Pencaiaran Lapisan Es di Laut Antartika Semakin Parah, Ini yang Terjadi bagi Makhluk Hidup di Bumi Jika Terus Dibiarkan

- Jurnalis

Minggu, 3 Maret 2024 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Pemandangan Pulau Livingston di Kepulauan South Shetland, Antarktika, 26 Januari 2024. (Foto: Juan Barreto/AFP)

Pemandangan Pulau Livingston di Kepulauan South Shetland, Antarktika, 26 Januari 2024. (Foto: Juan Barreto/AFP)

1TULAH.COM-Lapisan es di laut Antartika menjadi salah satu titik pantau para ilmuan terhadap kondisi pemanasan di muka bumi. Dalam tiga tahun belakangan ini, pencaiaran lapisan es di kawasan Antartika menunjukkan semakin parah.

Kondisi ini jika tidak ada keseriusan dari para pemangku kebijakan di tingkat internasional dan umat manusia di muka bumi ini, bukan tidak mungkin sejumlah daratan di muka bumi ini akan tenggelam.

Tingkat ketebalan es laut di Antartika mencapai titik terendah dalam sejarah untuk tahun ketiga berturut-turut. Penyusutan tersebut menandakan konsekuensi serius bagi kehidupan di Bumi.

Namun ketika mengamati benua paling selatan, ilmuwan Miguel Angel de Pablo menyesalkan bahwa manusia tampaknya tidak menyadari peringatan tersebut.

“Kami (para ilmuwan) sangat khawatir… karena kami tidak tahu bagaimana kami bisa menyelesaikannya sendiri,” kata ahli geologi planet asal Spanyol itu kepada AFP di Pulau Livingston di Kepulauan Antarktika South Shetland.

“Semakin banyak peringatan yang kami kirimkan… untuk membuat masyarakat sadar akan apa yang terjadi, sepertinya kami tidak didengarkan, bahwa kami (dianggap) sebagai pihak yang menimbulkan kekhawatiran berlebihan,” meskipun ada buktinya, katanya.

Pusat Data Salju dan Es Nasional Amerika Serikat (AS) (US National Snow & Ice Data Center/NSIDC) melaporkan pada Rabu (28/2/2024) bahwa selama tiga bulan berturut-turut pada Februari, luas minimum es laut di Antartika berada di bawah dua juta kilometer persegi, masa puncak musim pencairan musim panas di wilayah selatan.

Baca Juga :  WASPADA! Penyakit Kronis Ini Rentan Kambuh di Minggu Pertama Lebaran

Tutupan es laut minimum selama tiga tahun terakhir adalah yang terendah sejak pencatatan dimulai 46 tahun lalu.

Mencairnya es laut tidak berdampak langsung pada permukaan laut, karena es terbentuk dari pembekuan air asin yang sudah ada di lautan. Namun, es putih memantulkan lebih banyak sinar matahari dibandingkan dengan air laut yang lebih gelap.

Hilangnya es tersebut semakin memperburuk pemanasan global dan juga mengekspos lapisan es air tawar di darat, yang dapat menyebabkan kenaikan permukaan air laut yang signifikan jika mencair.

“Meskipun kita jauh dari wilayah yang berpenghuni di planet ini, kenyataannya apa yang terjadi di Antartika berdampak pada seluruh wilayah di dunia,” kata De Pablo.

Sebuah studi pada tahun lalu menemukan bahwa hampir separuh dari rak es di Antarktika – lembaran terapung yang melekat pada daratan – juga mengalami penurunan volume dalam 25 tahun terakhir, melepaskan triliunan ton air cair ke lautan.

De Pablo mengatakan hal ini berdampak tidak hanya pada permukaan laut tetapi juga salinitas dan suhu laut.

Baca Juga :  Hizbullah Luncurkan Roket dan Drone ke Israel, Negara Iran Mulai Serius Bantu Negara Palestina; Apa Kata AS?

Beberapa ilmuwan mengatakan bukti dampak perubahan iklim terhadap pencairan es laut di Antartika – yang terkenal dengan variasi tahunan yang signifikan dalam pencairan musim panas dan pembekuan musim dingin – kurang jelas dibandingkan di kutub utara Arktik.

