1TULAH.COM-Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, memberikan perhatian serius terhadap pola pikir tradisional masyarakat Indonesia yang masih menganggap banyak anak mendatangkan banyak rezeki, meskipun secara finansial tidak memadai.
Menurut Veronica, pola pikir tersebut jika tidak dibarengi dengan dukungan ekonomi yang kuat, justru akan menjadi lingkaran setan yang memicu kemiskinan struktural, stunting, hingga maraknya praktik perkawinan anak.
Fakta di Lapangan: Satu Ibu Memiliki 13 Anak
Dalam diskusi mengenai pemberdayaan masyarakat di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (8/4/2026), Veronica memaparkan temuannya yang mengejutkan di lapangan. Ia menyebutkan masih banyak ditemukan keluarga dengan jumlah anggota yang sangat besar di daerah dengan tingkat ekonomi rendah.
“Di Tegalwaru saja, saya temukan ada yang ibu punya anak 13,” ungkap Veronica.
Ia menilai kejadian ini adalah sistem yang terus berulang. Ibu yang menikah di usia muda sering kali terjebak dalam situasi ekonomi sulit namun terus menambah jumlah anak tanpa perencanaan yang matang.
Dampak Rantai: Dari Beban Ekonomi ke Perkawinan Anak
Veronica menjelaskan bahwa ketika sebuah keluarga memiliki belasan anak tanpa sokongan finansial yang cukup, kebutuhan dasar dan tumbuh kembang anak menjadi tidak terpenuhi. Untuk mengurangi beban ekonomi, sering kali orang tua mengambil jalan pintas yang merugikan masa depan anak.
“Kalau kita lihat jenjang ekonominya nggak cukup, pasti anak 15 tahun belum cukup umur dia akan nikahkan. Nanti anak 15 tahun punya anak lagi, dia juga nggak tahu merawat anaknya seperti apa karena tertekan dengan ekonomi itu. Inilah sebenarnya bubbling yang kita lihat,” jelasnya.
Selain perkawinan anak, tekanan ekonomi ini juga memperbesar risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap perempuan dan anak-anak.
Kemiskinan dan Stunting: Masalah Lintas Sektor
Persoalan sosial ini menurut Veronica tidak bisa diselesaikan secara instan. Dibutuhkan sinergi lintas kementerian dan lembaga, mulai dari Kemenko Polkam hingga aparat penegak hukum seperti kepolisian, jaksa, dan hakim.
Ia menekankan bahwa akar masalahnya adalah kemiskinan yang kemudian berujung pada masalah kesehatan kronis seperti stunting. “Menyelesaikannya tak semudah membalikkan telapak tangan,” tambah Veronica.
Solusi Kementerian PPPA: Kebun Pangan Lokal Perempuan
Sebagai langkah konkret intervensi, Kementerian PPPA meluncurkan program Kebun Pangan Lokal Perempuan. Program ini bukan sekadar upaya ketahanan pangan, tetapi juga berfungsi sebagai:
-
Pemberdayaan Ekonomi: Memberikan wadah bagi perempuan untuk menghasilkan pangan secara mandiri.
-
Pusat Edukasi Parenting: Menjadi tempat komunitas untuk penguatan psikologis dan edukasi pola asuh anak yang benar.
-
Entry Point Pemberdayaan: Memastikan asupan nutrisi keluarga tersedia dari hasil usaha mandiri komunitas perempuan.
“Jadi asupan makanan tidak akan di luar lagi, tapi dari dalam, untuk dalam,” pungkas Veronica menutup pernyataannya. (Sumber:Suara.com)

![Shandy Aulia [Instagram/shandyaulia]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/10/sandy-aulia-360x200.jpg)







![Buntut Panjang Kartu Merah Lawan Irlandia, Cristiano Ronaldo Dibebastugaskan [Instagram]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2025/12/RONALDP-TERUNGKAP-225x129.jpg)













![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)

