Serangan Israel ke Kota Rafah Tewaskan Puluhan Warga Palestina, Dikecam Keras Para Pemimpin Dunia

- Jurnalis

Sabtu, 1 Juni 2024 - 15:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Asap membubung ke angkasa setelah terjadi serangan Israel di kota Rafah di Jalur Gaza selatan, pada 18
Mei 2024. Korban tewas warga Palestina akibat serangan Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza
meningkat menjadi 35.386 orang [Suara.com/ANTARA/Xinhua/Khaled Omar]

Asap membubung ke angkasa setelah terjadi serangan Israel di kota Rafah di Jalur Gaza selatan, pada 18 Mei 2024. Korban tewas warga Palestina akibat serangan Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza meningkat menjadi 35.386 orang [Suara.com/ANTARA/Xinhua/Khaled Omar]

1TULAH.COM-Serangan tentara Israel ke permukiman penduduk di Kota Rafah telah menewaskan sedikitnya 40 orang warga Pelestina. Serangan ini pun langsung menuai kecaman dari sejumlah pemimpin Negara, termasuk oleh Presiden RI Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menegaskan Indonesia mengecam keras serangan Israel di Kota Rafah, Palestina. Serangan yang menewaskan puluhan orang itu terjadi saat perang antara Israel melawan kelompok Hamas.

“Meskipun sudah berkali-kali saya sampaikan,tapi saya ingin mengulang lagi bahwa Indonesia mengecam keras serangan Israel ke Rafah,”ujar Jokowi di sela kunjungan kerja di Riau, Sabtu (1/6/2024).

Israel kata Jokowi, semestinya memiliki kewajiban untuk menaati mahkamah internasional, termasuk penghentian potensi serangan ke Palestina. Tidak hanya Indonesia, banyak negara lain mengecam serangan Israel di Kota Rafah.

Rusia melalui Wakil Menteri Luar Negeri Mikhail Bogdanov pada Selasa (28/5) menekankan bahwa operasi militer Israel di Rafah adalah hal yang tidak dapat diterima.

Sementara Kementerian Luar Negeri Malaysia (Wisma Putra) juga menyatakan serangan terusmenerus Israel,tanpa belas kasih dan disengaja terhadap rakyat Palestina melanggar keputusan Mahkamah Internasional (ICJ) pada 24 Mei 2024 lalu, yang menuntut serangan tentara Israel di Rafah dihentikan segera.

Kemudian Pemerintah China mendesak agar Israel menghentikan operasi militer di Rafah, tempat perlindungan bagi lebih dari satu juta warga Palestina di Gaza, sesuai dengan keputusan ICJ.

Baca Juga :  Jaga Stabiltas Harga Bahan Pokok

Sementara Qatar melalui Kementerian Luar Negeri mengutuk keras penembakan terhadap kamp pengungsi di Jalur Gaza oleh pasukan bersenjata Israel yang dinilai dapat menjadi batu sandungan untuk mencapai gencatan senjata di sana.

Sebelumnya pada Minggu (26/5), Israel melancarkan serangan udara terhadap kamp pengungsi di timur laut Rafah. Serangan itu menewaskan sedikitnya 40 orang dan melukai puluhan lainnya, menurut dinas pertahanan sipil Palestina.

Kota Rafah: Sejarah, Budaya dan Masyarakat

Rafah menjadi kota aman terakhir bagi penduduk sipil Gaza. Kini kota itu juga tak luput dari serangan Israel. Seruan All Eyes on Rafah menggema ke seluruh dunia menyusultindakan keji Israel yang melakukan genosida terhadap penduduk Palestina. Terakhir, serangan ke Rafah akhir pekan lalu menewaskan setidaknya 50 warga sipil Palestina yang seharusnya tidak menjaditarget perang.

Alhasil, seruan All Eyes on Rafah pun tak hanya diteriakkan warga dunia dan forum – forum internasional,tetapi juga di media sosial. Orang – orang yang peduli dengan Palestina sekaligus memboikot produk yang terafiliasi dengan Israel membagikan poster – poster bertuliskan All Eyes on Rafah.

Melansir ensiklopedia Britannica, Rafah merupakan sebuah kota di sebelah selatan Jalur Gaza, Palestina. Terletak di sepanjang perbatasan Gaza dan Mesir, sejak abad ke-20 Rafah terbelah masuk di kedua wilayah negara tersebut.

