Serangga Akan Jadi Menu Program MBG, Bagaimana Kandungan Gizinya?

- Jurnalis

Senin, 27 Januari 2025 - 18:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi belalang goreng (sumber: suara.com)

Ilustrasi belalang goreng (sumber: suara.com)

1TULAH.COM – Dadan Hindayana, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut serangga seperti belalang dan ulat berpotensi menjadi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah tertentu. Hal itu menyusul beberapa jenis serangga yang layak untuk dikonsumsi.

Lalu bagaimana dengan kandungan gizi dari sejumlah serangga tersebut? Apakah aman dikonsumsi bagi anak-anak?

Ahli Gizi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Toto Sudargo mengatakan ada beberapa serangga yang biasanya dikonsumsi masyarakat di sejumlah daerah. Mulai dari belalang, jangkrik, laron hingga ulat sagu.

Belalang sendiri biasanya dikonsumsi oleh masyarakat di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Diungkapkan Toto, belalang pun mempunyai sejumlah keunggulan dari segi kandungan gizi.

“Kelebihan dari belalang itu ketika digoreng matang histaminnya hilang yang bikin alergi itu hilang, kalau digoreng kering itu ada kelebihan dalam kalsium karena tulang belalang bisa langsung dikonsumsi,” ungkap Toto.

Baca Juga :  BMKG Prediksi Hujan Mulai Turun September–Oktober 2026, Karhutla Sumatera-Kalimantan Berpotensi Mereda

“Lalu kandungan zat gizi dalam belalang itu ketika digoreng itu yang jelas ada kandungan lemak yang untuk menggoreng sendiri itu bermanfaat karena cukup banyak menyerap minyak,” imbuhnya.

Selain itu khusus untuk belalang dilanjutkan Toto, mengandung protein hewani. Kandungan tersebut sebagai growth hormon atau hormon pertumbuhan, serta dapat berfungsi sebagai hormon memperbaiki jaringan yang rusak.

“Lalu sebagai alat angkut untuk mineral tertentu di dalam tubuh sehingga tidak kekurangan zat gizi misalnya anemi lalu kekurangan vitamin A dalam tubuh, zodium untuk pertumbuhan,” ucapnya.

Walau demikian, pengolahan belalang harus diperhatikan dengan baik. Sebab pada belalang terkandung banyak salmonella typhosa atau bakteri yang menyebabkan demam tifoid atau tipes. Serta histamin penyebab alergi jika tak dimasak dengan matang.

Baca Juga :  Diduga Peras Indomaret hingga Minta Diskon Rumah 70 Persen, Bupati Gowa Jadi Tersangka Korupsi

“Itu kerjakan oleh pemasak yang profesional sehingga aman untuk dikonsumsi, yang memungkinkan memang belalang, sama jangkrik memungkinkan sekali itu,” tuturnya.

“Kalau kandungan gizinya kami tidak meragukan, per 100 gram itu protein belalang yang digoteng itu hampir sekitar 12-15 gram protein artinya akan menyumbang sepertiga dari kebutuhan protein yang ada. Cukup baik,” tambahnya.

Walau memiliki berbagai kandungan gizi yang baik, Toto menyebut ada persoalan ketersediaan serangga yang harus diatasi. Mengingat dari segi jumlah serangga-serangga itu tak bisa dibandingkan ketersediaannya ketimbang ikan maupun telur.

“Apakah produksinya banyak itu kan pertanyaan kita ke depannya. Kalau misalnya ikan telur sudah disiapkan untuk diproduksi dan dikonsumsi oleh masyarakat sehingga ketersediaan bahan itu tersedia terus walaupun dikonsumsi oleh sekian banyak orang,” pungkasnya

Penulis : Wanda Hanifah Pramono

Sumber Berita : Suara.com

Berita Terkait

SiLPA Anjlok Jadi Rp10 Miliar, Struktur Belanja APBD Perubahan Barito Selatan Dipangkas Rp200 M
Wabup Barsel Instruksikan Pembentukan Posko Karhutla dan Distribusi Air Bersih di Setiap Kecamatan
Dugaan Cacat Syarat Pendidikan Gibran Disidangkan di MK, Ini Poin Gugatan Pemohon
DPRD Kalteng Dukung Pembukaan Rekening Bansos, Purdiono: Pemberdayaan Ekonomi Jauh Lebih Penting
Jokowi Hadiri Rakorda PSI Kabupaten Bekasi, Alasan Baru Tunjukkan KTA: “Suka-suka Saya Dong!”
Harumkan Nama Indonesia, Widya Esthetic Clinic Banjarmasin Raih Penghargaan Bergengsi Asia Pasifik 2026
Kemenimipas Bongkar Temuan Sidak di Lapas Cibinong: Pintu Sel Diperiksa Satu per Satu!
Membaca Dinamika Gambut Indonesia: Mengapa Matematika dan Pemodelan Sains Menjadi Kunci Menjaga Keseimbangan Karbon Bumi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 15:54 WIB

SiLPA Anjlok Jadi Rp10 Miliar, Struktur Belanja APBD Perubahan Barito Selatan Dipangkas Rp200 M

Senin, 28 September 2026 - 13:31 WIB

Dugaan Cacat Syarat Pendidikan Gibran Disidangkan di MK, Ini Poin Gugatan Pemohon

Senin, 28 September 2026 - 06:53 WIB

DPRD Kalteng Dukung Pembukaan Rekening Bansos, Purdiono: Pemberdayaan Ekonomi Jauh Lebih Penting

Senin, 28 September 2026 - 06:48 WIB

Jokowi Hadiri Rakorda PSI Kabupaten Bekasi, Alasan Baru Tunjukkan KTA: “Suka-suka Saya Dong!”

Senin, 28 September 2026 - 04:30 WIB

Harumkan Nama Indonesia, Widya Esthetic Clinic Banjarmasin Raih Penghargaan Bergengsi Asia Pasifik 2026

Minggu, 27 September 2026 - 09:28 WIB

Kemenimipas Bongkar Temuan Sidak di Lapas Cibinong: Pintu Sel Diperiksa Satu per Satu!

Minggu, 27 September 2026 - 09:17 WIB

Membaca Dinamika Gambut Indonesia: Mengapa Matematika dan Pemodelan Sains Menjadi Kunci Menjaga Keseimbangan Karbon Bumi

Sabtu, 26 September 2026 - 09:14 WIB

Setahun Berjuang Lawan Sakit, Guruh Soekarnoputra Mengembuskan Napas Terakhir di RS Siloam

Berita Terbaru