1TULAH.COM-Nilai tukar Rupiah dibuka melemah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi hari ini, Jumat (7/11/2025).
Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen pasar global yang menyoroti potensi penundaan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) AS dan dorongan kebijakan domestik terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Redenominasi Rupiah.
Berdasarkan data dari Bloomberg, Rupiah di pasar spot dibuka di level Rp 16.711 per Dolar AS, terdepresiasi tipis 0,04 persen dibandingkan posisi penutupan Kamis (6/11/2025) yang berada di level Rp 16.701 per Dolar AS.
🌏 Mata Uang Asia Bergerak Variatif
Pelemahan Rupiah sejalan dengan pergerakan mata uang Asia lainnya yang menunjukkan variasi terhadap the greenback. Beberapa mata uang mencatatkan pelemahan yang lebih dalam:
- Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia, anjlok 0,34 persen.
- Peso Filipina turun 0,2 persen.
- Dolar Taiwan terkoreksi 0,15 persen.
- Dolar Singapura tertekan 0,07 persen.
- Yen Jepang terkikis 0,03 persen.
- Yuan China turun 0,01 persen.
- Baht Thailand melemah tipis 0,006 persen.
🔑 Dua Faktor Utama Tekanan Rupiah: Global dan Domestik
Menurut Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, tekanan terhadap Rupiah pagi ini didorong oleh dua faktor utama, yakni sentimen dari pasar global dan perkembangan kebijakan di dalam negeri.
1. Faktor Global: Spekulasi Suku Bunga The Fed dan Data Ekonomi AS yang Kuat
Faktor utama dari sisi global adalah meningkatnya spekulasi bahwa The Fed tidak akan memangkas suku bunga pada bulan Desember tahun ini. Spekulasi ini menguat setelah Ketua The Fed, Jerome Powell, memberikan sinyal kehati-hatian, memperingatkan bahwa pemangkasan suku bunga bukanlah sesuatu yang pasti dalam waktu dekat.
“Data ekonomi swasta yang kuat juga menopang Dolar karena data ketenagakerjaan nonpertanian ADP menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan untuk bulan Oktober, menandakan bahwa pasar tenaga kerja AS tetap kuat. Data indeks manajer pembelian juga menunjukkan aktivitas bisnis AS tetap kuat,” ujar Ibrahim Assuaibi.
Kekuatan data ekonomi AS ini, yang dirilis di tengah penutupan pemerintahan (government shutdown) yang menunda rilis data resmi, membuat pelaku pasar semakin menurunkan ekspektasi mereka terhadap pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember. Kondisi ini membuat Dolar AS tetap perkasa, memberikan tekanan jual pada mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
2. Faktor Domestik: Rencana Pembentukan RUU Redenominasi Rupiah
Dari dalam negeri, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rencana pemerintah yang kembali mengusulkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Harga Rupiah atau Redenominasi Rupiah.
Rencana strategis ini tertuang dalam 4 kerangka regulasi di Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.70/2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Keuangan 2025-2029. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menargetkan pembahasan RUU Redenominasi Rupiah akan rampung pada tahun 2026.
Tujuan pengusulan RUU Redenominasi ini mencakup empat aspek penting bagi perekonomian nasional:
- Tercapainya efisiensi perekonomian melalui peningkatan daya saing nasional.
- Terjaganya kesinambungan perkembangan perekonomian nasional.
- Terjaganya nilai Rupiah yang stabil sebagai wujud terpeliharanya daya beli masyarakat.
- Meningkatnya kredibilitas Rupiah di mata dunia.
Meskipun bertujuan positif dalam jangka panjang untuk menyederhanakan nominal mata uang dan meningkatkan citra, kemunculan isu redenominasi seringkali menimbulkan diskusi dan kehati-hatian di pasar finansial, menambah dinamika pergerakan Rupiah dalam jangka pendek.
📝 Ringkasan Data Rupiah (Jumat, 7 November 2025)




















