Rupiah Goyah Dihantam Arus Modal Asing Keluar, BI Pasang Badan Jaga Stabilitas

- Jurnalis

Minggu, 24 Agustus 2025 - 12:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aliran modal asing tercatat masih deras keluar (capital outflow) sepanjang 8 bulan pertama tahun 2025.

Aliran modal asing tercatat masih deras keluar (capital outflow) sepanjang 8 bulan pertama tahun 2025.

1TULAH.COM-Nilai tukar Rupiah kembali berada di bawah tekanan hebat setelah data terbaru dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan adanya aliran modal asing keluar (capital outflow) yang masif dari pasar keuangan domestik.

Sepanjang delapan bulan pertama tahun 2025, arus keluar modal ini mencapai triliunan Rupiah, membuat Rupiah tak berdaya hingga menembus level psikologis Rp 16.300 per dolar AS.

Fenomena ini menjadi sorotan utama bagi para investor, pelaku bisnis, dan masyarakat luas yang merasakan dampak langsung dari pelemahan mata uang. Meski demikian, di tengah tantangan tersebut, ada secercah harapan dari indikator risiko investasi yang justru menunjukkan perbaikan.

Capital Outflow Capai Rp 52,99 Triliun, Rupiah Tertekan

Direktur Komunikasi BI, Ramdan Denny, mengungkapkan bahwa total aliran modal asing keluar secara neto dari pasar keuangan Indonesia telah mencapai angka mencengangkan, yaitu Rp 52,99 triliun. Angka ini merupakan akumulasi dari data setelmen hingga 21 Agustus 2025.

Secara lebih rinci, nonresiden atau investor asing tercatat melakukan jual neto sebesar Rp 52,99 triliun di pasar saham dan Rp 85,83 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Namun, di sisi lain, mereka juga tercatat beli neto sebesar Rp 71,63 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Baca Juga :  Kemenag Siapkan Skema Kontingensi untuk Petugas Haji di Tengah Konflik Timteng

Data ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi investor asing yang cenderung menarik dananya dari aset berisiko seperti saham dan SRBI, namun masih menempatkan sebagian dananya di SBN yang dianggap lebih stabil.

Imbasnya, tekanan pada Rupiah tak terhindarkan. Permintaan dolar AS yang tinggi akibat keluarnya dana investor asing membuat nilai tukar Rupiah tertekan. Pelemahan ini berpotensi memicu kenaikan harga barang impor, inflasi, dan mengikis daya beli masyarakat.

Optimisme di Balik Premi Risiko Investasi yang Membaik

Di tengah badai capital outflow, ada kabar baik yang datang dari sisi premi risiko investasi. Credit Default Swap (CDS) Indonesia untuk tenor lima tahun justru menunjukkan tren perbaikan, turun ke level 66,97 basis poin (bps) per 21 Agustus 2025. Angka ini lebih baik dari posisi pekan sebelumnya yang berada di 67,72 bps.

Sebagai informasi, CDS adalah indikator penting untuk mengukur risiko berinvestasi di SBN. Semakin kecil skor CDS, maka persepsi risiko investasi di Indonesia dianggap semakin rendah.

Penurunan skor CDS ini mengirimkan sinyal positif bahwa meskipun pasar keuangan sedang bergejolak, fundamental ekonomi Indonesia masih dianggap cukup kuat. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap kemampuan pemerintah dan BI dalam mengelola risiko.

Baca Juga :  Nostalgia di SUGBK: Barcelona Legends Cukur DRX World 3-0, Rivaldo Jadi Bintang

Komitmen Bank Indonesia Jaga Stabilitas

Menyikapi dinamika pasar yang volatil, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Melalui Direktur Komunikasi, Ramdan Denny, BI menyatakan akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait lainnya.

“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” jelas Ramdan.

Langkah-langkah strategis seperti intervensi di pasar valuta asing dan SBN, serta penyesuaian kebijakan moneter, akan terus dioptimalkan oleh BI untuk meredam tekanan dan memastikan pasar keuangan tetap stabil.

Meskipun pasar keuangan Indonesia sedang menghadapi tantangan berat akibat arus modal asing keluar yang signifikan, respons cepat dan terukur dari Bank Indonesia diharapkan mampu meredam gejolak yang terjadi. Kombinasi antara fundamental ekonomi yang solid, terlihat dari perbaikan CDS, dan koordinasi yang kuat antarotoritas menjadi kunci untuk menjaga stabilitas Rupiah dan perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian global. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

BMKG Imbau Warga Waspada Pasca Gempa Magnitudo 6,0 di Timor Tengah Utara
Polisi Tangkap Mahasiswa jadi Operator Judi Online Slot di Jakarta Pusat
Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis per April 2026: Cek Daftar Mobil yang Terdampak
Bantah Intimidasi, Istri Eks Wamenaker Noel Akan Laporkan Irvian Bobby ke Polisi
Klasemen BRI Super League 2025/2026: Borneo FC Tempel Ketat Persib, Selisih Kini Hanya 2 Poin!
Harga BBM & LPG Nonsubsidi Naik: Strategi Efisiensi Pengusaha hingga Fenomena Porsi Makan yang ‘Menciut’
Murung Raya Evaluasi Program 15 Desa Prioritas Stunting
Tekan Angka Stunting, Pemkab Mura Perkuat Kolaborasi 
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 13:40 WIB

Polisi Tangkap Mahasiswa jadi Operator Judi Online Slot di Jakarta Pusat

Selasa, 21 April 2026 - 12:49 WIB

Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis per April 2026: Cek Daftar Mobil yang Terdampak

Selasa, 21 April 2026 - 09:41 WIB

Bantah Intimidasi, Istri Eks Wamenaker Noel Akan Laporkan Irvian Bobby ke Polisi

Selasa, 21 April 2026 - 05:57 WIB

Klasemen BRI Super League 2025/2026: Borneo FC Tempel Ketat Persib, Selisih Kini Hanya 2 Poin!

Selasa, 21 April 2026 - 05:47 WIB

Harga BBM & LPG Nonsubsidi Naik: Strategi Efisiensi Pengusaha hingga Fenomena Porsi Makan yang ‘Menciut’

Senin, 20 April 2026 - 21:36 WIB

Murung Raya Evaluasi Program 15 Desa Prioritas Stunting

Senin, 20 April 2026 - 20:48 WIB

Tekan Angka Stunting, Pemkab Mura Perkuat Kolaborasi 

Senin, 20 April 2026 - 16:39 WIB

Polres Lebak Usut Dugaan Penipuan Travel Umrah Bodong Rugikan Jemaah Ratusan Juta

Berita Terbaru