Radikalisme dan Sikap Intoleran di Masyarakat, Begini cara Mengantisipasinya

Wakil Ketua III DPRD Kalteng, Faridawaty Darland Atjeh

1tulah.com,PALANGKA RAYA –Permasalahan radikalisme dan sikap intoleran yang tumbuh di masyarakat, sebenarnya bisa diantisipasi sedini mungkin. Salah satunya adalah dengan berupaya menamamkan nilai dan sikap toleransi sejak anak-anak masih duduk di bangku sekolah.

Wakil Ketua III DPRD Kalteng Faridawaty Darland Atjeh meminta, seluruh masyarakat untuk mengajarkan sikap tolerasi pada anak semenjak usia dini, dimana hal tersebut bertujuan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam keberagaman.

“Sejatinya manusia sudah sejak lama hidup bertoleransi dalam keberagaman. Dengan menjalin komunikasi yang baik merupakan poin krusial dalam menciptakan suatu kerukunan dan toleransi antar warga masyarakat sebagai makhluk sosial,” ucap Wakil Ketua III DPRD Kalteng Faridawaty Darland Atjeh kepada 1tulah.com, Senin (20/6/2022).

Menurutnya anak usia dini perlu diberikan pembelajaran perihal kebersamaan, keberagaman dan toleransi, guna menjadi pribadi yang baik serta terhindar dari Radikalisme saat beranjak dewasa.

“Disinilah pentingnya peranan orang tua, karena orang tua merupakan individu terdekat dengan anak. Merekalah yang dapat membantu memberikan pantauan serta pembelajaran secara emosional kepada seorang anak, supaya anak tumbuh menjadi pribadi yang baik,” ujarnya.

Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) I, meliputi Kabupaten Katingan, Gunung Mas (Gumas) dan Kota Palangka Raya ini juga mengatakan, pentingnya sikap toleransi diajarkan kepada anak semenjak usia dini agar kedepan mereka mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, sekaligus memilah antara hal yang baik dan tidak.

“Setiap orang tua pasti memiliki keinginan supay anak bisa menjadi pribadi yang bagus, memahami serta menghargai perbedaan, terutama bagi kita yang hidup dan tinggal di Negara Indonesia dengan  semboyan Bhinneka Tunggal Ika yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu, termasuk memilah mana hal yang baik dan tidak boleh dilakukan,” ujarnya.

Kendati demikian, sambungnya, masyarakat diharapkan mampu memaknai semboyan Bhineka Tunggal Ika, dimana Indonesia sebagai negara berdaulat memiliki banyak sekali keberagaman suku, agama dan budaya, sehingga masyarakat Indonesia kerap disebut masyarakat majemuk.

“Menumbuhkan sikap toleransi sangatlah diperlukan oleh masyarakat. Karena hakikatnya Indonesia adalah negara yang tidak hanya memiliki banyak sekali keberagaman agama,  budaya, suku, bahasa dan ras. Selain itu kunci utama dari kesemuanya adalah pengamalan dari Pancasila, karena di dalamnya terdapat norma-norma toleransi,” pungkasnya. (Ingkit)

 

 

Editor: Deni Hariadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.