MUARA TEWEH. Keberadaan badut-badut yang menunggu saweran pengendara di sekitar lampu merah Bundaran Bupati Muara Teweh sepertinya kian bertambah jumlahnya.
Hal ini menjadi perbincangan beberapa warga Muara Teweh akhir-akhir ini.
Merespon fenomena tersebut, kami mencoba melakukan penelusuran dan penggalian informasi tentang asal usul keberadaan badut-badut tersebut, pada Senin, 8 Juli 2024 Pagi.
Dari wawancara langsung terhadap salah seorang badut bernama ibu Fatmawati yang berusia kira-kira 50 tahun.
Didapatkan informasi, badut-badut tersebut berasal dari luar Barito Utara seperti dari Banjarmasin dan Palangka Raya. Ibu Fatmawati sendiri mengaku berasal dari Banjarmasin dan baru empat bulan melakoni profesi sebagai badut.
Ia bertempat tinggal di salah satu rumah sewaan di Muara Teweh.
Untuk menggali kemungkinan apakah badut-badut tersebut dikoordinir atau ada sponsornya. Kami menanyakan tentang kostumnya. Dari pengakuannya, kostum tersebut dibeli dengan uang pribadi masing-masing para badut melalui belanja online.
Badut tersebut bekerja dari sejak pagi pukul 07:00 WIB hingga jam 22:00 malam.
Adapun penghasilan yang di dapat para badut tersebut nominalnya dari seratus ribu hingga dua ratus ribu rupiah setiap harinya.
Pihak Sat Pol PP Kabupaten Barito Utara yang kami temui di kantornya pada hari yang sama. Dalam hal ini Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat, Maulidin Akbar, mengatakan, pihaknya sudah melakukan penertiban atas perintah Kepala Satuan,
“Jadi sudah ada peringatan pertama untuk para badut terutama di lampu merah Bundaran Bupati,” ucap Maulidin Akbar.
Selanjutnya untuk ke depan ada rencana melakukan penertiban kembali. Akan tetapi pada dasarnya pihak Sat Pol PP Barito Utara sementara hanya melakukan pembinaan, apabila masih bisa dibina.
“Kalau toh memang tidak bisa dibina akan kami tindak. Itu rencana kedepan,” tegas Maulidin.
Diterangkan pula oleh Maulidin Akbar, pihaknya dalam melakukan penertiban tidak berdiri sendiri, didampingi juga oleh unsur dari Bidang Perlindungan Masyarakat. Sebab mereka punya kewenangan dalam hal pembinaan masyarakat.
“Kemaren kita sudah catat identitas. Sekarang sepertinya ada penambahan pemain badut itu. Semestinya secepat mungkin ditertibkan, akan tetapi berhubung masih dalam kesibukan persiapan jelang HUT Barito Utara dan Hari Kemerdekaan, mudah-mudahan dapat segera dilaksanakan,” tutup Maulidin
Pemberian uang kepada peminta-minta atau pengemis juga menjadi salah satu masalah yang dapat membuat pengemis menjadi ketergantungan. Hal ini berpotensi menjadi pekerjaan bagi mereka. Apalagi jika hasil dari mengemis, jumlah yang didapat cukup banyak dan dapat melebihi UMR.
Fenomena pengemis atau peminta-minta menjadi permasalahan sosial yang tidak mudah diselesaikan. Salah satu faktor penyebabnya adalah kemiskinan kultural.
Sayangnya pihak dari dinas sosial yang coba kami hubungi melalui sambungan telpon dan chat, hingga berita ini kami turunkan belum berhasil kami dapatkan konfirmasinya. (M. Gazali Noor)

![Salah satu episode di Ini Talkshow Net TV. [YouTube Net TV]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/sule-360x200.jpg)


















![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)



