Standar Profesionalisme Hancur: Ahli Gizi Dilecehkan, Risiko Keracunan Ancam Program Gizi Anak

- Jurnalis

Selasa, 18 November 2025 - 10:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal (Instagram/cucunsyamsurijal)

Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal (Instagram/cucunsyamsurijal)

1TULAH.COM-Sobat Yoursay, mari kita hadapi sebuah realitas pahit: Di Indonesia, tidak ada yang lebih janggal sekaligus tidak mengejutkan selain melihat seorang pejabat negara berdiri di podium, menunjuk seorang ahli, lalu dengan lantang menyatakan bahwa profesi itu “tidak terlalu penting” dan bahkan bisa “digantikan oleh anak SMA yang dilatih tiga bulan.”

Itu adalah pemandangan yang menyakitkan—ketika suara keahlian yang didapat dari bertahun-tahun pendidikan dan pengalaman lapangan, dibungkam oleh arogansi kekuasaan yang merasa paling tahu. Yang lebih mengejutkan, bukan kali ini saja hal itu terjadi.

🎤 Dari RUU KUHAP ke MBG: Kekuasaan yang Alergi Kritik Teknis

Fenomena meremehkan keahlian ini baru-baru ini menjadi viral dan mencuat ke permukaan melalui potongan video Wakil Ketua DPR, Cucun Ahmad Syamsurizal. Insiden ini, yang terjadi di forum resmi SPPG MBG (Makan Bergizi Gratis) di Bandung, memperlihatkan dinamika buruk di mana kekuasaan menunjukkan kebiasaan meremehkan teknokrasi.

Seorang ahli gizi yang mencoba menyampaikan persoalan teknis—mulai dari kurangnya tenaga ahli, perlunya koordinasi dengan Persagi (organisasi profesi gizi), hingga krusialnya peran ahli sanitasi—justru disetop dan disemprot dengan kalimat yang mencerminkan mentalitas arogan:

“Mentang-mentang kalian dibutuhkan negara, kalian bicara undang-undang. Pembuat kebijakan itu saya.”

Kalimat ini menjadi epitaf bagi sikap politik yang menempatkan otoritas di atas otoritas ilmu pengetahuan.

Sebelum insiden ini, nama Cucun Ahmad Syamsurizal juga menjadi sorotan tajam dalam pembahasan RKUHAP, di mana ia memastikan pengesahan RUU tersebut berjalan cepat, meskipun dibanjiri kritik keras dari Koalisi Masyarakat Sipil terkait cacat formil dan potensi pelemahan hak warga.

Baca Juga :  Tak Hanya Korupsi, Ini 13 Jenis Kejahatan yang Masuk Draf RUU Perampasan Aset

Kasus ini menunjukkan pola yang konsisten: ketidakmauan mendengarkan kritik teknis dan substansial demi melancarkan agenda politik.

🥕 Program MBG dan Risiko Nyawa Anak-Anak

Pertanyaan mendasar yang muncul: mengapa seorang pejabat yang tidak memiliki latar belakang gizi merasa paling tahu soal gizi? Mengapa profesi yang bertanggung jawab atas kesehatan dan nutrisi anak-anak Indonesia—yang notabene adalah program unggulan Presiden Prabowo—dianggap bisa digantikan oleh tenaga non-profesional yang hanya ikut pelatihan 3 bulan?

Program MBG menyangkut nyawa, kesehatan, kualitas nutrisi, dan masa depan generasi. Dengan skala program yang menargetkan puluhan juta anak, kualitas perencanaan harus didukung oleh keahlian multidisiplin (gizi, sanitasi, logistik, pengawasan pangan, kesehatan masyarakat).

Risikonya tidak main-main:

  • Keracunan massal: Akibat sanitasi dan pengawasan pangan yang buruk.

  • Kontaminasi: Karena penyajian yang tidak higienis.

  • Malnutrisi: Akibat komposisi makanan yang salah atau tidak tepat sasaran.

Seorang ahli gizi membutuhkan bertahun-tahun pendidikan dan pengalaman lapangan untuk memahami detail-detail ini. Jika negara menganggap keahlian bisa dipercepat, ditambal, atau diganti istilah (misalnya, dari ahli gizi menjadi pengawas gizi demi menghindari syarat kompetensi), maka program ini berisiko berubah dari upaya memerangi stunting menjadi sekadar proyek administratif yang berantakan.

