1tulah.com,BUNTOK – Kementerian Agama (Kemenag) Barito Selatan, Kalimantan Tengah pada tahun 2022 ini mencanangkan Tahun toleransi. Untuk memahami hal tersebut dibutuhkan rasa agar memiliki keseimbangan sikap dalam beragama dan berbangsa. Bagaimana caranya?
Kepala Kemenag Barito Selatan Arbaja menjelaskan, untuk memahami pentingnya Tahun Toleransi 2022 memang dibutuhkan rasa agar memiliki keseimbangan sikap. Tidak perlu muluk-muluk dengan analisis njelimet.
Jika rasa dalam beragama dan berbangsa telah berkurang, atau bahkan hilang sama sekali, maka semua hal yang dilihat akan menjadi sepat. Ibarat makanan akan terasa hambar atau anyep, sehingga wajar muncul pandangan atau narasi yang selalu negatif.
Diceritakannya, Rasulullah SAW adalah sosok nyata bagaimana menggunakan rasa dalam beragama dikaitkan dengan hubungan antar sesama yang berbeda. Suatu ketika nabi sedang bercengkrama bersama para sahabatnya. Kemudian ada sekelompok orang lewat sambil memanggul jenazah yang beragama Yahudi.
Lalu Nabi secara spontan berdiri sebagai bentuk hormat. Tapi tindakan Nabi itu justru mendapat protes dari sahabatnya. Wahai Nabi, kenapa engkau berdiri, bukankah jenazah itu seorang Yahudi? Betul, meski dia Yahudi, setidaknya ia adalah seorang manusia yang perlu kita muliakan, jawab Rasulullah SAW.
“Sikap humanis Rasulullah tersebut tentu didasarkan dari rasa empati yang begitu dalam kepada sesama,” ucapnya.
Hal ini, lanjutnya diteladankan juga oleh sahabat Rasulullah Ali bin Abi Thalib RA yang sering dikutip oleh Gus Menteri Yaqut Cholil Qoumas. “Mereka yang tidak seiman adalah saudara dalam kemanusiaan”. Konteks dari pernyataan Ali bin Abi Thalib tersebut jelas sekali didasarkan pada perlunya orang beragama tetap mengoptimalkan fungsi hati (heart), yang di antara fungsinya untuk berempati kepada sesama.
Lalu apa hubungannya dengan pencanangan Tahun Toleransi 2022? Arbaja menambahkan, betul sekali bahwa bangsa kita memang dihuni oleh masyarakat yang beragam, baik agama, keyakinan, budaya, adat istiadat, suku, bahasa, warna kulit, dan sebagainya, serta faktanya hingga saat ini secara umum Indonesia tetap rukun, damai, dan toleran. Namun, belakangan ini banyak pemahaman, sikap, dan praktik ekstrem baik kanan maupun kiri terus bermunculan.
Sehingga, lanjut ia pencanangan Tahun Toleransi 2022 merupakan momentum penting untuk konsolidasi budaya dan merekatkan serta menguatkan kembali pentingnya toleransi di negara kita. Apalagi salah satu dari empat indikator penguatan moderasi beragama yang menjadi program prioritas dalam RPJMN 2020-2024 adalah toleransi. Tiga lainnya, yaitu anti kekerasan, wawasan kebangsaan, dan ramah tradisi.
Ia menambahkan, tidak ada maksud sama sekali program besar ini ditujukan untuk mengerdilkan eksistensi agama tertentu, apalagi untuk mematikan nilai-nilai agama demi proyek sekularisasi global yang sering dituduhkan.
“Program ini merupakan kebutuhan nyata atas kondisi masyarakat kita, untuk memastikan kehidupan umat beragama yang rukun, damai, dan toleran. Wallahu a’lam bish-shawab,” kata Arbaja. (Alifasnyah)

![Penyanyi Rossa melaporkan 78 akun medsos yang memfitnah dirinya oplas ke Bareskrim Polri, Jumat (17/4/2026). [Tiara Rosana/Suara.com]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/rossa-360x200.jpg)


![Twibbon Idul Fitri 1447 H. [kolase Twibbonize]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/03/tiwbbon-lebaran-360x200.jpg)
![Vidi Aldiano meninggal dunia, pidato Sheila Dara viral: suami saya selamanya. [Instagram]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/03/vidi-aldioano-istri-360x200.jpg)




















