Konflik Iran-Israel: Menguak Perpecahan Sunni-Syiah dan Masa Depan Solidaritas Muslim

- Jurnalis

Minggu, 22 Juni 2025 - 14:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi perang Iran-Israel: Sebuah gedung di Israel meletup usai mendapat hantaman rudah dari militer Iran. [Suara.com]

Ilustrasi perang Iran-Israel: Sebuah gedung di Israel meletup usai mendapat hantaman rudah dari militer Iran. [Suara.com]

1TULAH.COM-– Eskalasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Iran dan Israel tidak hanya mengancam stabilitas geopolitik global, tetapi juga secara tajam menyoroti dan memperburuk garis patahan sektarian yang telah lama membelah dunia Islam: perpecahan antara Syiah dan Sunni.

Konflik ini, pada dasarnya antara negara Yahudi dan republik Islam Syiah, secara paradoksal telah menciptakan aliansi diam-diam antara Israel dan beberapa negara Arab Sunni yang kuat, memicu pertanyaan mendalam tentang masa depan solidaritas Muslim.

Meskipun Teheran membingkai perjuangannya melawan Israel sebagai pembelaan atas nama seluruh umat Islam, terutama untuk pembebasan Palestina, kenyataannya jauh lebih kompleks. Bagi banyak negara Teluk yang dipimpin oleh dinasti Sunni, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), ancaman yang dirasakan dari hegemoni regional Iran jauh lebih mendesak dan nyata daripada konflik Palestina-Israel.

Ketakutan ini bukan tanpa dasar, mengingat dukungan Iran terhadap proksi-proksi Syiah di seluruh kawasan, mulai dari Hezbollah di Lebanon, Houthi di Yaman, hingga milisi di Suriah dan Irak.

Ancaman Hegemoni Iran Lebih Mendesak bagi Negara Teluk Sunni

Seorang pakar Timur Tengah terkemuka, Dr. F. Gregory Gause, III, dari Texas A&M University, mengartikulasikan sentimen ini dengan jelas. “Bagi banyak negara Teluk Sunni, ancaman utama terhadap stabilitas regional bukanlah Israel, melainkan ambisi hegemoni Iran dan jaringan proksi Syiah-nya yang merusak,” ujarnya dikutip dari analisisnya di Al Jazeera pada 20 April 2024.

Baca Juga :  Kabut Asap Karhutla Capai Timor Leste, ASEAN Didesak Gelar Rapat Darurat

Kalkulus strategis inilah yang mendorong lahirnya Abraham Accords pada tahun 2020, di mana UEA dan Bahrain menormalisasi hubungan dengan Israel—sebuah langkah yang tak terpikirkan satu dekade lalu dan secara implisit menargetkan Iran sebagai musuh bersama.

Retakan di antara Umat: Dilema Pemimpin Arab Sunni

Iran, di sisi lain, secara strategis menggunakan isu Palestina untuk mencoba melampaui perpecahan sektarian. Dengan memposisikan diri sebagai pemimpin “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance) terhadap hegemoni Amerika Serikat dan Israel, Iran berharap dapat memenangkan hati dan pikiran publik Arab di jalanan, yang seringkali memiliki sentimen pro-Palestina yang kuat.

“Teheran secara strategis menggunakan isu Palestina untuk menampilkan dirinya sebagai pemimpin ‘Poros Perlawanan’ dan mencoba melampaui perpecahan sektarian untuk mendapatkan legitimasi di mata publik Arab,” menurut analisis untuk majalah Foreign Affairs, 15 Mei 2024.

Namun, strategi ini menciptakan dilema akut bagi para pemimpin Arab Sunni. Di satu sisi, mereka menghadapi tekanan dari rakyat mereka sendiri yang menuntut sikap lebih keras terhadap Israel. Di sisi lain, mereka secara diam-diam mungkin mendapat manfaat dari tindakan militer Israel yang melemahkan kemampuan militer dan nuklir Iran.

Laporan dari Carnegie Endowment for International Peace pada Juni 2024 menyoroti dinamika ini, “Ada jurang pemisah yang lebar antara sentimen publik di banyak negara Arab yang pro-Palestina, dengan kalkulus geopolitik para pemimpin mereka yang melihat Teheran sebagai ancaman yang lebih mendesak daripada Tel Aviv.”