Kini, Rafah merupakan kota terakhir yang terlindungi dari serangan zionis sepanjang perang. Namun, Israel membombardir wilayah tersebut sehingga kini warga sipil Palestina tidak lagi memilikitempat aman.

Baca Juga :  Persyaratan Damai Rusia Dikecam pada Pertemuan KTT Ukraina

Sepanjang sejarahnya, Rafah dikenal sebagai kota perbatasan karena letaknya ditepi barat daya dataran pantai. Semenanjung Sinai gampang dicapai dari kota ini. Rafah juga menjadi kota yang berperan penting dalam konflik Mesir dan Suriah pada 217 SM.

Begitu pula ketika Mesir diduduki Inggris. Namun, pada akhir abad ke-20 ketika pasukan Israel menyerang Gaza, kondisi Rafah mulai berubah. Israel menduduki Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai dalam Perang Enam Hari (1967).

Dalam persiapan untuk penarikan dari Sinai, Israel membangun perbatasan modern Rafah yang melintasi selatan kota di sepanjang jalan utama antara kota Gaza dan Al-Arsh, Mesir, dan mengendalikan penyeberangan sampai penarikannya dari Jalur Gaza pada tahun 2005.

Pembagian Rafah dalam dua negara pada tahun 1982 menyebabkan gangguan yang signifikan. Israel dan Mesir telah menghancurkan sebagian besar distrik pusat kota untuk mengukir zona penyangga di sepanjang perbatasan.

Warga mulai menggaliterowongan untuk menghindari pembatasan Israel dan Mesir pada penyeberangan orang dan barang. Terowongan tersebut sedalam 15 meter di bawah tanah,terbentang bercabang sepanjang Gaza ke Mesir.

Terowongan bawah tanah di Rafah menjadi jalur kehidupan untuk menyelundupkan barangbarang vital ke Jalur Gaza,terutama setelah wilayah itu berada di bawah blokade Israel tahun 2007. (Sumber:Suara.com)

 

Berita Terkait

Polisi Masih Selidiki Motif Mantan Kades Mabuan Tewas Gantung Diri
Ini Alasan Netanyahu Bubarkan Kabinet Perang Israel
Waspadai Potensi Tindak Kejahatan di Malam Hari, Legislator Kalteng Sarankan Ini ke Pemda
Berembus Kabar Sejumlah Pj Kepala Daerah Hendak Ikutan Pilkada, Mendagri Tito: Bawaslu Tolong Diawasi!
Hermon Ajak ASN Tingkatkan Kinerja
Ditemukan Gantung Diri di Dalam Rumahnya, Kondisi Jasad Mantan Kades Desa Mabuan Memprihatinkan
Sah! Thailand Jadi Negara Pertama di Asia Tenggara Legalkan Pernikahan Sesama Jenis
Dorong Ekonomi Daerah, Legislator Kalteng: Gandeng Stakeholder untuk Mengembangkan Sektor Strategis
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 20 Juni 2024 - 06:52 WIB

Polisi Masih Selidiki Motif Mantan Kades Mabuan Tewas Gantung Diri

Rabu, 19 Juni 2024 - 18:28 WIB

Ini Alasan Netanyahu Bubarkan Kabinet Perang Israel

Rabu, 19 Juni 2024 - 17:18 WIB

Waspadai Potensi Tindak Kejahatan di Malam Hari, Legislator Kalteng Sarankan Ini ke Pemda

Rabu, 19 Juni 2024 - 15:07 WIB

Berembus Kabar Sejumlah Pj Kepala Daerah Hendak Ikutan Pilkada, Mendagri Tito: Bawaslu Tolong Diawasi!

Rabu, 19 Juni 2024 - 10:24 WIB

Hermon Ajak ASN Tingkatkan Kinerja

Rabu, 19 Juni 2024 - 06:44 WIB

Ditemukan Gantung Diri di Dalam Rumahnya, Kondisi Jasad Mantan Kades Desa Mabuan Memprihatinkan

Selasa, 18 Juni 2024 - 19:29 WIB

Sah! Thailand Jadi Negara Pertama di Asia Tenggara Legalkan Pernikahan Sesama Jenis

Selasa, 18 Juni 2024 - 17:05 WIB

Dorong Ekonomi Daerah, Legislator Kalteng: Gandeng Stakeholder untuk Mengembangkan Sektor Strategis

Berita Terbaru