1TULAH.COM-Sebuah wacana kontroversial mencuat dari Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin. Beliau mengusulkan pemberian kewenangan kepada dokter umum untuk melakukan operasi caesar dalam kondisi tertentu.
Usulan yang disampaikan dalam diskusi bersama jurnalis senior Rosiana Silalahi ini seketika memantik perdebatan sengit di berbagai platform media sosial, melibatkan tenaga medis hingga masyarakat luas.
Menkes Soroti Ketimpangan Dokter Spesialis Kandungan di Daerah Terpencil
Dalam potongan video yang viral di media sosial, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan kekhawatirannya terkait distribusi dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn) yang tidak merata di Indonesia. Beliau menyoroti kondisi di wilayah terpencil dan pelosok yang seringkali kekurangan tenaga ahli tersebut.
Sambil menirukan gerakan tangan menyayat, Menkes menyampaikan, “Kalau dulu dokter umum bisa melakukan caesar, walaupun motongnya begini ya, bukannya begini.”
Lebih lanjut, beliau mempertanyakan perubahan kebijakan yang melarang dokter umum melakukan tindakan yang dulunya diperbolehkan. “Tiba-tiba sekarang nggak boleh lagi dokter umum, karena yang melakukan misalnya hanya spesialis obgyn. Tapi apakah spesialis obgyn ada di 514 kabupaten/kota? Kalau dia cuma ada di 200, yang 300 gimana? Kalau menurut saya, 300 dokter umumnya diajarin dong, boleh,” ujarnya, seperti dikutip dari Suara.com pada Minggu (11/5/2025).
Reaksi Keras dari Organisasi Profesi Medis dan Dokter
Pernyataan Menkes ini langsung menuai respons beragam, terutama dari kalangan profesional medis. Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim B. Yanuarso, melalui akun Instagram pribadinya, @dr.piprim, menyampaikan pertanyaan retoris yang menggambarkan kekhawatiran mendalam terkait kompetensi dan potensi risiko bagi dokter umum maupun pasien.
“Gimana ibu-ibu hamil apakah sudah siap dioperasi sesar oleh dokter umum? Gimana dokter umum apakah siap operasi sesar?” tulis dr. Piprim dengan nada bertanya.
Kritik serupa juga datang dari dokter lain, salah satunya dr. Apin, yang aktif di media sosial. Beliau menyoroti potensi dampak hukum yang akan dihadapi dokter umum jika terjadi komplikasi atau hal yang tidak diinginkan pada pasien yang dioperasi caesar oleh mereka. “Ujung-ujungnya kalau pasien nggak selamat, dokternya juga yang dituntut. Yang buat kebijakan? Ya dia udah ada di mana,” tulis dr. Apin dengan nada sinis.
Kritik Pedas dari Warganet: Abaikan Standar Pendidikan Kedokteran
Reaksi publik di media sosial pun tak kalah kritis. Banyak netizen menilai usulan Menkes ini sebagai langkah yang mengabaikan standar pendidikan kedokteran yang telah mapan.
“Pak, buat apa ada PPDS (Pendidikan Program Dokter Spesialis) kalau dokter umum bisa jadi dokter bedah? Apa nggak sekalian aja anak yang baru lulus SMA bisa langsung jadi dokter, nggak perlu kuliah kedokteran, yang penting sudah diajarin temannya yang dokter?,” komentar seorang netizen dengan nada sarkastis.
Netizen lain menawarkan solusi yang berbeda untuk mengatasi masalah kekurangan dokter spesialis di daerah terpencil. “Soalnya di pedalaman minim dokter obgyn. Tapi saya bingung, kenapa nggak disekolahin spesialis lagi aja sama pemerintah dokter-dokter pedalaman itu supaya bisa pemerataan sekalian, kan?.”
Isu keselamatan pasien juga menjadi perhatian utama. “Menkes berbasis cuan sih ini. Nggak mikirin keselamatan. Emang ‘ngajarin’ cara sesar itu kayak ngajarin PR anak SD apa? Bisa dilakukan dalam beberapa bulan aja?” tulis seorang netizen dengan nada geram.
Penjelasan Menkes: Solusi Mendesak, Bukan Pengganti Dokter Spesialis
Meskipun menghadapi gelombang kritik, Menkes Budi Gunadi Sadikin tetap bersikukuh bahwa solusi inovatif perlu dicari untuk mengatasi ketimpangan distribusi tenaga medis, terutama di daerah yang benar-benar tidak memiliki dokter spesialis kandungan.
Beliau menekankan bahwa usulan ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan mendesak di lapangan dan bukan untuk menggantikan peran dokter spesialis obgyn secara keseluruhan. Dalam kondisi darurat dan tanpa adanya dokter spesialis, dokter umum yang terlatih diharapkan dapat menyelamatkan nyawa ibu dan bayi.
Belum Ada Kejelasan Regulasi, Polemik Diprediksi Berlanjut
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi atau tindak lanjut regulasi dari Kementerian Kesehatan terkait wacana kontroversial ini. Polemik diyakini akan terus berkembang mengingat sensitivitas isu keselamatan pasien dan profesionalisme dalam tindakan medis.
Masyarakat dan tenaga kesehatan akan terus menanti kejelasan dan dasar pertimbangan yang lebih komprehensif dari pemerintah terkait usulan ini. (Sumber:Suara.com)

![Penyanyi Rossa melaporkan 78 akun medsos yang memfitnah dirinya oplas ke Bareskrim Polri, Jumat (17/4/2026). [Tiara Rosana/Suara.com]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/rossa-360x200.jpg)


![Twibbon Idul Fitri 1447 H. [kolase Twibbonize]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/03/tiwbbon-lebaran-360x200.jpg)
![Vidi Aldiano meninggal dunia, pidato Sheila Dara viral: suami saya selamanya. [Instagram]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/03/vidi-aldioano-istri-360x200.jpg)


![ilustrasi penangkapan, borgol. [Envato Elements]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/golkar-tewas-225x129.jpg)

![Viral! Siswa SMAN 1 Purwakarta Acungkan Jari Tengah ke Guru, Berujung Satu Kelas Minta Maaf. [Instagram]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/minta-maaf-pelajar-225x129.jpg)






![ilustrasi penangkapan, borgol. [Envato Elements]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/golkar-tewas-360x200.jpg)








