Survei Terbaru SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok ke 16,9 Persen, Peta Politik Nasional Bergerak Dinamis

- Jurnalis

Jumat, 31 Juli 2026 - 04:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi bendera Partai Gerindra. (Ist/ Antara)

Ilustrasi bendera Partai Gerindra. (Ist/ Antara)

1TULAH.COM-Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) baru saja merilis laporan penelitian terbaru bertajuk “Elektabilitas Partai”. Hasil survei nasional ini mencatat adanya tren penurunan signifikan pada elektabilitas Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Meskipun saat ini masih bertengger di posisi puncak, dominasi Gerindra sebagai partai papan atas dinilai makin terancam jika pemilihan anggota DPR RI dilakukan hari ini.

Hasil Simulasi Elektabilitas Partai Politik Terbaru

Dalam simulasi format semi terbuka, Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengungkapkan perolehan dukungan publik jika pemilihan umum digelar saat survei berlangsung.

  • Partai Gerindra: 16,9%

  • PDI Perjuangan (PDIP): 11,7%

  • Partai Golkar: 9,6%

  • Partai Demokrat: 8,1%

  • PKB: 5,4%

  • Partai NasDem: 4,4%

  • PKS: 4,4%

  • PSI: 4,1%

  • Perindo: 2,2%

  • PAN: 1,9%

  • PPP: 1,3%

  • Partai Garuda: 1,0%

Sementara itu, partai-partai lainnya berada di bawah angka 1 persen. Adapun kelompok pemilih yang belum menentukan sikap (undecided voters) atau belum menjawab masih sangat tinggi, yaitu mencapai 25,9 persen.

Tren Terjun Bebas: Dari Puncak 29,3% hingga Tersisa 16,9%

Penurunan elektabilitas partai berlogo kepala Garuda ini menjadi sorotan tajam karena terjadi secara drastis dalam kurun waktu beberapa bulan saja.

Baca Juga :  Distranaker Mura dan Kejari Perkuat Penanganan Hukum Perdata dan TUN

Jika menilik rekam jejaknya, perolehan Gerindra pada Pemilu 2024 berada di angka 13,2 persen. Suaranya kemudian melonjak signifikan menjadi 23,3 persen pada survei November 2025, bahkan sempat mencapai puncaknya di angka 29,3 persen pada periode Februari–Maret 2026. Namun, memasuki Juli 2026, posisinya merosot tajam ke angka 16,9 persen.

Kondisi ini tergolong tidak biasa bagi sebuah partai penguasa. SMRC menyoroti bahwa biasanya elektabilitas partai pengusung presiden cenderung menguat di awal masa jabatan, seperti yang dialami Partai Demokrat pada 2009 atau PDIP pada 2019.

“Peluang Partai Gerindra sebagai partai nomor satu melemah jika Pemilu diadakan sekarang. Padahal Gerindra adalah partai presiden yang bisa dan akan maju kembali sebagai calon presiden. Biasanya presiden yang akan maju kembali, partainya menjadi nomor satu,” tulis analisis resmi SMRC.

Imbas Kinerja Pemerintah dan Program Prioritas

SMRC mencatat adanya keterkaitan erat (korelasi) antara elektabilitas Gerindra dengan persepsi publik terhadap jalannya roda pemerintahan.

Deni Irvani menjelaskan bahwa penurunan elektabilitas Gerindra dalam 9 bulan terakhir berjalan sejajar dengan melandainya evaluasi positif masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto. Hal tersebut mencakup kepuasan publik di sektor ekonomi, politik, dan penegakan hukum.

Baca Juga :  Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Pimpin Paripurna Penyerahan Raperda APBD 2027

Selain itu, sentimen terhadap dua program unggulan pemerintah—yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)—juga turut memengaruhi dinamika persepsi masyarakat.

Pergeseran Suara Partai-Partai Lainnya

Tak hanya Gerindra, sejumlah partai politik lain juga mengalami tekanan elektoral jika dibandingkan dengan hasil Pemilu 2024 lalu:

  • PDIP tergerus dari 16,7 persen menjadi 11,7 persen.

  • Golkar merosot dari 15,3 persen menjadi 9,6 persen.

  • Partai Demokrat bertahan relatif stabil di kisaran 8,1 persen.

  • PKB, PKS, NasDem, dan PAN mengalami pergerakan fluktuatif tetapi secara umum memperlihatkan kecenderungan menurun.

Metodologi Survei

Penelitian nasional SMRC ini diselenggarakan pada rentang 5–19 Juli 2026 dengan mengikutsertakan 749 responden yang dipilih secara acak (random).

Pengumpulan data dilakukan melalui kombinasi wawancara telepon bagi responden pemilik ponsel (83,8 persen) dan wawancara tatap muka secara langsung untuk responden non-telepon (16,2 persen). Survei ini memiliki batas kesalahan (margin of error) sebesar ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Pemerintah Kerahkan 64 Pesawat dan 54 Ribu Personel Gabungan Tangani Karhutla
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Rencana Pembentukan Batalyon Baru TNI untuk Jaga Kekayaan Alam
Polisi Ungkap Motif Pria Tendang Wanita di Mal Senayan City, Isu Copet Dipastikan Hoaks
Ribuan Warga Murung Raya Terima Bantuan Program Kartu Huma Betang Sejahtera
DPRD Kalteng Dorong Percepatan SPPG 3T demi Pemerataan Program Makan Bergizi Gratis
Harga Cabai Melonjak Akibat Kemarau dan Masa Transisi Panen, Diperkirakan Pulih Oktober
KPK Ungkap 8 Titik Rawan Korupsi di Sektor Pertanahan ATR/BPN
KPK Respons Pernyataan Mahfud MD Terkait Nusron Wahid
Tag :

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 05:29 WIB

Pemerintah Kerahkan 64 Pesawat dan 54 Ribu Personel Gabungan Tangani Karhutla

Minggu, 20 September 2026 - 17:48 WIB

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Rencana Pembentukan Batalyon Baru TNI untuk Jaga Kekayaan Alam

Minggu, 20 September 2026 - 17:33 WIB

Polisi Ungkap Motif Pria Tendang Wanita di Mal Senayan City, Isu Copet Dipastikan Hoaks

Minggu, 20 September 2026 - 16:51 WIB

Ribuan Warga Murung Raya Terima Bantuan Program Kartu Huma Betang Sejahtera

Minggu, 20 September 2026 - 05:20 WIB

Harga Cabai Melonjak Akibat Kemarau dan Masa Transisi Panen, Diperkirakan Pulih Oktober

Sabtu, 19 September 2026 - 20:57 WIB

KPK Ungkap 8 Titik Rawan Korupsi di Sektor Pertanahan ATR/BPN

Sabtu, 19 September 2026 - 20:54 WIB

KPK Respons Pernyataan Mahfud MD Terkait Nusron Wahid

Sabtu, 19 September 2026 - 16:00 WIB

Ramai Wacana Label Non-Halal pada Kemasan Rokok, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Berita Terbaru