BMKG Prediksi Hujan Mulai Turun September–Oktober 2026, Karhutla Sumatera-Kalimantan Berpotensi Mereda

- Jurnalis

Rabu, 23 September 2026 - 06:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi hujan (Ist)

Ilustrasi hujan (Ist)

1TULAH.COM-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan intensitas curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia akan mulai meningkat secara berangsur pada periode September hingga Oktober 2026. Kabar ini menjadi angin segar bagi penanganan musibah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda beberapa provinsi rawan di Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Fenomena transisi musim ini diharapkan dapat membantu mempercepat proses pemadaman titik panas (hotspot) serta memulihkan kualitas udara di wilayah terdampak secara signifikan.

Prakiraan BMKG: Hujan Mulai Turun di Wilayah Rawan Karhutla

Dalam jumpa pers resmi yang digelar di Jakarta pada Selasa (22/9/2026), Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memaparkan pola dinamika atmosfer terkini. Menurutnya, potensi hujan akan mulai terdistribusi secara bertahap di daerah-daerah yang sebelumnya mengalami penurunan curah hujan drastis akibat musim kemarau.

“Kami memprakirakan curah hujan akan mulai turun secara berangsur pada September hingga Oktober 2026 di sejumlah daerah rawan kebakaran hutan dan lahan, seperti Sumatera dan Kalimantan. Diharapkan hujan nantinya dapat membantu proses pemadaman api hingga total,” ujar Ardhasena.

Awal masuknya musim hujan ini diakibatkan oleh pergeseran angin timuran (monson Australia) menuju angin baratan (monson Asia), yang membawa massa udara lebih basah ke wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.

Baca Juga :  DPRD Minta Pemprov Kalteng Segera Terbitkan Perkada untuk Cairkan BTT Karhutla Rp760 M

Sebaran Daerah Terdampak di Sumatera dan Kalimantan

Berdasarkan pemetaan BMKG, peningkatan curah hujan diprioritaskan terjadi pada beberapa koridor utama zona rawan Karhutla, antara lain:

  • Pulau Sumatera: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, serta sebagian kawasan pesisir utara Sumatera.

  • Pulau Kalimantan: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Meskipun hujan diprakirakan mulai turun, tingkat intensitasnya masih bertahap (ringan hingga sedang). Oleh karena itu, potensi kemunculan titik api lokal masih tetap perlu diwaspadai, terutama di area lahan gambut yang tebal dan memiliki tingkat kekeringan tinggi.

Optimisme Pemadaman Api dan Kolaborasi Satgas Karhutla

Kehadiran hujan alami di akhir September hingga Oktober ini dipandang sebagai momen krusial bagi tim Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Karhutla di lapangan. Gabungan personel dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), TNI, Polri, BPBD, serta relawan masyarakat selama ini terus mengupayakan pemadaman jalur darat maupun operasi water bombing lewat udara.

Baca Juga :  Gelombang Penolakan Program MBG Meluas dari Lampung hingga Papua, Ada Apa?

Turunnya hujan tidak hanya membasahi vegetasi permukaan, tetapi juga diharapkan mampu membasahi lapisan gambut dalam (subsurface) agar api tidak kembali berkobar saat diterpa angin kencang. Selain pemadaman alami, teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau semai garam juga terus dioptimalkan selagi awan-awan konvektif mulai tumbuh berkat hadirnya kelembapan atmosfer.

Imbauan BMKG untuk Masyarakat dan Pemerintah Daerah

Pemerintah daerah bersama masyarakat diimbau untuk tidak menyikapi potensi hujan ini dengan kelengahan. BMKG menekankan beberapa poin penting dalam fase transisi ini:

  1. Dilarang Melakukan Pembakaran Lahan: Tetap mematuhi aturan hukum untuk tidak membersihkan atau membuka lahan (land clearing) dengan cara dibakar.

  2. Waspada Cuaca Ekstrem: Musim pancaroba sering kali diiringi oleh cuaca ekstrem singkat, seperti hujan lebat mendadak yang disertai angin kencang dan petir.

  3. Pengawasan Area Gambut: Menjaga sekat kanal (canal blocking) agar tinggi muka air tanah di area gambut tetap terjaga.

Dengan dimulainya fase peningkatan curah hujan pada September–Oktober 2026, sinergi antara potensi alam dan kerja keras petugas di lapangan diharapkan segera membebaskan Sumatera dan Kalimantan dari ancaman bencana kabut asap. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Buntut Karhutla dan Kabut Asap, Tim Hukum Nafas Kalbar Layangkan Gugatan Class Action ke Presiden Prabowo
Terjerat Kasus Korupsi Pemkab Bekasi, Ini Profil dan Aset Ipda Yayat Sudrajat yang Disita KPK
Penyandang Disabilitas Masuk Desil Mampu? KPDJ dan Bansos Penyandang Disabilitas Berpotensi Hangus
Tiga Pejuang Karhutla Kalteng Meninggal Dunia, DPRD Minta Jaminan Keselamatan Kerja Diperketat
Pemerintah Kerahkan 64 Pesawat dan 54 Ribu Personel Gabungan Tangani Karhutla
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Rencana Pembentukan Batalyon Baru TNI untuk Jaga Kekayaan Alam
Polisi Ungkap Motif Pria Tendang Wanita di Mal Senayan City, Isu Copet Dipastikan Hoaks
Ribuan Warga Murung Raya Terima Bantuan Program Kartu Huma Betang Sejahtera
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 06:05 WIB

BMKG Prediksi Hujan Mulai Turun September–Oktober 2026, Karhutla Sumatera-Kalimantan Berpotensi Mereda

Rabu, 23 September 2026 - 05:53 WIB

Buntut Karhutla dan Kabut Asap, Tim Hukum Nafas Kalbar Layangkan Gugatan Class Action ke Presiden Prabowo

Selasa, 22 September 2026 - 18:27 WIB

Terjerat Kasus Korupsi Pemkab Bekasi, Ini Profil dan Aset Ipda Yayat Sudrajat yang Disita KPK

Selasa, 22 September 2026 - 18:01 WIB

Penyandang Disabilitas Masuk Desil Mampu? KPDJ dan Bansos Penyandang Disabilitas Berpotensi Hangus

Selasa, 22 September 2026 - 06:10 WIB

Tiga Pejuang Karhutla Kalteng Meninggal Dunia, DPRD Minta Jaminan Keselamatan Kerja Diperketat

Senin, 21 September 2026 - 05:29 WIB

Pemerintah Kerahkan 64 Pesawat dan 54 Ribu Personel Gabungan Tangani Karhutla

Minggu, 20 September 2026 - 17:48 WIB

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Rencana Pembentukan Batalyon Baru TNI untuk Jaga Kekayaan Alam

Minggu, 20 September 2026 - 17:33 WIB

Polisi Ungkap Motif Pria Tendang Wanita di Mal Senayan City, Isu Copet Dipastikan Hoaks

Berita Terbaru