Yang tidak diragukan lagi adalah bahwa pemanasan global yang berkelanjutan yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca oleh manusia akan mempengaruhi pola-pola ini di masa depan.

De Pablo, yang telah mengabdikan 16 tahun hidupnya untuk mempelajari es Antarktika, mengatakan kepada AFP bahwa mungkin sudah terlambat untuk menghentikan tren tersebut. “Masalahnya adalah degradasi ini tidak mudah diatasi,” katanya.

“Bahkan jika saat ini kita (mengubah) ritme kehidupan masyarakat Barat, esok hari gletser tidak akan berhenti terdegradasi dan tanah beku tidak akan hilang,” dengan segala konsekuensinya.

Para ilmuwan memperkirakan suhu global secara keseluruhan sudah 1,2 derajat Celcius lebih panas dibandingkan suhu pra-industri. Perjanjian Paris pada 2015 menetapkan untuk membatasi pemanasan hingga 1,5 C dengan membatasi emisi yang menyebabkan pemanasan global.

“Kita harus bertanya pada diri kita sendiri apakah cara kita menjalani kehidupan sehari-hari benar-benar bermanfaat karena pada akhirnya kita akan kehilangan planet kita,” kata De Pablo.

“Tidak ada planet kedua di Bumi,” tambahnya. (Sumber:voaindonesia.com)

 

 

Berita Terkait

Semakin Memanas, Putin Telepon Presiden Iran Bahas Pascaserangan ke Israel
Legislator Barsel ini Minta Raperda STOK Perlu Dibahas Lebih Lanjut
Denny Indrayana Prediksi Putusan MK Soal Sengketa Pilpres 2024, Petitum Soal Gibran Paling Dilematis
Ketua DPRD Kalteng Apresiasi Jasa Para Habaib dalam Penyebaran Dakwah Islam
DPD PAN Barsel Buka Pendaftaran Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati, Catat Jadwalnya!
Usai ‘Dirty Vote’, Film Dokumenter ‘Dirty Election’ Siap Ungkap Kecurangan Teknologi Pemilu 2024
Rika Tolentino Kato, Istri Kedua Yusril Ihza Mahendra Ini Bak Gadis Usia 20-an
Usai Lebaran, Pertamina Pastikan Stok Gas 3Kg di Seluruh Indonesia Tak Akan Langka
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 17 April 2024 - 05:21 WIB

Semakin Memanas, Putin Telepon Presiden Iran Bahas Pascaserangan ke Israel

Selasa, 16 April 2024 - 08:30 WIB

Legislator Barsel ini Minta Raperda STOK Perlu Dibahas Lebih Lanjut

Selasa, 16 April 2024 - 06:41 WIB

Denny Indrayana Prediksi Putusan MK Soal Sengketa Pilpres 2024, Petitum Soal Gibran Paling Dilematis

Selasa, 16 April 2024 - 06:00 WIB

Ketua DPRD Kalteng Apresiasi Jasa Para Habaib dalam Penyebaran Dakwah Islam

Selasa, 16 April 2024 - 05:41 WIB

DPD PAN Barsel Buka Pendaftaran Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati, Catat Jadwalnya!

Senin, 15 April 2024 - 16:13 WIB

Usai ‘Dirty Vote’, Film Dokumenter ‘Dirty Election’ Siap Ungkap Kecurangan Teknologi Pemilu 2024

Senin, 15 April 2024 - 13:27 WIB

Rika Tolentino Kato, Istri Kedua Yusril Ihza Mahendra Ini Bak Gadis Usia 20-an

Senin, 15 April 2024 - 13:11 WIB

Usai Lebaran, Pertamina Pastikan Stok Gas 3Kg di Seluruh Indonesia Tak Akan Langka

Berita Terbaru

Tim bola voli Korea Selatan Red Sparks tiba di Jakarta (sumber: suara.com)

Olahraga

Tiba di Jakarta, Red Sparks Siap Hadapi Indonesia All Star

Rabu, 17 Apr 2024 - 05:16 WIB