Baca Juga :  Skandal Suap Pengadaan Smart Board & Chromebook Muara Enim senilai Rp62,86 Miliar: Terungkapnya Kongkalikong di Jakarta

📉 Ketika Sains Bicara, Politik Menutup Telinga

Insiden ini bukan hanya drama di forum kecil, melainkan cerminan dari budaya politik yang lebih besar di Indonesia, yaitu alergi terhadap kritik teknokratis.

Ketika para ahli menyuarakan kekhawatiran karena perekrutan non-ahli gizi sudah menjadi polemik sejak awal program MBG, mereka justru dibungkam. Hal ini memperlihatkan bahwa:

  1. Kekuasaan anti-kritik: Pejabat menganggap peringatan dari ahli sebagai ancaman, bukan sebagai mitigasi risiko.

  2. Prioritas Proyek vs Kualitas: Ada indikasi bahwa yang diutamakan adalah keberlangsungan program (agar terlihat berjalan), alih-alih memastikan kualitas dan dampak jangka panjang (yang membutuhkan kompetensi tinggi).

Meskipun Cucun Syamsurizal kemudian mengunggah permintaan maaf dan mengklaim tidak bermaksud meremehkan, narasi yang ia lontarkan tentang sertifikasi BNSP, anak SMA yang cerdas, dan pelatihan cepat sudah telanjur merusak kepercayaan publik terhadap komitmen pemerintah pada profesionalisme.

Sobat Yoursay, bayangkan jika kamu dioperasi oleh dokter yang hanya ikut pelatihan 3 bulan. Tentu kamu akan menolak. Begitu pula dengan nasib gizi anak-anak kita.

Jika mentalitas yang menganggap kedekatan dengan kekuasaan lebih penting daripada kompetensi dibiarkan, bukan hanya ahli gizi yang akan tersingkir, tetapi standar profesionalisme di seluruh sektor.

Anak-anak Indonesia bisa menjadi korban dari arogansi politik yang menempatkan dirinya di atas ilmu pengetahuan. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Anomali Data Desil Ancam Bantuan Warga Miskin, DPR Desak Kemensos dan BPS Lakukan Evaluasi
Presiden Prabowo Tegaskan Penertiban Hutan Harus Transparan, Satgas PKH Soroti Tambang Ilegal
Semburkan Abu 15 KM, Erupsi Anak Krakatau Memicu Bencana Internasional Hingga Dipantau Jepang
Terjun Langsung ke Palangka Raya, Sherina Munaf Ikut Padamkan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalteng
Karhutla Meluas Hingga Lintas Negara, Komnas HAM Tuding Pembiaran dan Lemahnya Tata Kelola Gambut
Keracunan Massal MBG Tembus 2.000 Korban di 4 Provinsi, Media Asing Soroti Pengawasan Dapur Penyedia
Ketegasan Kementerian Kehutanan: Siapkan Gugatan Ganti Rugi Kerusakan Ekosistem Karhutla untuk Korporasi
Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 12:15 WIB

Anomali Data Desil Ancam Bantuan Warga Miskin, DPR Desak Kemensos dan BPS Lakukan Evaluasi

Sabtu, 5 September 2026 - 12:03 WIB

Semburkan Abu 15 KM, Erupsi Anak Krakatau Memicu Bencana Internasional Hingga Dipantau Jepang

Jumat, 4 September 2026 - 18:05 WIB

Terjun Langsung ke Palangka Raya, Sherina Munaf Ikut Padamkan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalteng

Jumat, 4 September 2026 - 10:41 WIB

Karhutla Meluas Hingga Lintas Negara, Komnas HAM Tuding Pembiaran dan Lemahnya Tata Kelola Gambut

Jumat, 4 September 2026 - 10:30 WIB

Keracunan Massal MBG Tembus 2.000 Korban di 4 Provinsi, Media Asing Soroti Pengawasan Dapur Penyedia

Jumat, 4 September 2026 - 07:40 WIB

Ketegasan Kementerian Kehutanan: Siapkan Gugatan Ganti Rugi Kerusakan Ekosistem Karhutla untuk Korporasi

Kamis, 3 September 2026 - 16:49 WIB

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara

Kamis, 3 September 2026 - 15:15 WIB

Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek

Berita Terbaru

Raisa dan Mathis Molinie Kian Disorot, Foto Bareng Picu Dugaan Hubungan Spesial. Instagram @raisa6690

Entertainment

Raisa Pamer Foto Bersama Mathis Molinie, Rumor Asmara Makin Panas

Sabtu, 5 Sep 2026 - 21:29 WIB