Viral Guru Olok Penyandang Disabilitas: Mengapa Literasi Inklusif di Indonesia Masih Darurat?

- Jurnalis

Jumat, 26 Desember 2025 - 17:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Guru Menertawakan Disabilitas. (Suara.com)

Ilustrasi Guru Menertawakan Disabilitas. (Suara.com)

1TULAH.COM-Dunia maya kembali diguncang oleh isu sensitif yang melibatkan etika pendidik dan hak penyandang disabilitas. Kasus yang melibatkan Cahyo, seorang pemuda tunawicara, dan Nikolas, seorang guru asal Morowali Utara, memantik diskusi panas tentang di mana batas antara candaan dan penghinaan.

Kasus ini menjadi alarm keras bahwa pendidikan inklusif di Indonesia bukan sekadar soal fasilitas fisik, melainkan soal cara pandang dan empati yang masih jauh dari harapan.

Kronologi Kejadian: Saat Ruang Ekspresi Menjadi Objek Ejekan

Di balik layar ponsel, Cahyo tertawa lepas. Pemuda tunawicara ini sedang melakukan siaran langsung di media sosial, berkomunikasi dengan gayanya yang khas—penuh gestur dan ekspresi. Bagi Cahyo, platform digital adalah ruang untuk berinteraksi dan mengekspresikan diri secara merdeka.

Namun, kebahagiaan itu dirusak oleh aksi Nikolas, seorang guru yang justru menirukan gerak bibir dan cara bicara Cahyo dengan mimik yang dilebih-lebihkan. Video tersebut viral dalam hitungan jam. Alih-alih mendapatkan edukasi, publik justru disuguhkan tontonan perundungan (bullying) yang dilakukan secara terbuka oleh seorang oknum pendidik.

Di Mana Batas Antara Candaan dan Penghinaan?

Dalam kehidupan sosial, candaan kehilangan maknanya ketika ia menargetkan kondisi fisik atau kekurangan seseorang. Saat disabilitas dijadikan objek tawa, niat “hanya bercanda” menjadi tidak relevan. Secara sosiologis, ini disebut sebagai kekerasan simbolik.

Baca Juga :  Hari Sumpah Pemuda 2026: Pemuda Kalteng Diajak Penguat SDM dan Jaga Falsafah Huma Betang

Ejekan semacam ini memperkuat stigma bahwa menjadi “berbeda” adalah sesuatu yang lucu, bukan sebuah keberagaman yang patut dihormati.

Dampak Normalisasi Diskriminasi oleh Pendidik

Sorotan tajam publik muncul karena pelaku adalah seorang guru. Guru seharusnya menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai empati. Permintaan maaf mungkin telah disampaikan, namun luka psikologis yang ditimbulkan tidak bisa hilang seketika.

Bahaya Psikologis bagi Disabilitas:

  • Memicu trauma mendalam.

  • Meruntuhkan rasa percaya diri.

  • Mendorong penarikan diri dari interaksi sosial (isolasi mandiri).

Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND), Kikin P. Tarigan, menegaskan kekhawatirannya. “Kekhawatiran kita adalah penyandang disabilitas merasa tidak mendapatkan tempat yang nyaman di dalam dunia pendidikan,” ujarnya pada Jumat (26/12/2025).

Kritik dari Senayan: Persoalan Struktural, Bukan Sekadar Etika Individu

Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief, menegaskan bahwa kasus ini mencerminkan kegagalan sistemik. Menurutnya, literasi disabilitas di masyarakat masih sangat rendah.

“Kasus ini bukan sekadar persoalan etika individu, tetapi mencerminkan persoalan struktural dalam sistem pendidikan dan budaya kita yang belum sepenuhnya inklusif,” tegas Syarief.

Beliau menambahkan bahwa memahami bahasa isyarat bukan sekadar melihat gerak tangan, melainkan menghargai sistem bahasa yang utuh sebagai identitas kemanusiaan.

Fakta Pahit Pendidikan Inklusif di Indonesia

Meskipun Indonesia memiliki Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, implementasi di lapangan masih sangat memprihatinkan.

Berita Terkait

Menteri HAM Natalius Pigai Dorong Restorative Justice untuk Film “Pesta Babi” Dandhy Laksono
Buntut Video Viral di Terminal Kedamin, Kapolres Kapuas Hulu Siap Jalankan Hukum Adat
Soal Putusan MA Batalkan Suket SMA Gibran, Gerindra: Hormati Proses Hukum dan Minta Kemenkeu/Kementerian Terkait Beri Penjelasan
Peluang Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI Capai Di Atas 50 Persen, BEI Makin Optimistis
Pemkab Barito Selatan Salurkan Bansos dan Cadangan Pangan untuk Tiga Desa di Dusun Selatan
Pemkab Mura Dukung Peningkatan Kinerja Jamkrida
Kukuhkan ABPEDNAS Mura, Heriyus Harapkan Desa Semakin Kuat dan Mandiri
Kalteng Mulai Hujan, Relawan Karhutla Palangka Raya Tetap Waswas Sisa Titik Api
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 13:23 WIB

Menteri HAM Natalius Pigai Dorong Restorative Justice untuk Film “Pesta Babi” Dandhy Laksono

Minggu, 1 November 2026 - 10:47 WIB

Buntut Video Viral di Terminal Kedamin, Kapolres Kapuas Hulu Siap Jalankan Hukum Adat

Minggu, 1 November 2026 - 08:19 WIB

Soal Putusan MA Batalkan Suket SMA Gibran, Gerindra: Hormati Proses Hukum dan Minta Kemenkeu/Kementerian Terkait Beri Penjelasan

Minggu, 1 November 2026 - 07:28 WIB

Peluang Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI Capai Di Atas 50 Persen, BEI Makin Optimistis

Minggu, 1 November 2026 - 02:02 WIB

Pemkab Barito Selatan Salurkan Bansos dan Cadangan Pangan untuk Tiga Desa di Dusun Selatan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:32 WIB

Pemkab Mura Dukung Peningkatan Kinerja Jamkrida

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:27 WIB

Kukuhkan ABPEDNAS Mura, Heriyus Harapkan Desa Semakin Kuat dan Mandiri

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:49 WIB

Kalteng Mulai Hujan, Relawan Karhutla Palangka Raya Tetap Waswas Sisa Titik Api

Berita Terbaru