Waspada! Ancaman Gempa Raksasa Megathrust Indonesia Jauh Lebih Mengkhawatirkan dari Kamchatka

- Jurnalis

Minggu, 3 Agustus 2025 - 15:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wilayah RI Rawan Megathrust (Unsplash)

Wilayah RI Rawan Megathrust (Unsplash)

1TULAH.COM-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan serius yang patut menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyoroti potensi gempa raksasa dari zona megathrust di Indonesia yang kondisinya disebut jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan wilayah Kamchatka di Rusia Timur, yang baru saja diguncang gempa dahsyat dan tsunami M8,7 pada 30 Juli 2025.

Peringatan ini datang langsung dari Daryono, yang menyoroti lamanya ‘kekosongan’ gempa besar di beberapa wilayah Indonesia, sebuah fenomena yang dikenal sebagai seismic gap. Fenomena inilah yang menjadi kunci mengapa Indonesia menghadapi risiko yang lebih tinggi.

Mengapa Zona Megathrust Indonesia Lebih Berbahaya?

“Zona megathrust kita lebih mengkhawatirkan,” tulis Daryono dalam unggahan di akun media sosial pribadinya, dikutip Minggu (3/8/2025).

Pernyataan ini didasari oleh perbandingan usia seismic gap antara Indonesia dan Kamchatka.

Sebagai perbandingan, gempa M8,7 yang mengguncang Kamchatka, Rusia, pada 30 Juli 2025, meskipun dahsyat, zona tersebut sebenarnya belum lama melepaskan energinya. Daryono menjelaskan, “Jika kita hitung lamanya kekosongan gempa besar atau seismic gap di Kamchatka sejak 1952 hingga saat ini, maka ternyata usia seismic gap-nya baru berusia 73 tahun.”

Baca Juga :  Tetap Sejuk dan Eksis! Goojodoq GFS025 Jadi Pendamping Wajib Saat Cuaca Panas Ekstrem

Kondisi ini berbanding terbalik dengan beberapa zona megathrust di Indonesia yang telah ‘tertidur’ dan terus menabung energi selama lebih dari dua abad. Ini berarti potensi akumulasi energi yang akan dilepaskan jauh lebih besar, menghasilkan gempa yang lebih dahsyat.

Dua Zona Megathrust Kritis di Indonesia

Daryono secara khusus menyoroti dua zona yang paling kritis dan membutuhkan kewaspadaan tinggi:

1. Megathrust Selatan Banten dan Selat Sunda

Zona ini telah mengalami kekosongan gempa besar selama 267 tahun. Terakhir kali zona ini melepaskan energi besar adalah pada abad ke-18. Akumulasi energi selama lebih dari dua setengah abad ini menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap gempa raksasa di masa mendatang.

2. Megathrust Mentawai – Siberut

Zona ini bahkan sudah lebih lama lagi ‘tertidur’, mengalami kekosongan selama 227 tahun sejak gempa besar terakhir pada tahun 1797. Berlokasi di lepas pantai Sumatra Barat, zona ini memiliki sejarah panjang gempa dan tsunami yang merusak. Kekosongan energi selama lebih dari dua abad ini menimbulkan kekhawatiran serius akan potensi pelepasan energi yang masif.

Baca Juga :  Miris! KPK Sebut Pejabat Hasil Pilkada 2024 Korupsi Demi Kepentingan Pribadi dan THR

“Sebagai perbandingan untuk ancaman megathrust di Indonesia, zona Seismic Gap Megathrust Selatan Banten dan Selat Sunda kini sudah berusia 267 tahun… dan zona Seismic Gap Megathrust Mentawai dan Siberut berusia 227 tahun karena gempa besar megathrust yang memicu tsunami terakhir tahun 1797,” jelas Daryono.

Waktu yang Tinggal Menunggu

Daryono menutup analisisnya dengan sebuah kesimpulan yang tegas dan menjadi peringatan keras bagi semua pihak. “Megathrust Selat Sunda dan Mentawai usianya sudah lebih dari 200 tahun dan belum rilis energi gempa besar, yang tampaknya tinggal menunggu waktu. Zona Megathrust kita sebenarnya jauh lebih mengkhawatirkan daripada Zona Megathrust lain di dunia,” tandasnya.

Peringatan dari BMKG ini menekankan pentingnya kesiapsiagaan bencana gempa bumi dan tsunami di Indonesia. Masyarakat diharapkan untuk memahami risiko, meningkatkan pengetahuan tentang mitigasi bencana, dan mengikuti arahan dari pihak berwenang. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

GOW Murung Raya Gelar Lomba Kebaya, Puluhan Lansia Unjuk Kebolehan
Tertunda, Karyawan PT AKT Desak Pembayaran Gaji dan Hak BPJS
BMKG Imbau Warga Waspada Pasca Gempa Magnitudo 6,0 di Timor Tengah Utara
Polisi Tangkap Mahasiswa jadi Operator Judi Online Slot di Jakarta Pusat
Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis per April 2026: Cek Daftar Mobil yang Terdampak
Bantah Intimidasi, Istri Eks Wamenaker Noel Akan Laporkan Irvian Bobby ke Polisi
Klasemen BRI Super League 2025/2026: Borneo FC Tempel Ketat Persib, Selisih Kini Hanya 2 Poin!
Harga BBM & LPG Nonsubsidi Naik: Strategi Efisiensi Pengusaha hingga Fenomena Porsi Makan yang ‘Menciut’
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 19:04 WIB

GOW Murung Raya Gelar Lomba Kebaya, Puluhan Lansia Unjuk Kebolehan

Selasa, 21 April 2026 - 18:35 WIB

Tertunda, Karyawan PT AKT Desak Pembayaran Gaji dan Hak BPJS

Selasa, 21 April 2026 - 13:55 WIB

BMKG Imbau Warga Waspada Pasca Gempa Magnitudo 6,0 di Timor Tengah Utara

Selasa, 21 April 2026 - 13:40 WIB

Polisi Tangkap Mahasiswa jadi Operator Judi Online Slot di Jakarta Pusat

Selasa, 21 April 2026 - 12:49 WIB

Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis per April 2026: Cek Daftar Mobil yang Terdampak

Selasa, 21 April 2026 - 09:41 WIB

Bantah Intimidasi, Istri Eks Wamenaker Noel Akan Laporkan Irvian Bobby ke Polisi

Selasa, 21 April 2026 - 05:57 WIB

Klasemen BRI Super League 2025/2026: Borneo FC Tempel Ketat Persib, Selisih Kini Hanya 2 Poin!

Selasa, 21 April 2026 - 05:47 WIB

Harga BBM & LPG Nonsubsidi Naik: Strategi Efisiensi Pengusaha hingga Fenomena Porsi Makan yang ‘Menciut’

Berita Terbaru

Perwakilan karyawan PT AKT usai audiensi dengan Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kabupaten Murung Raya di Puruk Cahu, Senin (20/4/2026).

Berita

Tertunda, Karyawan PT AKT Desak Pembayaran Gaji dan Hak BPJS

Selasa, 21 Apr 2026 - 18:35 WIB