Baca Juga :  Perkuat Penegakan Hukum Karhutla, Kejagung dan Polri Bakal Gelar Rakor Terbatas

Dampak pada Solidaritas Global

Dampak dari perpecahan ini sangat terasa di panggung internasional. Organisasi Kerjasama Islam (OKI), badan yang seharusnya mewakili 57 negara Muslim, seringkali lumpuh dan tidak mampu menghasilkan respons yang kohesif terhadap krisis di Timur Tengah. Persaingan antara poros Riyadh (Sunni) dan poros Teheran (Syiah) membuat setiap resolusi atau tindakan bersama menjadi hampir mustahil. Konflik Iran-Israel dengan demikian tidak hanya menjadi perang antar negara, tetapi juga menjadi arena proksi bagi persaingan sektarian yang lebih luas.

Negara-negara Muslim di luar Timur Tengah, termasuk Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, juga merasakan dampaknya. Pemerintah dan masyarakat dihadapkan pada narasi yang saling bertentangan. Di satu sisi adalah seruan solidaritas Islam universal untuk Palestina yang digemakan Iran, dan di sisi lain adalah realitas geopolitik di mana negara-negara Arab utama justru lebih khawatir terhadap agenda ekspansionis Iran. Kebingungan ini berpotensi memecah belah opini publik dan mempersulit formulasi kebijakan luar negeri yang konsisten.

Ketika Iran melancarkan serangan balasan ke Israel, negara-negara seperti Yordania dan Arab Saudi dilaporkan turut mencegat beberapa drone dan rudal, sebuah tindakan yang menggarisbawahi aliansi keamanan de-facto mereka melawan Iran.

Hal ini semakin memperjelas kompleksitas hubungan di Timur Tengah dan bagaimana konflik Iran-Israel menjadi katalis yang menyingkap perpecahan sektarian yang lebih dalam. (Sumber:Suara.com)

 

 

Berita Terkait

KPK Jerat Kepala BPK Jateng dan Bupati Klaten dalam Skandal Pengondisian Laporan Keuangan
Mengapa Langit Palangka Raya Berubah Kuning Kecokelatan? Ini Bahaya Asap Karhutla & Dampaknya bagi Paru-Paru
Dinsos Barsel Alokasikan Bansos Sembako dan Kursi Roda pada APBD Perubahan 2026
Dua Emiten Haji Isam Jaminkan Saham Rp73 T ke Bank Mandiri, Ini Penjelasan Manajemen
2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kemerdekaan Pers dan Kriminalisasi Jurnalis Jadi Sorotan Dunia
Tingkatkan Ketepatan Data, Kemendagri Evaluasi Layanan Pengusulan Satyalancana Karya Satya PNS
Kabut Asap Karhutla Capai Timor Leste, ASEAN Didesak Gelar Rapat Darurat
Atasi Krisis Air Bersih hingga Infrastruktur, DPRD Kalteng Soroti Aspirasi Warga Gunung Mas
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:16 WIB

KPK Jerat Kepala BPK Jateng dan Bupati Klaten dalam Skandal Pengondisian Laporan Keuangan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:05 WIB

Mengapa Langit Palangka Raya Berubah Kuning Kecokelatan? Ini Bahaya Asap Karhutla & Dampaknya bagi Paru-Paru

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:18 WIB

Dinsos Barsel Alokasikan Bansos Sembako dan Kursi Roda pada APBD Perubahan 2026

Jumat, 16 Oktober 2026 - 05:31 WIB

Dua Emiten Haji Isam Jaminkan Saham Rp73 T ke Bank Mandiri, Ini Penjelasan Manajemen

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:28 WIB

2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kemerdekaan Pers dan Kriminalisasi Jurnalis Jadi Sorotan Dunia

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:21 WIB

Tingkatkan Ketepatan Data, Kemendagri Evaluasi Layanan Pengusulan Satyalancana Karya Satya PNS

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:05 WIB

Kabut Asap Karhutla Capai Timor Leste, ASEAN Didesak Gelar Rapat Darurat

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:52 WIB

Atasi Krisis Air Bersih hingga Infrastruktur, DPRD Kalteng Soroti Aspirasi Warga Gunung Mas

Berita Terbaru