Solidaritas untuk Delpedro Marhaen: Kecaman Keras Koalisi Masyarakat Sipil atas Kriminalisasi Aktivis

- Jurnalis

Rabu, 10 September 2025 - 16:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Koordinator Kontras, Dimas Bagus Arya mengunjungi Direktur Lokataru, Delpedro Marhaen, yang ditahan di Polda Metro Jaya, Rabu (10/9/2025). [Suara.com/Faqih]

Koordinator Kontras, Dimas Bagus Arya mengunjungi Direktur Lokataru, Delpedro Marhaen, yang ditahan di Polda Metro Jaya, Rabu (10/9/2025). [Suara.com/Faqih]

1TULAH.COM-Penangkapan Delpedro Marhaen, Direktur Lokataru Foundation, oleh Polda Metro Jaya menuai kecaman keras dari koalisi masyarakat sipil.

Sejumlah perwakilan dari berbagai organisasi, termasuk Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), mengunjungi Delpedro sebagai bentuk solidaritas dan mengecam penangkapan ini sebagai upaya kriminalisasi aktivis dan penyempitan ruang demokrasi.

Penangkapan Delpedro ini bukan hanya persoalan hukum, melainkan cerminan dari tantangan yang lebih besar terhadap kebebasan berekspresi dan partisipasi publik di Indonesia. Koalisi masyarakat sipil menilai penahanan ini sebagai upaya untuk membungkam kritik dan mencari kambing hitam (scapegoating) atas insiden yang terjadi.

Tudingan dan Dampak Jangka Panjang: Mengapa Penangkapan Delpedro Jadi Sorotan?

Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, menyebutkan bahwa tuduhan penghasutan yang dilayangkan kepada Delpedro masih terlalu prematur. Ia khawatir, tindakan ini akan berdampak buruk pada partisipasi anak muda dalam mengawal kebijakan publik.

“Ini [berdampak] ke depannya, masa depan partisipasi gerakan anak muda dalam mendorong kebijakan publik yang lebih baik di negara ini,” ujar Dimas.

Baca Juga :  SP4N-LAPOR! Barsel 2026: Komitmen Pemkab Tingkatkan Transparansi dan Aduan Warga

Kekhawatiran ini beralasan. Ketika aktivis yang vokal mengadvokasi hak-hak masyarakat justru dikriminalisasi, hal ini dapat menciptakan efek gentar (chilling effect). Anak muda dan masyarakat sipil lainnya akan merasa takut untuk menyuarakan pendapat dan kritik mereka terhadap pemerintah, yang pada akhirnya akan merusak iklim demokrasi yang sehat.

Standar Ganda Penegakan Hukum: Perbandingan Kasus yang Mencolok

Fatia Maulidiyanti, seorang aktivis dari koalisi, menyoroti adanya standar ganda dalam penegakan hukum yang dilakukan oleh kepolisian. Ia membandingkan cepatnya proses penangkapan Delpedro dengan lambatnya penanganan kasus tewasnya Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang terlindas mobil rantis Brimob.

“Kita melihat bahwa setelah kejadian [kerusuhan] itu, polisi saja belum menjatuhkan pidana terhadap pelaku yang melindas Affan. Tapi untuk melakukan patroli siber dan pada akhirnya mengambinghitamkan kawan-kawan kita, itu berlaku sangat cepat,” tegas Fatia.

Baca Juga :  Pendaftaran MagangHub 2026 Batch 3 Ditutup Rabu 4 November, Kemnaker Imbau Segera Daftar

Perbedaan perlakuan ini menguatkan argumen bahwa penegakan hukum seringkali lebih cepat dan tegas ketika menyangkut kritik terhadap aparat, sementara proses terhadap kasus yang melibatkan aparat itu sendiri cenderung berjalan lambat. Ini menciptakan ketidakpercayaan publik terhadap institusi penegak hukum dan mengancam prinsip keadilan.

Desakan Koalisi: Hentikan Kriminalisasi dan SP3 Kasus Delpedro

Melihat kondisi ini, koalisi masyarakat sipil mendesak pihak kepolisian untuk segera menghentikan penyidikan (SP3) terhadap Delpedro Marhaen dan aktivis lainnya. Fatia Maulidiyanti berharap kasus ini tidak berlanjut, karena menurutnya, ini adalah bagian dari upaya kriminalisasi terhadap gerakan masyarakat sipil.

Desakan ini adalah seruan untuk melindungi ruang sipil yang semakin menyusut. Kasus Delpedro menjadi pengingat bahwa demokrasi yang sehat memerlukan ruang yang aman bagi masyarakat untuk berpendapat, mengkritik, dan berpartisipasi dalam mengawal kebijakan publik tanpa rasa takut. Melindungi aktivis bukan hanya soal membela satu orang, melainkan melindungi fondasi demokrasi itu sendiri. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Hadir Langsung di Sidang Roy Suryo, Jokowi Buka Suara Soal Foto Berkumis & Kacamata di Ijazah
Bunda PAUD Barsel Hj. Permana Sari Tekankan Pentingnya Fondasi Emas Anak di Usia Dini
Bawa Dokumen Asli ke Persidangan, Jokowi Siap Beberkan Riwayat Pendidikannya di UGM
Peringatan Maulid di Pidie Berakhir Tragis: 1 Meninggal dan Belasan Terluka Usai Penertiban Bendera
Kunjungan Kerja ke Kalsel, DPRD Kalteng Perkuat Fungsi Legislasi dan Pembentukan Perda
Helikopter Mi-17V5 TNI AD Jatuh Saat Misi Water Bombing Karhutla di Seruyan, 1 Prajurit Gugur
Sejarah Kelam Penyadapan Presiden: Jejak Spionase Politik dari Megawati Hingga Prabowo
SP4N-LAPOR! Barsel 2026: Komitmen Pemkab Tingkatkan Transparansi dan Aduan Warga
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 17:52 WIB

Hadir Langsung di Sidang Roy Suryo, Jokowi Buka Suara Soal Foto Berkumis & Kacamata di Ijazah

Kamis, 5 November 2026 - 13:33 WIB

Bunda PAUD Barsel Hj. Permana Sari Tekankan Pentingnya Fondasi Emas Anak di Usia Dini

Kamis, 5 November 2026 - 08:49 WIB

Bawa Dokumen Asli ke Persidangan, Jokowi Siap Beberkan Riwayat Pendidikannya di UGM

Kamis, 5 November 2026 - 08:41 WIB

Peringatan Maulid di Pidie Berakhir Tragis: 1 Meninggal dan Belasan Terluka Usai Penertiban Bendera

Rabu, 4 November 2026 - 16:55 WIB

Kunjungan Kerja ke Kalsel, DPRD Kalteng Perkuat Fungsi Legislasi dan Pembentukan Perda

Rabu, 4 November 2026 - 16:49 WIB

Helikopter Mi-17V5 TNI AD Jatuh Saat Misi Water Bombing Karhutla di Seruyan, 1 Prajurit Gugur

Rabu, 4 November 2026 - 12:42 WIB

Sejarah Kelam Penyadapan Presiden: Jejak Spionase Politik dari Megawati Hingga Prabowo

Rabu, 4 November 2026 - 08:26 WIB

SP4N-LAPOR! Barsel 2026: Komitmen Pemkab Tingkatkan Transparansi dan Aduan Warga

Berita Terbaru