Islamofobia Tidak Ada di Indonesia, KH Nasaruddin: Kelompok Radikal Kerap Memutarbalikkan Narasi

- Jurnalis

Selasa, 5 Juli 2022 - 10:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta KH Nasaruddin Umar.foto suara.com

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta KH Nasaruddin Umar.foto suara.com

1TULAH.COM-Narasi Islamofobia kerap dijadikan oleh sejumlah ustaz maupun pendakwah untuk mendeskriditkan pemerintahan di Negara Republik Indonesia (NKRI).

Narasi yang terus diembuskan melalui mimbar-mimbar masjid maupun kajian-kajian keislaman ini, justru kerap memunculkan sikap-sikap radikalisme dan intoleransi.

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta KH Nasaruddin Umar menyebut, kelompok radikal kerap memutarbalikkan narasi yang menggiring opini masyarakat, seakan-akan pemerintah telah melakukan praktik Islamofobia.

“Islamofobia kan itu kelompok yang tidak mau Islam dan muslim berkembang, tidak ada itu di Indonesia. Bahkan kita punya Kementerian Agama dan lembaga lainnya yang mengatur dan mendukung jalannya kehidupan beragama di Indonesia. Masa ini Islamofobia, saya kira tidak tepat,” kata mantan wakil menteri agama itu.

KH Nasaruddin Umar mengungkap nyatanya praktik radikalisme, intoleransi, dan kebencian kerap terjadi di mimbar keagamaan.

Menurutnya praktik-praktik tersebut harus diakui supaya masyarakat bisa lebih waspada.

“Pertama, saya ingin berikan pernyataan bahwa itu ada, susah untuk mengatakan bahwa itu tidak ada. Persoalannya adalah bagaimana mengatasi agar ini tidak terus menerus terjadi,” kata Nasaruddin dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (4/7/2022).

Baca Juga :  Respons Kabut Asap Lintas Batas: Presiden Prabowo Bahas Tawaran Bantuan Malaysia untuk Penanganan Karhutla

Untuk mengatasi hal tersebut, lanjutnya, perlu upaya maksimal dan tepat, karena maraknya generasi muda penerus bangsa yang jatuh dalam jeratan narasi ideologi radikal dan terorisme sangat berbahaya bagi keberlangsungan bangsa dan eksistensi Pancasila sebagai pedoman bangsa.

“Kita perlu dekati, sebagai seorang bapak dan mereka adalah anak kita, rangkul mereka beri perhatian supaya energi mereka yang besar tersalurkan, agar tidak digunakan untuk memecah belah bangsa. Energi mereka itu jangan digunakan untuk menyerang orang, tapi untuk merangkul orang,” jelasnya dalam keterangan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Ia menilai penanganan korban dan pelaku narasi radikal dan intoleran di ruang agama harus dilihat sebagai faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kerentanan.

“Mungkin mereka melakukan hal itu karena faktor pengetahuan keagamaannya dan faktor historis lainnya,” sebutnya.

Baca Juga :  Atasi Kabut Asap Karhutla hingga Singapura, Pemerintah Indonesia Dampingi Aksi Lapangan dengan Diplomasi

Lebih lanjut, Nasaruddin menilai kalau pemerintah wajib untuk mempertahankan keutuhan NKRI. Terlebih selama ini imbauan serta temuan aparat terkait radikalisme dan upaya penanganan yang tidak tepat sering dikatakan sebagai Islamofobia.

“Oleh karenanya, saya kira penting bagi seseorang untuk memiliki pemahaman agama yang komprehensif, memperkuat akidah agar tidak mudah terpancing dan terprovokasi,” katanya.

Ia menilai upaya pemerintah selama ini patut diapresiasi, apalagi belakangan ini masyarakat dapat menikmati kehidupan yang aman dan damai dari tindak pidana terorisme.

“Selama ini kita bertahun-tahun menikmati kehidupan yang aman damai, itu kan karena ada sistem yang bekerja, bukan hal yang terjadi begitu saja,” tuturnya.

Nasaruddin berharap seluruh tokoh agama dan masyarakat dapat membekali umat dan pengikutnya agar tidak mudah terpengaruh paham radikal dan terorisme serta mengedepankan ilmu agama yang komprehensif.

“Jangan sampai karena persoalan subjektif kita lantas marah-marah, membenci. Jadi harus kedepankan objektivitas, itu kan cara Nabi.” (Dikutip dari suara.com)

Berita Terkait

Dua Emiten Haji Isam Jaminkan Saham Rp73 T ke Bank Mandiri, Ini Penjelasan Manajemen
2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kemerdekaan Pers dan Kriminalisasi Jurnalis Jadi Sorotan Dunia
Tingkatkan Ketepatan Data, Kemendagri Evaluasi Layanan Pengusulan Satyalancana Karya Satya PNS
Kabut Asap Karhutla Capai Timor Leste, ASEAN Didesak Gelar Rapat Darurat
Atasi Krisis Air Bersih hingga Infrastruktur, DPRD Kalteng Soroti Aspirasi Warga Gunung Mas
Profil dan Sosok Aisyah Thisia Halijam: Istri Gubernur Kalteng yang Jadi Sorotan Publik Usai Video Catwalk Viral di Tengah Bencana Karhutla
Perkuat Penegakan Hukum Karhutla, Kejagung dan Polri Bakal Gelar Rakor Terbatas
Luas Kebakaran Melonjak 69%, Mengapa Pemerintah Belum Tetapkan Status Bencana Nasional?

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 05:31 WIB

Dua Emiten Haji Isam Jaminkan Saham Rp73 T ke Bank Mandiri, Ini Penjelasan Manajemen

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:28 WIB

2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kemerdekaan Pers dan Kriminalisasi Jurnalis Jadi Sorotan Dunia

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:05 WIB

Kabut Asap Karhutla Capai Timor Leste, ASEAN Didesak Gelar Rapat Darurat

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:52 WIB

Atasi Krisis Air Bersih hingga Infrastruktur, DPRD Kalteng Soroti Aspirasi Warga Gunung Mas

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Profil dan Sosok Aisyah Thisia Halijam: Istri Gubernur Kalteng yang Jadi Sorotan Publik Usai Video Catwalk Viral di Tengah Bencana Karhutla

Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:51 WIB

Perkuat Penegakan Hukum Karhutla, Kejagung dan Polri Bakal Gelar Rakor Terbatas

Rabu, 14 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Luas Kebakaran Melonjak 69%, Mengapa Pemerintah Belum Tetapkan Status Bencana Nasional?

Rabu, 14 Oktober 2026 - 08:34 WIB

Reses DPRD Kalteng Dapil II: Infrastruktur, Layanan Dasar, dan Pertanian Jadi Aspirasi Utama Warga Kotim-Seruyan

Berita Terbaru