado terhadap otoritarianisme Presiden Nicolás Maduro, terutama karena ia memilih bertahan di negaranya meski menghadapi ancaman serius terhadap nyawanya.

Namun, euforia atas penghargaan bergengsi ini tak bertahan lama. Segera setelah pengumuman, perayaan tersebut langsung berubah menjadi badai kontroversi global.

Jejak digital dan pernyataan politik Machado di masa lalu kini menjadi bumerang yang memicu kecaman luas, mempertanyakan kelayakan dan integritas pemenang Nobel Perdamaian tahun ini.

Sorotan Tajam: Dukungan Machado Terhadap Israel Picu Amarah Global

Inti dari Kontroversi Nobel ini berpusat pada hubungan dan pernyataan lama Machado mengenai Israel. Laporan media internasional menyoroti bagaimana pernyataan lama Machado yang terang-terangan menunjukkan dukungan kuat terhadap Israel dan Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali viral di media sosial.

Dalam salah satu unggahan lawasnya yang kini tersebar luas, Machado dengan tegas menulis, “Perjuangan Venezuela adalah perjuangan Israel,” sembari menyebut negara tersebut sebagai “sekutu sejati kebebasan.”

Baca Juga :  Akhiri Tren Buruk, Inter Miami Bantai Montreal 7-1 Lewat 4 Gol Messi

Pernyataan ini muncul di tengah konflik berkepanjangan di Timur Tengah, dan secara cepat memicu tuduhan bahwa Machado mendukung tindakan yang diklaim sebagai genosida yang terjadi di Gaza.

Kecaman Keras dari CAIR dan Kerusakan Reputasi Komite Nobel

Gelombang protes semakin besar ketika Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), sebuah organisasi hak-hak sipil terkemuka, ikut angkat bicara.

CAIR mengecam keras penetapan Machado sebagai pemenang, menyebutnya sebagai “keputusan yang tidak berperikemanusiaan” dan berpotensi besar merusak reputasi Komite Nobel yang telah dibangun selama puluhan tahun. CAIR bahkan mendesak Machado untuk mencabut dukungannya terhadap Partai Likud dan fasisme anti-Muslim di Eropa, atau Komite Nobel harus meninjau kembali keputusannya.

Seruan Intervensi Asing dan Keterlibatan Donald Trump

Kontroversi Machado tidak berhenti pada isu Timur Tengah. Ia juga pernah menuai kritik tajam atas suratnya pada 2018 yang ditujukan kepada para pemimpin Israel dan Argentina.

Dalam surat itu, ia secara terbuka meminta dukungan untuk “membongkar rezim kriminal Venezuela,” sebuah seruan yang diartikan oleh banyak pihak sebagai permintaan intervensi asing dalam urusan domestik negara tersebut. Permintaan ini berlawanan dengan prinsip non-intervensi yang sering kali menjadi dasar diplomasi perdamaian global.

Baca Juga :  Prabowo di Muktamar ke-35 NU: Indonesia Segera Bangkit Jadi Negara Kuat dan Mandiri

Situasi menjadi semakin rumit ketika mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ikut terseret dalam pusaran ini. Trump, yang pemerintahannya pernah menuduh Komite Nobel “mengutamakan politik ketimbang perdamaian,” menyatakan “senang untuknya” setelah Machado mendedikasikan penghargaan tersebut untuk dirinya.

Dedikasi ini, dari peraih Nobel Perdamaian kepada seorang mantan Presiden AS yang dikenal dengan kebijakan luar negerinya yang kontroversial, menambah lapisan polemik geopolitik pada penghargaan tersebut.

Pertanyaan Abadi: Apakah Komite Nobel Tetap Independen?

Penghargaan Nobel Perdamaian 2025 kepada Maria Corina Machado telah memicu debat sengit mengenai batasan moral dan politik seorang “pejuang perdamaian.”

Di satu sisi, Komite Nobel memuji keberanian Machado dalam memperjuangkan Demokrasi Venezuela. Di sisi lain, kritikus berpendapat bahwa pandangan politik Machado di masa lalu, terutama yang berkaitan dengan isu Israel-Palestina, telah mencoreng nilai-nilai universal perdamaian dan kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh Hadiah Nobel.

Kontroversi ini sekali lagi memunculkan pertanyaan yang telah lama menghantui institusi tersebut: Apakah Komite Nobel masih mampu menjaga independensinya dari pengaruh geopolitik dan politik sayap kanan global? Bagi banyak pihak, Hadiah Nobel Perdamaian 2025 ini telah menjadi simbol pertentangan baru antara perjuangan demokrasi domestik dan pandangan politik luar negeri yang memecah belah. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Profil Gus Kikin, Cicit KH Hasyim Asy’ari yang Kini Resmi Memimpin PBNU
Larangan Membakar Lahan Bukan Hapus Tradisi, Politisi Golkar di DPRD Kalteng Ini Minta Peladang Adat Beralih ke Metode Tanpa Bakar
Presiden Prabowo Minta Syarat Rekrutmen TNI Buka Privilese untuk Suku Dayak Pedalaman
Wakili Kalteng, Kafilah Murung Raya Sabet Juara III Tilawah Al-Quran
Karhutla Mengamuk di Kalimantan dan Sumatera: Titik Panas Kalteng Melonjak Tembus 5.391
Tak Hanya Korupsi, Ini 13 Jenis Kejahatan yang Masuk Draf RUU Perampasan Aset
Soal Praperadilan Lodewyk Pusung, Kejagung Tekankan Batas Waktu Pengajuan
DPRD Kalteng Tata Ulang Pos Hibah APBD 2027, Anggaran Dialihkan ke Belanja Modal
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 09:18 WIB

Profil Gus Kikin, Cicit KH Hasyim Asy’ari yang Kini Resmi Memimpin PBNU

Senin, 31 Agustus 2026 - 20:01 WIB

Larangan Membakar Lahan Bukan Hapus Tradisi, Politisi Golkar di DPRD Kalteng Ini Minta Peladang Adat Beralih ke Metode Tanpa Bakar

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Presiden Prabowo Minta Syarat Rekrutmen TNI Buka Privilese untuk Suku Dayak Pedalaman

Senin, 31 Agustus 2026 - 13:05 WIB

Wakili Kalteng, Kafilah Murung Raya Sabet Juara III Tilawah Al-Quran

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:13 WIB

Karhutla Mengamuk di Kalimantan dan Sumatera: Titik Panas Kalteng Melonjak Tembus 5.391

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:05 WIB

Tak Hanya Korupsi, Ini 13 Jenis Kejahatan yang Masuk Draf RUU Perampasan Aset

Minggu, 30 Agustus 2026 - 16:51 WIB

Soal Praperadilan Lodewyk Pusung, Kejagung Tekankan Batas Waktu Pengajuan

Minggu, 30 Agustus 2026 - 15:14 WIB

DPRD Kalteng Tata Ulang Pos Hibah APBD 2027, Anggaran Dialihkan ke Belanja Modal

Berita Terbaru