1TULAH.COM-Apa yang salah dengan bangsa ini?! Di saat suara-suara lantang meneriakan anti politik dinasti atau nepotisme dalam pengelolaan Negara ini, ternyata jumlah masyarakat yang beranggapan kedua hal tersebut biasa-biasa saja masih sangat banyak.
Padahal, nepotisme merupakan salah satu amanat dan agenda yang diperjuankan pada gerakan reformasi tahun 1998, selain Korupsi dan Kolusi.
Setidaknya hal ini tergambar dari kesimpulan Lembaga survei Indikator Politik merilis hasil jajak pendapat soal isu dinasti politik yang belakangan ramai di masyarakat. Terlebih lagi setelah adanya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait syarat Calon Presiden dan Wakil Presiden.
Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi saat merilis hasil survei bertajuk ‘Efek Gibran dan Dinamika Elektoral Terkini’ secara virtual, Minggu (12/11/2023) mengatakan, putusan MK tersebut sebenarnya tak memantik kekhawatiran publik soal potensi politik dinasti.
Berdasarkan hasil survei, mayoritas publik menilai biasa saja terkait isu tersebut.
“Ada 42,9 persen masyarakat yang merasa isu politik dinasti tidak terlalu mengkhawatirkan, biasa saja,” ujar Burhanuddin kepada wartawan, Minggu (12/11/2023).
Sementara yang menilai khawatir dengan politik dinasti atas putusan MK, kata Burhanuddin, ada 39,2 persen. Namun, angka ini justru merupakan penurunan jika dibandingkan temuan Oktober.
“Pada rentang 16-20 Oktober, terdapat 47,9 persen yang merasa khawatir soal politik dinasi. Pada awal November, terjadi sedikit penurunan, menjadi 39,2 persen,” beber Burhanuddin.
Sebaliknya, persepsi publik yang tak mengkhawatirkan isu politik dinasti terjadi peningkatan. Jika semula 33,7 persen, kini naik menjadi 42,9 persen.
Pada temuan lain, mayoritas publik juga menilai politik dinasti tidak akan mengganggu demokrasi. Ini karena pesta demokrasi dilakukan secara langsung oleh rakyat.
“Sekitar 52,6 persen lebih berpendapat politik dinasti tidak menjadi persoalan selama masih melalui proses pemilu secara langsung oleh rakyat. Sementara yang berpendapat sebaliknya, masih cukup besar, mencapai 36,3 persen,” imbuh Burhanuddin.
Survei nasional Indikator dilakukan dalam rentang 27 Oktober – 1 November 2023, menempatkan 1.220 responden melalui Wawancara tatap muka, dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen. (Sumber:Suara.com)






![Helikopter CH-47 Chinook milik Jepang di Pelabuhan Kijing Mempawah belum bisa mengudara dengan misi membantu Kalbar hadapi karhutla hingga Senin (14/9/2026). [Diskominfo Mempawah]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/09/heli-jepang-225x129.jpg)


![Serah terima jabatan Menkeu Suahasil Nazara dan eks Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (15/9/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/09/purbaya-sertijab-225x129.jpg)





![Helikopter CH-47 Chinook milik Jepang di Pelabuhan Kijing Mempawah belum bisa mengudara dengan misi membantu Kalbar hadapi karhutla hingga Senin (14/9/2026). [Diskominfo Mempawah]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/09/heli-jepang-360x200.jpg)





![Helikopter Basarnas bersiap mendarat saat hari keempat operasi pencarian jurnalis dan awak kapal yang hilang kontak di Carita, Pandeglang, Banten, Jumat (11/9/2026). [ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/09/SAR-Jurnalis-360x200.jpg)


![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)

