Orang Tua Wajib Tahu: Mengapa Asap Kebakaran Hutan Sangat Berbahaya Bagi Balita?

- Jurnalis

Senin, 19 Oktober 2026 - 14:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi anak terdampak asap karhutla [Shutterstock]

Ilustrasi anak terdampak asap karhutla [Shutterstock]

1TULAH.COM-Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa anak-anak memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan serius akibat paparan asap karhutla dibandingkan orang dewasa.

Kondisi ini terjadi bukan hanya karena sistem kekebalan tubuh anak yang belum sempurna, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor anatomis dan fisiologis yang khas pada tubuh anak.

Karakteristik Tubuh Anak Buat Dosis Paparan Polutan Lebih Tinggi

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr. Fifi Sofiah, SpA, Subsp Respi(K), menjelaskan bahwa karakteristik fisik anak-anak membuat mereka mengonsumsi polutan dalam jumlah yang lebih besar secara proporsional.

Anak-anak memiliki diameter saluran napas yang lebih kecil, frekuensi bernapas yang lebih cepat, serta lebih sering bernapas melalui mulut. Di sisi lain, tingkat aktivitas fisik anak-anak di luar ruangan cenderung lebih tinggi dibanding orang dewasa.

“Jadi, jika udara tercemar, dosis paparan yang mereka terima jauh lebih besar dibandingkan orang dewasa,” ujar Dr. Fifi Sofiah dalam keterangannya di Jakarta, Senin (19/10/2026).

Bahaya Partikel PM2.5 dan Kandungan Beracun Asap Karhutla

Asap karhutla bukanlah sekadar asap pembakaran biasa. Di dalamnya terkandung campuran kompleks dari partikel padat, gas beracun, dan cairan dari proses pembakaran yang tidak sempurna.

Beberapa senyawa kimia dan logam berat berbahaya yang teridentifikasi dalam asap karhutla meliputi:

  • Gas Beracun: Hidrogen sulfida, sulfur, karbon dioksida, karbon monoksida, nitrogen oksida, serta polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH).

  • Senyawa Asam & Aldehida: Melumpuhkan silia (bulu getar) di saluran pernapasan sehingga menghambat pembersihan kotoran alami paru-paru.

  • Logam Berat: Silika, tembaga, kadmium, timbal, bromium, zink, dan kalium.

Baca Juga :  Atasi Krisis Air Bersih hingga Infrastruktur, DPRD Kalteng Soroti Aspirasi Warga Gunung Mas

Ancaman Partikel Micro PM2.5

Di antara seluruh komponen tersebut, PM2.5 merupakan salah satu polutan paling berbahaya bagi sistem pernapasan anak.

  • PM10 (Partikel Kasar): Menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan bagian atas (hidung dan tenggorokan).

  • PM2.5 (Partikel Halus): Berukuran kurang dari 2,5 mikron—jauh lebih kecil dari sehelai rambut manusia—sehingga mampu menembus hingga ke saluran pernapasan terdalam (alveoli) dan masuk ke dalam aliran darah.

Paparan racun ini juga berdampak sistemik. Karbon monoksida dan nitrogen oksida dapat mengganggu fungsi hemoglobin dalam mengikat oksigen, sedangkan ozon dan PAH berpotensi merusak integritas sel-sel tubuh. Dalam jangka panjang, anak yang sering terpapar asap karhutla berisiko menderita penyakit paru kronis serta mengalami penurunan kualitas hidup hingga dewasa.

Kelompok Anak yang Paling Berisiko Tinggi

IDAI memberi perhatian khusus pada kelompok anak tertentu yang membutuhkan perlindungan ekstra saat terjadi kabut asap, antara lain:

  1. Bayi dan balita.

  2. Anak dengan riwayat asma.

  3. Anak dengan penyakit jantung atau paru kronis.

  4. Anak dengan disabilitas.

  5. Anak yang bergantung pada alat medis atau terapi oksigen.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menegaskan pentingnya pemenuhan hak anak atas udara bersih dan perlindungan dari orang dewasa.

