1TULAH.COM-Badai politik yang menumbangkan sejumlah anggota dewan kini mengarah ke PDI Perjuangan (PDIP). Setelah NasDem memecat Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach, serta partai-partai lain melakukan evaluasi internal, kini sorotan tajam publik beralih pada kader PDIP, Deddy Sitorus.
Di media sosial, seruan untuk menindak tegas Deddy Sitorus semakin menguat, mempertanyakan mengapa ia masih aman di posisinya padahal dianggap telah “melukai hati rakyat”.
Kemarahan publik ini dipicu oleh dugaan pernyataan Deddy Sitorus yang dianggap merendahkan dan arogan. Kalimat yang disinyalir menyiratkan superioritasnya sebagai pejabat di atas “rakyat jelata” menjadi bensin yang menyulut api kemarahan.
Di tengah situasi di mana rakyat menuntut empati dari para wakilnya, pernyataan ini dianggap sangat melukai perasaan. Di platform X, seruan untuk menindak Deddy Sitorus menggema keras, membandingkan sikap PDIP dengan langkah cepat yang diambil partai lain.
Standar Ganda dan Ujian Konsistensi bagi Partai “Wong Cilik”
Langkah sigap yang dilakukan NasDem, Gerindra, dan beberapa partai lain dalam merespons kemarahan publik telah menciptakan standar baru dalam akuntabilitas politik. Publik kini menuntut perlakuan yang sama rata bagi semua partai.
Sebagai partai pemenang pemilu dengan jargon “partai wong cilik”, PDIP kini berada di bawah tekanan berat. Sikap diam PDIP dalam kasus Deddy Sitorus dianggap sebagai inkonsistensi yang ironis. Publik menilai ini sebagai standar ganda: PDIP bisa bersikap garang terhadap lawan politik, namun terlihat lembek dan melindungi kadernya sendiri yang bermasalah.
Keputusan yang diambil oleh Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan jajaran elite PDIP akan menjadi penentu. Jika memecat Deddy Sitorus, PDIP akan dianggap responsif terhadap suara rakyat dan konsisten dengan janjinya. Namun, langkah ini juga bisa dicap sebagai tindakan reaktif karena tekanan publik, bukan dari kesadaran internal.
Risiko dan Taruhan Citra PDIP
Di sisi lain, mempertahankan Deddy Sitorus memiliki risiko yang jauh lebih besar. PDIP bisa dicap sebagai partai yang arogan, tidak mendengar kritik, dan melindungi kadernya yang telah melukai perasaan publik. Citra “partai wong cilik” yang telah dibangun bertahun-tahun berisiko luntur seketika.
Seluruh mata kini tertuju pada PDIP. Keputusan mereka akan menunjukkan apakah partai ini masih sejalan dengan suara rakyat yang mereka perjuangkan, atau justru sudah terpisah jauh dari denyut nadi grassroots. Tindakan yang mereka ambil akan menjadi ujian integritas dan konsistensi yang menentukan masa depan citra partai di mata publik. (Sumber:Suara.com)

![Penyanyi Rossa melaporkan 78 akun medsos yang memfitnah dirinya oplas ke Bareskrim Polri, Jumat (17/4/2026). [Tiara Rosana/Suara.com]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/rossa-360x200.jpg)


![Twibbon Idul Fitri 1447 H. [kolase Twibbonize]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/03/tiwbbon-lebaran-360x200.jpg)
![Vidi Aldiano meninggal dunia, pidato Sheila Dara viral: suami saya selamanya. [Instagram]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/03/vidi-aldioano-istri-360x200.jpg)



















