Tanpa Adanya Regulasi, Teknologi Artificial Intelligence Bisa Jadi Ancaman Serius

- Jurnalis

Senin, 19 Juni 2023 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Situasi saat Johnson Chandra (kiri) dan Achmad Jerry (kanan) dari PHI dalam sesi

Situasi saat Johnson Chandra (kiri) dan Achmad Jerry (kanan) dari PHI dalam sesi "Green AI: Effective Approaches to AI Regulation" (09/06/2023) - Dokumentasi Foto milik PHI.

1TULAH.COM-Pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan belakangan ini, seolah membuat pekerjaan umat manusia sangat mudah dan terbantu. Tetapi benarkah demikian?

Pada 11 Juni 2023 lalu, di Incheon, Korea Selatan, lahir keputusan global untuk mengatur teknologi artificial intelligence (kecerdasan artifisial).

Keputusan ini terjadi dalam Global Greens Congress atau Kongres Kaum Hijau Sedunia.

Kongres ini merupakan ajang Partai Hijau sedunia dan organisasi pendukung politik hijau sedunia berkumpul dan bersepakat, untuk merespon perubahan-perubahan yang berdampak pada lingkungan dan kemanusiaan.

Aturan teknologi kecerdasan artifisial diinisiasi Partai Hijau Indonesia (PHI) bersama Partai Hijau Korea (GPK), bernomor R43, berjudul Resolusi Darurat untuk Regulasi yang Efektif pada Teknologi Kecerdasan Artifisial demi Demokrasi, Keberlanjutan dan Manfaat Sosial.

Setelah berhasil mendapat persetujuan dari peserta kongres yang melibatkan 84 negara dan 829 peserta, partai-partai hijau sedunia wajib memperjuangkan penerapannya di masing-masing negara dan kawasannya.

Johnson Chandra, salah satu delegasi PHI, yang juga merupakan pegiat teknologi informasi menyampaikan kabar gembira ini. “Kami senang karena:

Pertama, melalui Global Greens Congress, tata kelola teknologi kecerdasan artifisial berhasil dirintis dalam skala internasional, dan Indonesia bersama Korea Selatan merupakan mitra pengusul resolusinya.

Baca Juga :  Kemendagri Minta Kepala Daerah Hentikan Rekrut Staf Baru, Skema PPPK Paruh Waktu Berubah 2027

Kedua, terbukti tiga hari setelah lahirnya resolusi kami, tepatnya 14 Juni 2023, Parlemen Eropa akhirnya berhasil menyepakati aturan mereka untuk pertama kalinya.

Meskipun hanya urutan keempat dalam penguasaan kursi, Aliansi Partai Hijau Eropa mempunyai posisi penting dalam mekanisme voting di Parlemen Eropa.

Ketiga, ini sekaligus merupakan aksi ekstraparlementer kami pada Pemerintah Indonesia yang nampak lunak kepada perusahaan teknologi kecerdasan artifisial raksasa seperti Google, Tiktok dan OpenAI (ChatGPT), serta sekaligus kritik pada kebijakan nasional.”

Johnson yang merupakan sosok kunci dalam situs apakabar, penyebar berita-tanding di era akhir Orde Baru, juga menjelaskan mengapa teknologi kecerdasan artifisial wajib diawasi.

Menurutnya, “Tanpa kontrol yang demokratis, berkelanjutan dan memiliki manfaat sosial, maka kita – umat manusia – sangat rentan atas praktik penyalahgunaan data pribadi, pengendalian informasi palsu, pembatasan pengetahuan, dan secara keseluruhan merupakan ancaman serius pada kemanusiaan”.

Hal ini bisa terjadi karena teknologi kecerdasan artifisial mampu melakukan pengawasan massal (mass surveillance) yang dapat melanggar hak privasi, membatasi hak sipil dan politik, serta memicu praktik rezim totaliter. Mass surveillance berbeda dengan targeted surveillance (pengawasan yang ditargetkan) yang dianggap lebih lunak, membantu penanggulangan terorisme atau kerusuhan sosial, meski sering juga disalahgunakan dengan menyasar oposisi politik.

