Kasihan Desa Ini, Daerahnya Penghasil GAS, Tapi Masih Gelap Gulita

0
523

MUARA TEWEH,1tulah.com – Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, meski sebagai penghasil GAS, desa diwilayahnya banyak yang belum menikmati penerang listrik. Desa Malawaken III di Kecamatan Teweh baru, satu dari sekian banyak desa yang masih gelap gulita. Warga nya kurang lebih 25 tahun berharap, namun belum kunjung jua penerang listrik sampai di desa mereka

Sedikitnya 200 KK di daerah ini terpaksa pasrah, setiap malam tiba suasananya gelap gulita. Padahal jarak wilayah ini dengan ibukota Kabupaten, cuma sekitar 40 km atau ditempuh perjalanan 45 menit.

Malawaken III merupakan bagian dari Desa Malawaken, biasa disebut juga Malawaken Luar, berada di jalur strategis Jalan Negara Muara Teweh-Simpang Jingah-Benangin-Lampeong-Batas Kaltim, tepatnya mulai dari Km 1 sampai dengan Km 24.

Warga RT 08, Tampung Bungo, Malawaken III Memey mebgatakan, warga setempat belum menikmati aliran listrik sejak Dusun Malawaken III dibuka sekitar era 1995-an. Warga hanya mengandalkan lampu tempel atau bagi yang punya uang memasang listrik tenaga surya. “Memasang listrik tenaga surya pakai uang sendiri, harga alatnya Rp2,2 juta, ada yang lebih murah dan lebih mahal, tergantung daya,” ujar wanita yang sering disapa Mama Reza ini.

Warga RT 08 lainnya bernama Kasrini mengatakan, berkali-kali usulan disampaikan kepada pemerintah maupun pihak PLN, namun belum ada realisasi pemasangan listrik. Wilayah yang belum mendapatkan pelayanan listrik adalah RT 05, 06, 07, dan 08 di Malawaken. Sedangkan warga Malawaken I (Teluk Mayang) dan Malawaken II (Dalam) di RT 01, 02, 03, dan 04 yang berada di pinggir Sungai Barito sudah lama menikmati listrik.

Ketua RT 08 Kampung Tampung Bungo, Mihin membenarkan, warga di RT ini berjumlah sekitar 56 KK sudah tiga kali mengusulkan pemasangan jaringan listrik kepada PLN. Pertama pada tahun 2015, tetapi belum ada tindak lanjut sampai tahun 2019. Akibat tidak ada aliran listrik, pekerjaan merekap hasil ulangan dan kegiatan SDN 8 Malawaken harus diselesaikan di Muara Teweh, meskipun sekolah sudah mempunyai komputer.

“Jalur jalan negara ini tembus sampai ke jalan masuk Desa Sabuh, Liang Naga, Panaen, Gandring, dan Liang Buah Naga, sampai ke Kecamatan Teweh Timur dan Gunung Purei. Semua daerah ini perlu listrik,” kata Mihin.

Warga bernama Sri Utari mengatakan, sejak 2017 dirinya mengajukan pemasangan aliran listrik untuk rumah pribadi. Lalu disusul dengan daftar nama warga dari Km 01 sampai dengan Km 04 ke PLN Muara Teweh. Tetapi tidak ada tanggapan. “Saya selalu diminta bersabar dan tunggu, sehingga saya kembali ajukan ke PLN Cabang Kuala Kapuas. Eh, malah saya kena marah dari pihak terkait,” sebut wanita yang juga ASN guru ini.(Nie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here