Pezeshkian Menangkan Pilpres, Gerakan Reformasi di Negara Iran Kembali Menemukan Momentumnya

- Jurnalis

Minggu, 7 Juli 2024 - 07:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kandidat reformis Iran Masoud Pezeshkian mengangkat tangannya untuk menyambut para pendukungnya saat kampanye. (Foto: AFP)

Kandidat reformis Iran Masoud Pezeshkian mengangkat tangannya untuk menyambut para pendukungnya saat kampanye. (Foto: AFP)

1TULAH.COM-Gerakan reformasi di Negara Iran yang sempat terhenti kembali menemukan momentumnya. Hal ini menyusul hasil perolehan suara di Negara ini yang dimenangkan oleh Masoud Pezeshkian, berhasil memenangkan putaran kedua pemilihan presiden, mengalahkan tokoh ultrakonservatif Saeed Jalili.

Kementerian Dalam Negeri Iran mengumumkan pada Sabtu (6/7/2024) bahwa kandidat reformis Iran, Masoud Pezeshkian, berhasil memenangkan putaran kedua pemilihan presiden, mengalahkan tokoh ultrakonservatif Saeed Jalili.

Juru bicara badan penyelenggara pemilu, Mohsen Eslami, mengatakan bahwa Pezeshkian berhasil mengantongi lebih dari 16 juta suara, sementara Jalili memperoleh lebih dari 13 juta suara dari sekitar 30 juta suara yang masuk. Eslami juga menambahkan bahwa tingkat partisipasi pemilih mencapai 49,8 persen.

Jumlah surat suara yang rusak dilaporkan mencapai lebih dari 600.000.

Pezeshkian mengucapkan terima kasih kepada para pendukungnya yang datang untuk memilih “dengan cinta dan memberikan bantuan” kepada negara.

“Kami akan mengulurkan tangan persahabatan kepada semua orang; kita semua adalah rakyat negara ini; kita harus bersatu untuk kemajuan negara ini,” katanya di televisi pemerintah.

Pemilu tersebut dilakukan lebih awal setelah kematian presiden ultrakonservatif Ebrahim Raisi dalam sebuah kecelakaan helikopter. Putaran pertama pemilu yang berlangsung pada pekan lalu itu ditandai dengan tingkat partisipasi pemilih yang mencapai titik terendah.

Baca Juga :  Keretakan Internal Kemenkeu di Balik Copotnya Purbaya Yudhi Sadewa dan Penunjukan Suahasil Nazara

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bahkan menyerukan masyarakat untuk berperan aktif dalam pemilu putaran kedua. Ia menegaskan pentingnya proses pemilu tersebut.

Khamenei mengatakan jumlah pemilih pada putaran pertama lebih rendah dari yang diharapkan. Namun menambahkan bahwa hal itu bukanlah tindakan yang “melawan sistem”.

Pada putaran pertama pemilu minggu lalu, Pezeshkian, satu-satunya kandidat reformis yang diizinkan mencalonkan diri, memenangkan suara terbanyak sekitar 42 persen, sedangkan Jalili menempati urutan kedua dengan perolehan suara sekitar 39 persen, menurut data dari otoritas pemilu Iran.

Partisipasi pemilih dalam putaran pertama di Iran hanya mencapai 40 persen dari total 61 juta pemilih yang memenuhi syarat, menjadi titik terendah sejak Revolusi Islam pada 1979.

Pencalonan Pezeshkian, yang hingga saat ini belum banyak diketahui, telah meningkatkan harapan kaum reformis di Iran setelah bertahun-tahun didominasi oleh kubu konservatif dan ultrakonservatif.

Baca Juga :  Tak Perlu Mahal, Rahasia Gaya Hidup Hijau Luna Maya Cuma Modal Kebiasaan Kecil

Kelompok reformis utama di Iran memberikan dukungan penuh kepada Pezeshkian. Dukungan juga datang dari mantan presiden Mohammad Khatami dan Hassan Rouhani, seorang tokoh moderat yang terkenal.

Pezeshkian, seorang ahli bedah jantung berusia 69 tahun, mendorong “hubungan konstruktif” dengan negara-negara Barat untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir dan mengakhiri isolasi Iran.

Jalili, 58 tahun, adalah mantan perunding nuklir Iran yang dikenal karena sikapnya yang sangat anti-Barat dan tidak kenal kompromi.

Sebelum pemilihan putaran kedua pada Jumat, Pezeshkian dan Jalili mengikuti dua sesi debat yang disiarkan oleh televisi nasional. Mereka membahas partisipasi rendah pemilih, masalah ekonomi Iran, hubungan internasional, dan pembatasan internet.

Pezeshkian berjanji untuk mengurangi pembatasan internet yang sudah berlangsung lama. Ia juga menentang dengan tegas patroli polisi yang memaksa perempuan mengenakan jilbab, sebuah isu yang menjadi perhatian sejak kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi pada 2022.

Mahsa Amini, warga Kurdi Iran berusia 22 tahun itu telah ditahan karena dugaan pelanggaran aturan berpakaian. Kematiannya memicu kerusuhan nasional yang berlangsung selama berbulan-bulan. (Sumber:voaindoensia.com)

Berita Terkait

Pemerintah Kerahkan 64 Pesawat dan 54 Ribu Personel Gabungan Tangani Karhutla
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Rencana Pembentukan Batalyon Baru TNI untuk Jaga Kekayaan Alam
Polisi Ungkap Motif Pria Tendang Wanita di Mal Senayan City, Isu Copet Dipastikan Hoaks
Ribuan Warga Murung Raya Terima Bantuan Program Kartu Huma Betang Sejahtera
DPRD Kalteng Dorong Percepatan SPPG 3T demi Pemerataan Program Makan Bergizi Gratis
Harga Cabai Melonjak Akibat Kemarau dan Masa Transisi Panen, Diperkirakan Pulih Oktober
KPK Ungkap 8 Titik Rawan Korupsi di Sektor Pertanahan ATR/BPN
KPK Respons Pernyataan Mahfud MD Terkait Nusron Wahid
Tag :

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 05:29 WIB

Pemerintah Kerahkan 64 Pesawat dan 54 Ribu Personel Gabungan Tangani Karhutla

Minggu, 20 September 2026 - 17:48 WIB

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Rencana Pembentukan Batalyon Baru TNI untuk Jaga Kekayaan Alam

Minggu, 20 September 2026 - 17:33 WIB

Polisi Ungkap Motif Pria Tendang Wanita di Mal Senayan City, Isu Copet Dipastikan Hoaks

Minggu, 20 September 2026 - 16:51 WIB

Ribuan Warga Murung Raya Terima Bantuan Program Kartu Huma Betang Sejahtera

Minggu, 20 September 2026 - 05:25 WIB

DPRD Kalteng Dorong Percepatan SPPG 3T demi Pemerataan Program Makan Bergizi Gratis

Minggu, 20 September 2026 - 05:20 WIB

Harga Cabai Melonjak Akibat Kemarau dan Masa Transisi Panen, Diperkirakan Pulih Oktober

Sabtu, 19 September 2026 - 20:57 WIB

KPK Ungkap 8 Titik Rawan Korupsi di Sektor Pertanahan ATR/BPN

Sabtu, 19 September 2026 - 20:54 WIB

KPK Respons Pernyataan Mahfud MD Terkait Nusron Wahid

Berita Terbaru