Baca Juga :  Bantah Masuk Islam, Roberto Carlos Ungkap Alasan Pernikahannya Gelar Tradisi Islami

Ancaman lainnya, kecerdasan artifisial mampu membuat sistem senjata otonom mematikan (lethal autonomous weapon system), senjata robotik dan robot pembunuh yang mampu menentukan dan menyerang sasarannya tanpa campur tangan manusia.

Sistem senjata otonom ini terbagi menjadi dua, yakni: sistem pertahanan otomatis dan sistem serangan otonom. Masalah dari sistem ini antara lain adalah sulitnya melakukan pembedaan antara warga sipil dan tentara,  serta menentukan siapa yang bertanggungjawab atas pembunuhan tertentu.

Merespon ancaman ini, Koordinator Kelompok Kerja Nasional Kebijakan Publik PHI Achmad Jerry yang juga menjadi peserta Global Greens Congress, mengajak para pegiat teknologi informasi di Indonesia untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan negara termasuk Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Indonesia 2020-2045.

“PHI berpegang pada enam prinsip politik hijau, yakni: kearifan ekologis, keadilan sosial, demokrasi partisipatoris, tanpa kekerasan, keberlanjutan dan penghargaan terhadap keberagaman. Prinsip-prinsip inilah yang membuat kami peduli pada masalah teknologi kecerdasan artifisial”, tegasnya. (Sumber: siaran pers/Adi)

Berita Terkait

Program MBG Pakai Bahan Baku Lokal: DPRD Kalteng Dukung SPPG Belanja di Koperasi Desa Merah Putih
Kabut Asap Kalteng Makin Pekat, DPRD Minta Dana Darurat Segera Dicairkan!
Santri Pondok Pasantren Sambut PAN Murung Raya untuk Salurkan Bantuan Logistik dan Santunan
Mini Turnamen Domino Orado: 4 Tim Unggulan tersingkir, Kuda Hitam AS melejit
KPK Didesak Usut Hasil Kebun Sawit Sitaan PT Agrinas Palma Nusantara, Potensi Kerugian Negara Triliunan Rupiah
KPK Ungkap Orang Tua Bayar Rp650 Juta agar Anak Masuk FK Unsoed
KPK Ungkap Rektor Unsoed Beli Tiga Bidang Tanah dari Uang Gratifikasi
Presiden Prabowo Tegaskan Sanksi Pidana Pembakar Lahan: 4 Korporasi di Kalbar Mulai Diselidiki
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:34 WIB

Program MBG Pakai Bahan Baku Lokal: DPRD Kalteng Dukung SPPG Belanja di Koperasi Desa Merah Putih

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:27 WIB

Kabut Asap Kalteng Makin Pekat, DPRD Minta Dana Darurat Segera Dicairkan!

Minggu, 23 Agustus 2026 - 14:29 WIB

Santri Pondok Pasantren Sambut PAN Murung Raya untuk Salurkan Bantuan Logistik dan Santunan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 12:34 WIB

Mini Turnamen Domino Orado: 4 Tim Unggulan tersingkir, Kuda Hitam AS melejit

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:10 WIB

KPK Ungkap Orang Tua Bayar Rp650 Juta agar Anak Masuk FK Unsoed

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:09 WIB

KPK Ungkap Rektor Unsoed Beli Tiga Bidang Tanah dari Uang Gratifikasi

Minggu, 23 Agustus 2026 - 06:11 WIB

Presiden Prabowo Tegaskan Sanksi Pidana Pembakar Lahan: 4 Korporasi di Kalbar Mulai Diselidiki

Minggu, 23 Agustus 2026 - 05:46 WIB

Tips Menata Dapur Sesuai Feng Shui Agar Rezeki Lancar dan Rumah Tangga Harmonis

Berita Terbaru