Merdeka Sinyal Dalam Dunia Serba Digital

- Jurnalis

Kamis, 2 September 2021 - 20:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teman saya, sebut saja namanya F pernah berseloroh dengan diselingi diksi serius; “Saya itu mending ketinggalan dompet atau isteri dibanding ketinggalan handphone. Entah kenapa kalo handphone yang tertinggal, dunia serasa ada yang kurang”, katanya.

Kita bisa saja menolak atau tertawa dengan narasi di atas. Tapi jika jujur, sepertinya itulah fakta yang terjadi saat ini. Dunia komunikasi dan informasi telah bertansformasi menjadi kebutuhan vital. Begitu alat ini lepas dari kita, dunia pun serasa tidak lagi berada dalam genggaman.

Bagaimana dengan orang-orang di tempat tertentu, yang bukan saja tidak mendapatkan HP atau gadget, tapi sinyal internetnya yang tidak ada? Ini menjadi masalah serius. Ketidakadilan atau ketidaksetaraan.

Artinya, pada tempat tertentu sebagian masyarakat kita tidak mendapat informasi dan pengetahuan yang cukup. Sementara di tempat lain mendapatkan surplus informasi akibat disrupsi teknologi informasi tadi. Apalagi di masa pandemi dan akan datang, ketika semua urusan hampir menggunakan teknologi digital dengan konsep artificial intellegence.

Tidak ada pilihan bukan? Satu-satunya cara adalah membiarkan jangkauan internet ini diperluas secara merata, sementara dampak negatifnya akan tetap kita kawal melalui literasi digital.

hal ini pula yang menjadi konsen utama pengentasan blankspot pada daerah terpencil, salah satunya di beberapa sudut daerah di Indonesia. Untuk itu Kementerian Komunikasi dan Informasi bersama pemerintah daerah setempat menentukan roadmap, bekerjasama dengan provider telekomunikasi milik BUMN, yaitu Telkomsel mengatasi problem ini.

Secara bertahap, tiga komponen ini melaksanakan survey melakukan validasi data desa-desa blankspot dan non 4G, sesuai usulan Diskominfo daerah ke Kementerian yang dikumpulkan melalui simpul kepala desa terisolir sinyal. Jika Singapura dan China serta beberapa negara maju lain sudah berada pada tahapan teknologi 5G bahkan hampir menuju 6G, kita dapat skala 4G saja sudah anugerah yang luar biasa.

Tahapan validasi, dimulai dari daerah yang berada di ujung luar dan blankspot total, lalu simultan mengarah ke desa-desa yang dekat dengan ibukota kabupaten. Hingga nanti semua desa pada daerah tervalidasi terbebas dari faktor blankspot.

Kenapa kita mengalami kendala? selain faktor biaya. Ini terjadi karena Indonesia  terdiri dari pulau-pulau dengan jangkauan dan jarak antar desa atau penduduk yang jauh. Ditambah lagi infrastruktur kita yang tidak terlalu baik, menjadikan tugas ini menjadi tantangan yang sangat menarik.

Banyak cerita luar biasa dari ketinggian Gunung Purei dan Teweh Timur di rimba futuristik alam Kalimantan Tengah ini. Terutama bahwa pembukaan akses internet juga bisa dikatakan adalah pintu pembuka keterisoliran. Masyarakat tentu tidak hanya butuh akses infrastruktur jalan dan jembatan saja, tapi juga butuh bisa mengakses semua informasi dan interaksi melalui dunia digital seperti masyarakat lain perkotaan yang sudah lama mendapatkan privilige itu.

Harapan ke depan, dengan pengentasan blankspot ini akses penyampaian aspirasi publik, dunia usaha, pendidikan, pemasaran komoditas pertanian dan perkebunan, literasi, dan keperluan internet intra pemerintah tentu akan menjadi salah satu indeks variabel pembentuk kemajuan desa di seluruh Indonesia.

Empat revolusi penting telah membentuk jalannya sejarah: Revolusi kognitif, mengawali sejarah kita sekitar 70.000 tahun lalu. Kemudian revolusi agrikultur, mempercepatnya sekitar 12.000 tahun lalu. Revolusi besar saintifik, mulai berjalan 500 tahun lalu. Puncaknya adalah revolusi teknologi informasi saat ini, kemungkinan besar akan mengakhiri sejarah dan memulai sesuatu yang benar-benar berbeda.

Keempat revolusi ini telah mempengaruhi manusia dan rekan-rekan organismenya. Tidak adil rasanya hanya sebagian kita saja yang menikmati akses revolusi keempat ini, sementara saudara-saudara kita yang lain semakin fakir dari derasnya arus informasi.

Logikanya sih, Indonesia tentu belum dikatakan merdeka sepenuhnya jika sinyal internet tidak bisa diakses wilayah terpencil dan terisolir. Tugas kita semua lah berjuang menuntaskannya. Bukankah kita tahu, setiap tempat itu memiliki pejuangnya masing-masing.

Berjuang itu tidak bersyarat kok, sebagaimana bahagia juga begitu.

| Artikel ini terbit di Kompasiana 01-09-2021

Penulis
Munawar Khalil
ASN Diskominfo Barito Utara
Mahasiswa Program Doktoral UM Malang

Berita Terkait

Memasuki Tahapan Pilkada Barito Utara 2024 Perkuat Netralitas ASN
Berikut Tanda-tanda Yang Terjadi 40 Hari Sebelum Meninggal Dalam Al Quran
Sejarah Seleksi Masuk PTN; SKASU hingga SBMPTN, Manakah yang Paling Berkeadilan
IKN Menuju Masa Depan Industri 4.0, Ini yang Harus Dipersiapkan
Pelaksanaan Kepemiluan yang Unik
Menumbuhkan Literasi dengan Membaca Karya Sastra, Emang Bisa….
Terbaru, Intip Persyaratan dan Cara Pembuatan Paspor secara Online serta Biaya
Sempat Menurun, Produksi dan Ekspor Karet Meningkat Kembali

Berita Terkait

Jumat, 31 Mei 2024 - 06:38 WIB

Memasuki Tahapan Pilkada Barito Utara 2024 Perkuat Netralitas ASN

Minggu, 28 Januari 2024 - 17:42 WIB

Berikut Tanda-tanda Yang Terjadi 40 Hari Sebelum Meninggal Dalam Al Quran

Kamis, 25 Mei 2023 - 09:23 WIB

Sejarah Seleksi Masuk PTN; SKASU hingga SBMPTN, Manakah yang Paling Berkeadilan

Minggu, 7 Mei 2023 - 10:25 WIB

IKN Menuju Masa Depan Industri 4.0, Ini yang Harus Dipersiapkan

Sabtu, 18 Maret 2023 - 18:08 WIB

Pelaksanaan Kepemiluan yang Unik

Sabtu, 28 Januari 2023 - 13:38 WIB

Menumbuhkan Literasi dengan Membaca Karya Sastra, Emang Bisa….

Kamis, 6 Oktober 2022 - 07:54 WIB

Terbaru, Intip Persyaratan dan Cara Pembuatan Paspor secara Online serta Biaya

Sabtu, 24 September 2022 - 21:06 WIB

Sempat Menurun, Produksi dan Ekspor Karet Meningkat Kembali

Berita Terbaru