Keracunan Massal MBG Tembus 2.000 Korban di 4 Provinsi, Media Asing Soroti Pengawasan Dapur Penyedia

- Jurnalis

Jumat, 4 September 2026 - 10:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keracunan MBG (Antara)

Keracunan MBG (Antara)

1TULAH.COM-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah diuji krisis kesehatan serius. Rentetan insiden keracunan massal diduga akibat santapan MBG melanda hampir 2.000 warga—sebagian besar siswa sekolah dan guru—sejak Selasa (1/9/2026) hingga Kamis (3/9/2026).

Petaka yang meluas di empat provinsi ini menelanjangi celah pengawasan kualitas dan keamanan pangan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah. Dampak luas dari insiden ini bahkan mulai mendapat sorotan ketat dari media internasional.

Kasus Ratusan Siswa Meluas dari Jawa Hingga Sumatera dan Sulawesi

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai titik lokasi kejadian, gelombang keracunan dilaporkan terjadi secara beruntun di beberapa wilayah:

  • Kabupaten Sidoarjo (Jawa Timur): Sebanyak 730 warga terdampak usai mengonsumsi menu MBG pada Selasa (1/9/2026). Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengonfirmasi 706 korban di antaranya merupakan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Desa Putat, Tanggulangin, serta siswa sekolah sekitar yang mayoritas sudah dipulangkan untuk berobat jalan.

  • Kabupaten Rembang (Jawa Tengah): Menjadi titik dampak terbesar dengan 777 korban dari SMAN 1 Lasem (752 murid dan 25 guru). Hidangan yang disediakan SPPG Desa Soditan menyebabkan gejala diare hebat, mual, dan muntah sejak Rabu (2/9/2026) malam hingga Kamis (3/9/2026) pagi.

  • Kabupaten Agam (Sumatra Barat): Mencatat 276 korban dari tingkat SD hingga SMA beserta jajaran guru. Pemkab setempat langsung menghentikan distribusi makanan dari SPPG Pasia Laweh.

  • Tana Toraja (Sulawesi Selatan): Sebanyak 152 siswa dari SMPN 1 Makale dan SMPN 2 Makale dilarikan ke tiga rumah sakit di Kota Makale usai menyantap makanan dari SPPG Batupapan. Wali murid menyebut masakan yang diterima berlendir, berbau amis, dan berdaging mentah.

  • Bener Meriah (Aceh): Sebanyak 15 murid SD dan seorang kepala sekolah harus mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Lampahan pada Rabu (2/9/2026) akibat keluhan pusing, mual, hingga sesak napas.

Baca Juga :  Pemerintah Resmi Terbitkan Perpres 27/2026 tentang Perlindungan Ekosistem Transportasi Digital

Situasi Darurat di Sekolah dan Penanganan Medis

Di SMAN 1 Lasem, Rembang, situasi darurat terjadi pada Kamis pagi ketika ratusan murid berebut memakai fasilitas kamar mandi sekolah akibat diare massal.

Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, menjelaskan pihak sekolah bergerak cepat mendatangkan tim medis dan ambulans dari Puskesmas Lasem. Langkah tegas diambil dengan memulangkan 1.174 murid serta 95 staf sekolah lebih awal demi memprioritaskan evakuasi kesehatan.

Baca Juga :  Usut Dana Hibah KPU, Kejari Mura Sita Sejumlah Dokumen

Sementara di Tana Toraja, Bupati Zadrak Tombeq memantau langsung proses penanganan korban di RSUD Lakipadada dan menginstruksikan seluruh fasilitas kesehatan serta puskesmas di Makale siaga penuh menangani para siswa sesuai standar operasional.

Pertanggungjawaban Penyedia dan Sikap Tegas Badan Gizi Nasional

Pihak pengelola dapur penyedia SPPG Soditan Lasem melalui Runut Kepala SPPG, Achmad Sholeh Syarifudin, menyampaikan permohonan maaf terbuka dan berjanji menanggung seluruh biaya pengobatan korban hingga pulih total tanpa pungutan biaya. Evaluasi menyeluruh terhadap alur masak kini sedang dilakukan di internal SPPG.

Di sisi lain, publik mendesak adanya pengusutan tuntas secara hukum atas kelalaian prosedur keamanan pangan yang membahayakan ribuan anak sekolah ini.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menegaskan pihaknya tidak akan memberikan penanganan kompromis jika ditemukan unsur kesengajaan atau kelalaian fatal pada pengoperasian dapur SPPG.

“Kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, mohon maaf, kami tidak bisa bantu,” tegas Sudaryono saat merespons kasus keracunan massal tersebut. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Pembangunan Kabupaten Kapuas Terus Melesat, Ketua Komisi I DPRD Kalteng Berikan Apresiasi
Respons Kabut Asap Lintas Batas: Presiden Prabowo Bahas Tawaran Bantuan Malaysia untuk Penanganan Karhutla
Ancaman Wacana Revisi UU Hak Cipta: Media Lokal Tolak Sentralisasi LMK dan Risiko Link Tax
Prabowo dan Presiden Mesir Sepakati Penguatan Pendidikan: Beasiswa, Riset, hingga Exchange Dosen
Survei CELIOS: 75% Masyarakat Merasa Stres dengan Kebijakan Pemerintah di 2 Tahun Kepemimpinan Prabowo
Benarkah “Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi”? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia
Kerusakan Ekologis dan Ancaman Kesehatan: Mengapa Karhutla di Sumatra dan Kalimantan Tak Kunjung Usai?
Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal
Tag :

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:15 WIB

Pembangunan Kabupaten Kapuas Terus Melesat, Ketua Komisi I DPRD Kalteng Berikan Apresiasi

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:04 WIB

Respons Kabut Asap Lintas Batas: Presiden Prabowo Bahas Tawaran Bantuan Malaysia untuk Penanganan Karhutla

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:06 WIB

Ancaman Wacana Revisi UU Hak Cipta: Media Lokal Tolak Sentralisasi LMK dan Risiko Link Tax

Senin, 12 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Survei CELIOS: 75% Masyarakat Merasa Stres dengan Kebijakan Pemerintah di 2 Tahun Kepemimpinan Prabowo

Minggu, 11 Oktober 2026 - 18:54 WIB

Benarkah “Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi”? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 16:03 WIB

Kerusakan Ekologis dan Ancaman Kesehatan: Mengapa Karhutla di Sumatra dan Kalimantan Tak Kunjung Usai?

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:56 WIB

Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:30 WIB

Pemkab Mura Harapkan KNPI Jadi Mitra Strategis Pembangunan Daerah

Berita Terbaru

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Seruyan, Megawati, saat menghadiri penutupan DSEF 2026 di Dermaga Desa Sembuluh II, Kecamatan Danau Sembuluh, Sabtu (10/10/2026).

Seruyan

Pemkab Apresiasi DSEF 2026, Harus Diagendakan Setiap Tahun

Senin, 12 Okt 2026 - 20:13 WIB