Menu

Mode Gelap

Berita · 8 Sep 2022 08:12 WIB

Alasan Perubahan Iklim, Bank Terbesar di Singapura Kurangi Suntikan Dana ke PT Adaro, Bagaimana dengan Perbankan Pemerintah?


 Ilustarsi; Pertambangan Batubara.foto.dok/1tulah.com Perbesar

Ilustarsi; Pertambangan Batubara.foto.dok/1tulah.com

1tulah.com, JAKARTA-Komitmen perbankan internasional dalam mendukung laju dampak perubahan iklim tampaknya sangat menggembirakan.

Terlihat dari keputusan The Development Bank of Singapore atau DBS yang menyatakan keluar dari pendanaan aktivitas eksposer batubara  PT Adaro.

Penghentian suntikan pendanaan ini akan dilakukan secara bertahap hingga tahun 2039. Sejak akhir 2022 ini, pengurangan pendanaan akan dilakukan secara signifikan.

Meskipun saat ini laba PT Adaro Energy Tbk (ADRO) melejit sepanjang semester I/2022, kreditur tetap meninggalkan Adaro–perusahaan batubara terbesar kedua tersebut.

Menyusul pengumuman Standard Chartered yang akan menghentikan seluruh pendanaan ke Adaro, Bank Singapura terbesar, DBS, juga menyatakan bahwa mereka mulai mengencangkan kebijakan penghentian pinjaman ke sektor batu bara, seperti yang diberitakan oleh media Singapura Strait Times

“Eksposur kami di anak perusahaan Adaro yang terlibat di sektor batu bara termal akan berkurang secara signifikan di akhir tahun 2022. Kami tidak ada niat untuk memperbarui pendanaan jika entitas bisnis tersebut masih didominasi batu bara termal,” demikian Strait Times mengutip juru bicara dari DBS dalam siaran pers yang diterima 1tulah.com, Rabu (7/9/2022).

Di tahun 2021, batu bara menyumbangkan 96% dari pendapatan Adaro, tanpa ada rencana untuk mengurangi ketergantungan dari batu-bara. Sedangkan, DBS berkomitmen untuk mengurangi eksposur batu-bara sampai dengan nol di tahun 2039.

Saat ini, batu-bara merupakan industri yang akan hilang di masa depan (sunset), hal ini-lah yang mendorong pendana meninggalkan batu-bara.

“Keputusan institusi keuangan global semacam ini menunjukkan bahwa masa depan cerah bagi industri batubara hampir sulit terjadi. Padahal Adaro menjadi salah satu perusahaan batu bara terbesar yang mendapatkan laba jumbo dari masa windfall batubara. Namun,tetap saja hal ini tidak mampu mengurungkan niat lembaga finansial untuk segera menarik diri dan pergi,” ujar Andri Prasetiyo, Peneliti di Trend Asia.

“Ini seharusnya juga menjadi pelajaran penting bagi industri batubara, bahwa di tengah penguatan komitmen transisi energi ke depan, terdapat indikasi momentum momentum windfall yang indah sebagaimana sedang terjadi saat ini, tidak otomatis akan terus bertahan menjadi laba di masa depan. Perusahaan harus semakin serius dan segera mempercepat rencana transisinya” tambah Andri.

Analisa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan International Energy Agency memproyeksikan, untuk mencapai net-zero di tahun 2060, PLTU dengan teknologi lama di Indonesia dapat diberhentikan (phase-out) di tahun 2050-an.

Terlebih lagi, Indonesia mengekspor 85% batu-baranya ke negara yang memiliki target net-zero, hal ini menimbulkan keraguan atas prospek permintaan batu-bara jangka panjang.

“Permintaan batu-bara yang menurun secara drastis mengindikasikan bahwa pembiayaan ke batu bara memiliki risiko kerugian finansial yang semakin meningkat. Risiko keuangan dari investasi batu-bara terlihat jelas dari keputusan lembaga keuangan global maupun regional phase out dari batu-bara,” jelas Nabilla Gunawan, Indonesia Campaigner di Market Forces.

Risiko transisi timbul karena perubahan kebijakan dalam mengurangi ketergantungan pada batu bara, sebagai upaya mengurangi dampak perubahan iklim.

“Bank domestik harus segera mengambil langkah untuk menghindari potensi kerugian yang besar yang ditimbulkan dari investasi batu-bara. Mereka harus memiliki kebijakan untuk menghentikan pendanaan ke sektor batu-bara.” tambah Nabilla.

Sejak 2015, total pinjaman langsung yang diberikan empat Bank Mandiri, BCA, BNI, dan BRI untuk perusahaan batu bara dalam negeri mencapai 3,5 miliar dolar AS.

“Keputusan DBS dan bank-bank besar lainnya untuk meninggalkan Adaro merupakan sinyal kuat agar seluruh pelaku bisnis batu-bara transisi keluar dari batu-bara sekarang.”

“Seluruh bank di Indonesia dan Asia yang serius tentang komitmen krisis iklim harus berhenti mendanai batu-bara sekarang,” tutup Nabilla. (Adi)

Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Polisi Masih Selidiki Penyebab Ledakan di Asrama Polisi

26 September 2022 - 10:18 WIB

Polisi masih selidiki penyebab ledakan di Asrama Polisi (suara.com)

Viral Suara Pengamen Bawakan Lagu Bon Jovi, Warganet : Keren Suaranya

26 September 2022 - 09:40 WIB

Viral pengamen mirip vokalis Bon Jovi (tangkapan youtube)

Tukang Ojek dan Nelayan Bakal Terima Bansos, Pencairan Oktober-Desember, Lengkapi Syarat-syaratnya Ini

26 September 2022 - 08:36 WIB

Sadis, Polwan BNN Diduga Aniaya dan Sekap Perempuan

26 September 2022 - 08:33 WIB

Ilustrasi - polwan BNN diduga aniaya dan sekap perempuan (suara.com)

Kejurda Grasstrack 2022 Barsel, Jaring Pebalap Lokal di Ajang Porprov 2023

26 September 2022 - 08:25 WIB

Berteman dengan 4 Zodiak Ini, Dijamin deh Selalu Riang Gembira

26 September 2022 - 07:50 WIB

Trending di Berita