Baca Juga :  Penanganan Karhutla Butuh Sinergi Lintas Sektor: WALHI Tegaskan Perusahaan Konsesi Tak Boleh Lepas Tangan

“Bayi, balita, anak dengan asma, penyakit jantung atau paru kronik, anak dengan disabilitas, serta anak yang bergantung pada oksigen dan alat medis memiliki risiko yang jauh lebih tinggi. Mereka tidak bisa melindungi diri sendiri, tugas kitalah, orang dewasa dan negara, untuk memastikan mereka terlindungi,” tegas Dr. Piprim.

Langkah Pencegahan dan Pertolongan Pertama bagi Orang Tua

Untuk meminimalkan risiko bahaya asap karhutla pada anak, IDAI mengimbau para orang tua dan keluarga untuk melakukan langkah-langkah antisipasi berikut:

  1. Batasi Aktivitas Luar Ruangan: Kurangi atau hentikan kegiatan anak di luar rumah selama kualitas udara memburuk.

  2. Ciptakan Clean Air Zone di Rumah: Buat satu ruangan di rumah yang relatif kedap udara luar dengan sirkulasi udara bersih (dapat menggunakan air purifier bila memungkinkan).

  3. Pantau ISPU Secara Berkala: Selalu cek Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di wilayah masing-masing sebelum mengizinkan anak beraktivitas.

  4. Terapkan Panduan Sekolah: Mendorong pihak sekolah menerapkan langkah-langkah pencegahan sesuai arahan mitigasi kesehatan.

Tanda Kegawatan yang Harus Segera Dirujuk ke Fasilitas Kesehatan

Orang tua diminta untuk segera membawa anak ke puskesmas atau rumah sakit terdekat jika menemukan tanda-tanda bahaya berikut:

  • Sesak napas berat atau napas tersengal-sengal.

  • Tampak tarikan kuat pada dinding dada saat bernapas.

  • Bibir, lidah, atau kuku anak mulai membiru (sianosis).

  • Penurunan kesadaran atau anak tampak sangat lemas/letargis.

  • Anak tidak mampu minum atau menyusu. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Geger Benda Berkabel Ditemukan di Perkebunan Kotim Usai Dentuman Misterius Membahana
MUI dan Publik Desak Hukuman Mati Kasus Korupsi Bencana BNPB, Begini Respon Resmi KPK
Innalillahi, Ulama Kharismatik KH Syukron Ma’mun “Singa Podium” Meninggal Dunia
Penanganan Karhutla Butuh Sinergi Lintas Sektor: WALHI Tegaskan Perusahaan Konsesi Tak Boleh Lepas Tangan
HUT ke-75 Presiden Prabowo Subianto: Ucapan Berkelas Istri Gubernur Kaltim & Kalteng Disorot, Unggahan Setkab Banjir Sindiran
KPK Jerat Kepala BPK Jateng dan Bupati Klaten dalam Skandal Pengondisian Laporan Keuangan
Mengapa Langit Palangka Raya Berubah Kuning Kecokelatan? Ini Bahaya Asap Karhutla & Dampaknya bagi Paru-Paru
Polisi Tangkap Tersangka Begal Ojol di Tanjung Priok, Satu Pelaku Masih Buron
Tag :

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 14:02 WIB

Orang Tua Wajib Tahu: Mengapa Asap Kebakaran Hutan Sangat Berbahaya Bagi Balita?

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Geger Benda Berkabel Ditemukan di Perkebunan Kotim Usai Dentuman Misterius Membahana

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:02 WIB

MUI dan Publik Desak Hukuman Mati Kasus Korupsi Bencana BNPB, Begini Respon Resmi KPK

Minggu, 18 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Innalillahi, Ulama Kharismatik KH Syukron Ma’mun “Singa Podium” Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 - 08:55 WIB

Penanganan Karhutla Butuh Sinergi Lintas Sektor: WALHI Tegaskan Perusahaan Konsesi Tak Boleh Lepas Tangan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:16 WIB

KPK Jerat Kepala BPK Jateng dan Bupati Klaten dalam Skandal Pengondisian Laporan Keuangan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:05 WIB

Mengapa Langit Palangka Raya Berubah Kuning Kecokelatan? Ini Bahaya Asap Karhutla & Dampaknya bagi Paru-Paru

Jumat, 16 Oktober 2026 - 19:59 WIB

Polisi Tangkap Tersangka Begal Ojol di Tanjung Priok, Satu Pelaku Masih Buron

Berita Terbaru