KALSELĀ – One Village One Product (OVOP) atau produk unggulan kawasan pedesaan merupakan salah satu dari 4 pilar prioritas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonsia (Kemendes PDTT). Program OVOP berjalan beriringan dengan program Dana Desa yang tahun ini dialokasikan Rp 60 triliun.
Program OVOP dirintis kali pertama oleh Gubernur Oita Jepang tahun 1980, Morihiko Hiramatsu. Konsep ini sangat populer di seluruh dunia karena memungkinkan suatu daerah memiliki satu produk khas untuk dikembangkan dan menambah nilai jual. Penerapan OVOP juga dilakukan di Kabupaten Pandeglang, Banten.
Ketika berkunjung ke Pandeglang untuk menghadiri rakor bersama 1.170 kepala desa, Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa stan UMKM di sana, kemarin (6/4). Salah satunya adalah stand Deallova dari Desa Sukasari, Pandeglang, Banten yang menjual aneka alas kaki berbalut kain batik.
Pemilik Deallova, Subandi, mengaku tertarik dengan program OVOP karena menurutnya hanya Deallova yang menjual alas kaki unik itu.
“Kalau itu (program OVOP) belum ya karena memang di sini belum ada kesekretariatannya. Tapi kemarin sudah ada sosialisasi dari kecamatan,” jelas Subandi yang memulai bisnis Deallova sejak tahun 2014.
Produknya sendiri, kata Subandi, sudah merambah ke berbagai negara termasuk Singapura, Hongkong dan Malaysia. Tak hanya itu, produknya juga sudah menjadi langganan para pelaku hiburan alias artis dan pejabat karena keunikan dan kualitasnya.
“Bahkan, banyak juga pejabat atau artis yang ngasih kain ke kita, lalu kita yang bikin jadi sepatu,” kata Subandi.
Untuk bahan kain ukuran 1 meter, Subandi hanya bisa menghasilkan 3 pasang sepatu karena harus mencocokkan posisi motif agar sama di kedua belah sepatu. Sisa kainnya, kata dia, dimanfaatkan untuk membuat sandal jenis lain yang tidak membutuhkan motif terlalu banyak.
Kehadiran Mendes PDT Eko Putro juga mendapat antusias bagi warga desa lainnya. Warga melakukan panen raya Ikan Kerapu bersama Eko, dan memamerkan produk kearjinan baru khas daerah mereka.
“Awalnya, kami mengikuti pelatihan yang diadakan di kabupaten. Lalu tertarik untuk membuat kerajinan dengan bahan kerang-kerang yang bisa di dapat di sekitar sini,” ujar Ade Hidayat, salah satu anggota kelompok kerajinan Citeureup, Pandeglang.
Menurut Ade, awalnya anggota kelompok kerajinan yang terdiri dari 10 orang itu hanya memproduksi miniatur kapal pinisi dan bingkai foto.
“Lama kelamaan banyak juga jenisnya. Bagaiamana kreatifnya kita saja,” ujar Ade.
Selain memanfaatkan beragam bahan dari alam, proses pembuatan beragam produk masih mereka lakukan secara manual atau hand made. Dalam proses pembuatan semua produknya, Ade dan kawan-kawannya hanya bermodalkan sebilah pisau atau pun golok dan lem sebagai perekat.
“Makanya kan bentuknya juga kurang rapi. Tapi justru itu yang bikin unik. Karena enggak ada yang sama,” ujar Ade.
Ade berharap usaha yang baru dirintisnya selama satu bulan ini bisa terus berkembang dengan adanya OVOP. Ia dan kawan-kawannya sudah berkomitmen untuk fokus kepada produksi kerajinan tangan tersebut.
“Ya kami juga ingin daerah kami dikenal memiliki kerajinan khas, seperti daerah lain. Daerah kami ini potensinya bagus kok. Makanya coba kami kenalkan tapi baru melalui pameran-pameran seperti ini,” pungkas Ade.
Melalui OVOP, produsen di daerah akan mendapatkan bimbingan dan bantuan melalui kerja sama dengan BUMN terkait produk-produk unik yang mereka tawarkan. Dengan keunggulan yang dimiliki, maka produk tersebut dapat meningkatkan pendapatan bagi daerahnya, melalui kunjungan turis, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan ketrampilan SDM.

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here